Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI

Ruth Meliana

Rabu, 15 April 2026 | 09:11 WIB
Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI
ilustrasi stop objektifikasi perempuan (freepik/wayhomestudio)
baca 10 detik
  • Objektifikasi perempuan merupakan perlakuan terhadap perempuan sebagai objek fisik yang mereduksi martabat, hak asasi, dan otonomi individu tersebut.
  • Sebanyak 16 mahasiswa FH UI melakukan pelecehan seksual verbal terhadap 27 korban melalui grup percakapan pada April 2026.
  • Dampak objektifikasi memicu gangguan kesehatan mental serta menuntut adanya pendidikan kesetaraan dan sanksi tegas bagi para pelaku pelecehan.

Suara.com - Objektifikasi perempuan adalah salah satu bentuk diskriminasi gender yang paling halus sekaligus berbahaya.

Secara sederhana, objektifikasi terjadi ketika seorang perempuan diperlakukan bukan sebagai manusia utuh yang memiliki pikiran, perasaan, kehendak, dan martabat, melainkan hanya sebagai “objek” yang dinilai berdasarkan penampilan fisik dan daya tarik seksual semata.

Menurut teori objektifikasi yang dikembangkan oleh filsuf Martha Nussbaum, praktik ini mencakup beberapa ciri utama: perempuan dipandang sebagai alat, tidak memiliki otonomi sendiri, bahkan dianggap bisa “dimiliki” atau “dikonsumsi” oleh orang lain.

Akibatnya, nilai seorang perempuan direduksi hanya pada tubuhnya—payudaranya, pinggulnya, wajahnya—sementara kecerdasan, kepribadian, dan hak asasinya diabaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, objektifikasi muncul dalam berbagai bentuk. Contohnya iklan yang memamerkan tubuh perempuan untuk menjual produk, lelucon cabul di tempat kerja, komentar “puji-pujian” yang sebenarnya merendahkan, hingga konten media sosial yang mengunggah foto perempuan hanya untuk dinilai “hot” atau tidak.

Dampaknya sangat nyata. Perempuan yang terus-menerus diobjektifikasi cenderung mengalami self-objectification, yaitu menilai diri sendiri dari sudut pandang orang lain. Hal ini memicu kecemasan tubuh, gangguan makan, depresi, dan bahkan menurunkan kepercayaan diri dalam karier maupun pendidikan.

Kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pada April 2026 menjadi cermin paling ironis sekaligus menyedihkan dari objektifikasi perempuan di lingkungan akademik.

Sebanyak 16 mahasiswa FH UI angkatan 2023 diduga melakukan pelecehan seksual verbal melalui grup chat WhatsApp dan LINE. Mereka saling berbagi komentar mesum, mengomentari tubuh mahasiswi, bahkan dosen perempuan, seolah-olah para korban hanyalah objek fantasi seksual.

Jumlah korban tercatat mencapai 27 orang yang terdiri dari 20 mahasiswa dan 7 dosen. Percakapan tersebut akhirnya bocor ke publik melalui tangkapan layar, yang langsung memicu kemarahan civitas akademika.

baca juga

Ironinya, para pelaku adalah mahasiswa Fakultas Hukum. Mereka yang seharusnya paling paham tentang hak asasi manusia, Undang-Undang TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual), dan etika profesi.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FH UI langsung mengecam keras, mencabut keanggotaan aktif Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) bagi ke-16 pelaku, dan mendesak kampus menjatuhkan sanksi maksimal termasuk drop out (DO).

Kasus FH UI mengingatkan kita bahwa objektifikasi perempuan bukanlah “hal biasa” atau “guyonan”. Ketika mahasiswa hukum—calon penegak hukum—sudah terbiasa memperlakukan perempuan sebagai objek, maka bagaimana mungkin mereka kelak bisa melindungi korban kekerasan seksual di masyarakat?

Untuk mencegah objektifikasi perempuan, diperlukan pendekatan holistik. Pertama, pendidikan gender dan kesetaraan harus menjadi mata kuliah wajib sejak SMA hingga perguruan tinggi.

Kedua, kampus harus memiliki mekanisme pelaporan pelecehan yang cepat, rahasia, dan tanpa stigma. Ketiga, orang tua dan media perlu berhenti mengajarkan anak laki-laki bahwa nilai perempuan terletak pada penampilan fisik.

Terakhir, setiap individu—terutama laki-laki—harus belajar melihat perempuan sebagai rekan setara, bukan objek.

Kasus 16 mahasiswa FH UI bukan akhir dari objektifikasi perempuan, melainkan alarm keras. Jika calon-calon intelektual terbaik negeri ini saja masih terjebak pola pikir patriarki, maka perubahan budaya harus dimulai sekarang juga. Perempuan bukan objek. Perempuan adalah manusia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?

Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:55 WIB

16 Nama Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual ke 27 Orang

16 Nama Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual ke 27 Orang

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:41 WIB

Kronologi Lengkap 16 Mahasiswa FH UI Lakukan Pelecehan Seksual ke 27 Korban

Kronologi Lengkap 16 Mahasiswa FH UI Lakukan Pelecehan Seksual ke 27 Korban

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:22 WIB

Terkini

Jelang Musim Tanam, Produksi Petrokimia Capai 6,59 Juta Ton hingga September

Jelang Musim Tanam, Produksi Petrokimia Capai 6,59 Juta Ton hingga September

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:55 WIB

SPYAIR Resmi Rilis Album BEST OF ANIME: 16 Years of SPYAIR Anime

SPYAIR Resmi Rilis Album BEST OF ANIME: 16 Years of SPYAIR Anime

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:54 WIB

Percikan Korsleting Mobil Hanguskan 5 Rumah di Lampung Barat, Kerugian Miliaran

Percikan Korsleting Mobil Hanguskan 5 Rumah di Lampung Barat, Kerugian Miliaran

Lampung | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:53 WIB

Anwar Abbas Jadi Saksi Meringankan Yaqut: Beliau Punya Tanggung Jawab Besar

Anwar Abbas Jadi Saksi Meringankan Yaqut: Beliau Punya Tanggung Jawab Besar

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:51 WIB

SPF di Cushion Purbasari Berapa? Cek Tingkat Perlindungannya

SPF di Cushion Purbasari Berapa? Cek Tingkat Perlindungannya

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Investor Muda Belajar Trading dari Medsos, OJK Mulai Perketat Influencer Keuangan

Investor Muda Belajar Trading dari Medsos, OJK Mulai Perketat Influencer Keuangan

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Timnas Indonesia U-15 Mengamuk di Piala Dunia U-15 2026, Panama Tak Berdaya

Timnas Indonesia U-15 Mengamuk di Piala Dunia U-15 2026, Panama Tak Berdaya

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:38 WIB

Pemkot Pekanbaru Tempatkan PPPK Paruh Waktu di Setiap RW

Pemkot Pekanbaru Tempatkan PPPK Paruh Waktu di Setiap RW

Riau | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:36 WIB

Turun ke Jalan Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Sasar Istana

Turun ke Jalan Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Sasar Istana

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Sering Dipakai untuk Diet, Apa Perbedaan Stevia dengan Gula Biasa?

Sering Dipakai untuk Diet, Apa Perbedaan Stevia dengan Gula Biasa?

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:32 WIB

×