Suara.com - Bagi Gen Z di Indonesia, membeli pakaian tak lagi sekadar soal kebutuhan, melainkan juga pilihan nilai.
Mereka semakin mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial dari setiap produk yang dibeli. Belakangan hal ini dikenal sebagai conscious consumption.
Urgensi gerakan ini semakin terlihat. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, limbah tekstil menyumbang 2,63 persen dari total limbah yang ada di Indonesia.
Angka ini menunjukkan bahwa industri fashion memiliki kontribusi nyata terhadap masalah lingkungan, sehingga perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu cara untuk menekannya.
Belanja Dengan Hati Nurani
![Ilustrasi Fast Fashion [pexels.com]](https://media.suara.com/pictures/original/2025/02/06/55281-ilustrasi-fast-fashion-pexelscom.jpg)
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Deloitte pada tahun 2025, sebanyak 65 persen responden gen Z bersedia membayar lebih untuk membeli produk ramah lingkungan. Hal ini menandakan adanya pergeseran nilai, di mana harga bukan lagi satu-satunya pertimbangan utama bagi para gen Z.
Loyalitas konsumen gen Z kini semakin bergantung pada sejauh mana sebuah brand mampu membuktikan komitmennya terhadap keberlanjutan. Selain kesedian untuk membayar lebih, gen Z juga sangat kritis terhadap transparansi rantai pasok sebuah brand. Bahkan, para gen Z juga tidak ragu untuk meninggalkan brand yang tidak sejalan dengan nilai keberlanjutan.
Kondisi ini sering kali dimanfaatkan berbagai brand untuk mempromosikan barang-barang mereka dengan embel-embel ramah lingkungan. Padahal belum ada bukti nyata. Hal itu biasa dikenal dengan istilah greenwashing.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, gen Z cenderung melakukan riset mendalam di media sosial untuk memastikan bahwa klaim greenwashing bukan sekadar strategi pemasaran di sosial media.
Kekuatan Suara Digital dan Transparansi
Di era digital, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana untuk menyebarkan informasi, termasuk informasi mengenai gerakan conscious consumption. Data dari good stats menunjukkan bahwa mayoritas gen Z menghabiskan waktu mereka di media sosial, sehingga platform ini menjadi medium efektif dalam membangun kesadaran kolektif.
Selain itu, media sosial juga menjadi ruang kampanye dan edukasi. Salah satu contohnya, adalah gerakan dari Zero Waste Indonesia melalui kampanye #tukar baju, yang bertujuan untuk mengurangi limbah fashion di Indonesia.
Di sisi lain, media sosial berfungsi sebagai alat advokasi yang kuat. Banyak pengguna yang secara aktif menyuarakan kritik terhadap brand yang tidak ramah lingkungan, sekaligus menuntut transparansi dan tanggung jawab atas dampak dari proses produksi mereka.
Gaya hidup conscious consumption yang semakin banyak dijalani oleh gen Z, membuat dampak yang positif bagi lingkungan. Jika terus berkembang, gerakan conscious consumption bisa menjadi titik terang dari permasalahan limbah tekstil yang ada di Indonesia dan mendukung industri fashion menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Penulis: Natasha Suhendra