Suara.com - Industri daur ulang di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan dengan potensi bisnis yang besar, terutama di sektor plastik.
Berdasarkan data Sustainable Waste Indonesia bersama Indonesian Plastic Recyclers, tingkat daur ulang plastik nasional tercatat cukup baik.
CEO dan Founder Kertabumi Recycling Center, Ikbal Alexander, menyebut industri ini masih sangat terbuka bagi pelaku usaha yang ingin masuk ke bisnis daur ulang.
“Kalau lihat dari tren, trennya growing, jadi potensinya besar. Jadi, buat teman-teman di luar sana yang mau terjun, silahkan. Sangat luas potensinya,” ucap Ikbal.
Selain itu, isu lingkungan yang semakin gencar disuarakan turut mendorong pertumbuhan industri ini. Semakin banyak perusahaan juga mulai mencari produk-produk ramah lingkungan sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan mereka.
Tantangan dari Industri Daur Ulang di Indonesia

Di balik tren yang meningkat, industri daur ulang masih menghadapi tantangan besar. Salah satunya, persepsi masyarakat yang menganggap produk dari bahan sampah harus murah dan berkualitas rendah.
Ikbal menyebut, konsumen Indonesia cenderung sangat sensitif terhadap harga dan kerap membandingkan produk daur ulang dengan produk baru.
“Tipe konsumen Indonesia itu sangat price sensitive kan, jadi nyari barang yang termurah. Melihat ekosistem daur ulang yang belum sempurna, jadi misalkan tas daur ulang belum bisa bersaing dengan tas biasa yang harganya sudah cukup affordable kan,” kata Ikbal.
Padahal, untuk menghasilkan satu produk berkualitas dari limbah, dibutuhkan proses produksi yang panjang. Sampah yang masuk harus dicuci bersih, dikeringkan, dan diolah dengan teknik tertentu selama kurang lebih dua hari untuk memastikan produk akhirnya higienis dan tahan lama.
“Banyak orang yang berpikir buang sampah itu gratis. Padahal, ketika sampah masuk ke sini, harus kami cuci, harus kami keringkan, dan kami olah. Untuk membuat produk baru, butuh listrik, semua butuh biaya. Jadi, buang sampah itu tidak bisa gratis karena pengolahannya membutuhkan biaya,” ujar Ikbal.
Biaya operasional yang tinggi, mulai dari penggunaan listrik hingga keterampilan tangan para pengrajin, membuat skala ekonomi produk daur ulang saat ini masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan produk hasil daur ulang cenderung menyasar pasar menengah ke atas (middle-up), yaitu konsumen yang memiliki kesadaran lingkungan sekaligus kemampuan finansial untuk menghargai proses dibalik produk tersebut.
“Kebanyakan produk daur ulang itu marketnya adalah middle up, karena produk yang kami produksi masih skala terbatas, sehingga cukup lebih mahal dibanding produk serupa, sehingga menargetkan pasar yang lebih atas,” tegasnya.
Sebagai penutup, Ikbal juga menekankan bahwa produk daur ulang seharusnya tidak dibeli karena rasa iba, melainkan karena kualitas fungsionalnya yang memang sebanding dengan produk baru. Ia juga mengingatkan bahwa ketika menjalani bisnis di bidang lingkungan jangan terlalu berorientasi pada profit.
“Bisnis di bidang lingkungan ya, jadi jangan terlalu profit oriented, karena di sini adalah kita mau mengabdi untuk lingkungan dan sosial kan, jadi usahakan motivasi itu yang selalu jadi utama. Profit akan datang mengikuti, tapi tetap visinya adalah membuat lingkungan lebih bersih lagi,” katanya.