Suara.com - Konflik global yang sedang terjadi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut memengaruhi harga plastik akibat terganggunya pasokan bahan baku.
Dilansir dari Good Stats (10/4/2026), kenaikan harga plastik mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 40 persen. Saat ini, harga plastik diperkirakan mencapai Rp.8.000, sebagaimana dilaporkan oleh Greenpeace Indonesia (10/4/2026)
Dengan adanya konflik global juga berpengaruh pada harga minyak dunia yang melonjak secara drastis, dimana bahan dasar dari plastik adalah bahan bakar fosil.
Dampaknya, sektor usaha yang bergantung pada plastik ikut terdampak. Banyak penjual yang sementara waktu tidak menyediakan plastik, atau terpaksa menaikkan harga jual untuk menutupi biaya produksi. Hal ini tentunya berimbas pada penjual maupun pembeli.
Meskipun terdengar negatif, kenaikan harga plastik ini juga menyimpan sisi positif yang dapat dimanfaatkan.
Reuse, Solusi Cerdas Agar Tidak Tercekik Harga
Saat harga plastik meningkat,diperlukan solusi agar aktivitas belanja tetap hemat. Salah satunya adalah dengan menggunakan barang yang dapat digunakan kembali. Misalnya, ketika pergi ke coffee shop, membawa botol minum sendiri agar tidak terkena cas dari coffee shop tersebut.
Sebuah survei dari Greenpeace Indonesia pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sebanyak 70 persen responden memilih beralih ke barang yang bisa digunakan kembali dan sistem isi ulang. Kenaikan harga plastik ini berpotensi mendorong lebih banyak masyarakat untuk mengadopsi kebiasaan tersebut.
Selain itu, beberapa tempat juga menyediakan diskon pelanggan yang membawa wadah makan atau minum sendiri. Tentunya, hal ini dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha lainnya sekaligus menciptakan solusi yang saling menguntungkan bagi penjual dan pembeli. Dimana penjual bisa mengurangi modal usaha dan pembeli bisa mendapatkan harga yang lebih murah.
Melepas Ketergantungan pada Plastik
Kenaikan harga plastik dapat menjadi dorongan bagi masyarakat untuk beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan. Secara Perlahan, hal ini dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap plastik dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menghemat pengeluaran, langkah ini juga berdampak positif bagi lingkungan.
Limbah plastik dapat berkurang secara signifikan, emisi karbon menurun, serta ketergantungan terhadap bahan bakar fosil akan semakin berkurang. Dalam kondisi seperti ini, justru dapat menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendorong masyarakat beralih ke gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan minim penggunaan plastik.
Pada akhirnya, kenaikan harga plastik tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat. Dengan mulai beralih ke gaya hidup minim sampah, kita dapat menghemat biaya dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
Penulis: Natasha Suhendra