- Lo Kheng Hong sukses meraup untung miliaran rupiah dari penjualan saham emiten SIMP.
- Mengawali karier dari pegawai tata usaha, ia membuktikan ketekunan berinvestasi bisa mendatangkan kekayaan.
- Meski berstatus konglomerat, gaya hidupnya tetap sangat sederhana dan jauh dari pamer kemewahan.
Suara.com - Aksi jual beli saham emiten sawit milik Salim Grup kembali memanas setelah investor kawakan Le Kheng Hong melepas kepemilikannya. Mari kita bedah profil Lo Kheng Hong, sosok jenius yang baru saja meraup untung miliaran rupiah dari transaksi tersebut.
Seperti diketahui, Lo Kheng Hong menjual 1,37 juta saham di harga Rp925 per lembar dan 6,81 juta saham di harga Rp920 per lembar. Sehingga total saham yang dijual adalah sebanyak 8,18 juta lembar.
Penjualan saham tersebut membuat porsi saham Lo Kheng Hong di SIMP turun menjadi 4,97% atau setara 771,01 juta lembar, dari sebelumnya 5,03%.
Kisah Lo Kheng Hong
Banyak orang hanya terpukau pada kemewahan hasil akhirnya tanpa tahu masa lalu kelam sang maestro pasar modal. Faktanya, pria berjuluk Warren Buffett Indonesia ini justru pernah rugi telak saat pertama kali bermain saham.
Ia kini membuktikan bahwa kebebasan finansial sejati bisa diraih murni dari kursi bersantai di rumah. Tidak perlu gedung kantor mewah atau ribuan karyawan untuk mencetak cuan hingga ratusan persen.
![Lo Kheng Hong [UNAS.AC.ID]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/30/34985-lo-kheng-hong.jpg)
Masa Kecil Suram Sang Konglomerat
Lahir dari keluarga serba kekurangan pada 20 Februari 1959, hidupnya dulu jauh dari kata nyaman. Dilansir dari Pina.id, Ia bahkan terpaksa menunda bangku perkuliahan karena kondisi finansial keluarganya yang sedang terpuruk.
Demi menyambung asa, ia rela bekerja sebagai tenaga administrasi rendahan di Overseas Express Bank. Barulah pada usia 20 tahun, ia nekat mendaftar jurusan Sastra Inggris sambil terus bekerja keras.
Jatuh Bangun Menembus Pasar Modal
Perjalanan investasinya baru dimulai pada usia 30 tahun dengan modal hasil menyisihkan gaji pas-pasan. Tragisnya, saham pertamanya langsung anjlok dan memaksanya menelan kerugian yang sangat menyakitkan.
Namun, kegagalan itu justru menjadi bahan bakar utamanya untuk mempelajari pasar modal lebih tajam. Kariernya di bank perlahak menanjak hingga ia berani memutuskan pensiun dini pada tahun 1996.
Jurus Jitu Mencetak Cuan Fantastis
Fokus penuh di dunia saham membuatnya makin jeli membaca peluang dari perusahaan yang dipandang sebelah mata. Keuntungan legendarisnya tercipta saat ia berhasil meraup untung 12.500 persen dari saham emiten MBAI.
Kesuksesan serupa terulang pada saham PNLF yang memberinya keuntungan bersih hingga angka Rp136 miliar. Portofolionya kini terus menggemuk di berbagai perusahaan raksasa yang bermodal triliunan rupiah.