Di Balik Murahnya Fast Fashion: Ada Harga Mahal bagi Lingkungan dan Pekerja yang Tak Dibicarakan

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 24 April 2026 | 11:55 WIB
Di Balik Murahnya Fast Fashion: Ada Harga Mahal bagi Lingkungan dan Pekerja yang Tak Dibicarakan
Ilustrasi fast fashion (Pexels/Himanshu Singh)

Suara.com - Dalam dua dekade terakhir, industri fast fashion menjadi sektor yang sangat besar dan berkembang pesat. Data menunjukkan bahwa jumlah pakaian baru yang diproduksi setiap tahunnya hampir meningkat dua kali lipat, seiring dengan konsumsi fesyen global sebesar 400%.

Model bisnis fast fashion kini beroperasi dengan mengandalkan kecepatan produksi untuk mengikuti tren pasar. Sebagai ilustrasi skala operasional, perusahaan besar seperti Shein diperkirakan mengunggah sekitar 1.000 model pakaian baru ke platform mereka setiap harinya.

Dengan rata-rata jumlah pakaian yang diproduksi berkisar antara 50 hingga 100 potong untuk setiap model, estimasi jumlah pakaian baru yang dihasilkan mencapai minimal 50.000 unit dalam satu hari.

Dampak Terhadap Lingkungan

Proses produksi pakaian berskala masif ini menghasilkan limbah di setiap tahap manufakturnya. Industri fesyen cepat saji tercatat sebagai kontributor signifikan terhadap krisis iklim. Mereka menyumbang hingga 10% dari total emisi karbon dioksida global.

Secara tidak langsung, industri ini juga harus bertanggung jawab terhadap kerusakan habitat dan lahan. Tekstil berbahan dasar hewan, seperti wol, berkaitan dengan emisi gas rumah kaca, polusi air, hilangnya habitat secara luas akibat deforestasi dan konversi lahan penggembalan.

Selain itu, wol umumnya dicampur dengan serat dari bahan bakar fosil yang dilapisi dengan bahan kimia. Ini dapat menambah beban biaya lingkungan dari produksi dan pembuangan pakaian. Dari pembuangan pakaian, fast fashion dapat menjadi sumber mikroplastik di tengah lautan saat bahan-bahan berbasis plastik murah yang digunakan, melepaskan seratnya ke lautan.

Pola Konsumsi dan Manajemen Limbah

Meskipun terdapat peningkatan permintaan dan konsumsi, data menunjukkan adanya tren di mana masyarakat membeli pakaian dalam jumlah lebih banyak namun intensitas penggunaannya rendah, sehingga kebanyakan orang hanya suka membeli hingga lupa bahwa mereka memiliki pakaian tersebut.

baca juga

Kualitas produk fast fashion yang cenderung terbatas berkontribusi pada pendeknya masa pakai pakaian. Akibatnya, pakaian-pakaian ini lebih sering berakhir di tempat pembuangan akhir dan mengalami pembusukan lambat, dibuang ke laut/sungai, atau dimusnahkan dengan cara dibakar.

Kondisi Tenaga Kerja

Selain aspek lingkungan, operasional industri fast fashion juga melibatkan struktur tenaga kerja di negara-negara berpenghasilan rendah. Pekerja di sektor manufaktur pakaian, terutama perempuan muda, kini dihadapkan pada kondisi kerja yang berbahaya dengan risiko keselamatan tinggi serta menerima upah yang tidak layak. Eksploitasi ini terjadi demi perusahaan-perusahaan yang ingin mendapatkan keuntungan besar.

Status Keberlanjutan

Walaupun keberlanjutan menjadi isu yang sering diangkat oleh pihak industri maupun konsumen dalam hal fesyen, tapi data menunjukkan bahwa pasar fast fashion terus berkembang. Hingga saat ini, model bisnis yang mengutamakan produksi massal dan kecepatan ini masih beroperasi kian masif dengan skala yang terus meningkat.

Untuk mengubahnya, ini perlu perhatian khusus dari para konsumen dan pemilik industri itu sendiri untuk menggeser narasi dari kemewahan yang melekat pada konsumsi berlebihan menuju fesyen yang menjunjung tinggi keberlanjutan dan keadilan.

Konsumen dapat mengurangi intensitas pembelian pakaian, sementara pemilik industri bisa lebih memikirkan kembali kualitas pakaian yang dijual agar lebih tahan lama, disesuaikan juga dengan harga jualnya.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Hasilkan 1,9 Juta Ton E-Waste: Mengapa Pengelolaannya Tertinggal?

Indonesia Hasilkan 1,9 Juta Ton E-Waste: Mengapa Pengelolaannya Tertinggal?

Lifestyle | Jum'at, 24 April 2026 | 11:13 WIB

Penelitian Ungkap 98 Persen Klaim Lingkungan Perusahaan Daging Adalah Greenwashing

Penelitian Ungkap 98 Persen Klaim Lingkungan Perusahaan Daging Adalah Greenwashing

News | Jum'at, 24 April 2026 | 11:30 WIB

Tren Mobil Listrik Murah Mulai Gerus Pasar MPV Konvensional di Indonesia

Tren Mobil Listrik Murah Mulai Gerus Pasar MPV Konvensional di Indonesia

Otomotif | Kamis, 23 April 2026 | 18:45 WIB

Terkini

Pekerja Migran Indonesia di Singapura Dipenjara 3 Tahun usai Pukuli Anak Berkebutuhan Khusus 23 Kali

Pekerja Migran Indonesia di Singapura Dipenjara 3 Tahun usai Pukuli Anak Berkebutuhan Khusus 23 Kali

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA

Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:30 WIB

BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya

BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya

Jawa Tengah | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:29 WIB

2 Pria Sulap Kandang Ayam Jadi Gudang Narkoba di Deli Serdang, 18 Kg Ganja Disita

2 Pria Sulap Kandang Ayam Jadi Gudang Narkoba di Deli Serdang, 18 Kg Ganja Disita

Sumut | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:29 WIB

Nera Susanto Adik Eks Kepala BNPB Suharyanto Diperiksa KPK Terkait Kasus Korupsi Dana Bencana

Nera Susanto Adik Eks Kepala BNPB Suharyanto Diperiksa KPK Terkait Kasus Korupsi Dana Bencana

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:27 WIB

Obral Akun WA Rp500 Perak, Hacker Asal Krian Raup Rp100 Juta untuk Promosi Judol Kamboja

Obral Akun WA Rp500 Perak, Hacker Asal Krian Raup Rp100 Juta untuk Promosi Judol Kamboja

Jatim | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:26 WIB

Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida

Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida

Bali | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:21 WIB

Bagaimana Cara Mengecek BPJS Kesehatan Aktif atau Tidak?

Bagaimana Cara Mengecek BPJS Kesehatan Aktif atau Tidak?

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI

Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:18 WIB

BRI Raih The Finance Golden Star Award 2026, Perkuat Transformasi Digital dan Pemberdayaan UMKM

BRI Raih The Finance Golden Star Award 2026, Perkuat Transformasi Digital dan Pemberdayaan UMKM

Batam | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:16 WIB

×