- Tren wisata bergeser menuju mindful travel yang mengutamakan ketenangan untuk memulihkan kesehatan mental akibat tekanan gaya hidup modern.
- Pakar mengusulkan destinasi sanctuary ideal untuk fokus pada restorasi lingkungan dan alam.
- Pengembangan pariwisata masa kini harus mengutamakan kualitas lingkungan sebagai aset berkelanjutan dibandingkan sekadar membangun fasilitas fisik yang masif.
Suara.com - Belakangan ini, tren pariwisata perlahan bergeser dari sekadar sightseeing atau mengunjungi destinasi populer yang padat merayap, menuju konsep mindful travel atau wisata berkesadaran. Wisatawan modern kini lebih mendambakan sebuah sanctuary—sebuah tempat perlindungan yang tenang untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan ekspektasi yang memicu stres.
Gaya liburan ini sangat lekat dengan filosofi slow travel. Alih-alih mengejar itinerary yang padat dari satu tempat ke tempat lain, pelancong memilih untuk menetap lebih lama, mempraktikkan detoks digital, dan menikmati ritme alam yang lebih lambat.
Mengunjungi sebuah sanctuary menawarkan manfaat yang jauh lebih mendalam daripada sekadar relaksasi fisik semata. Berbagai riset psikologi lingkungan menunjukkan bahwa menyatu dengan alam—seperti mendengarkan deburan ombak atau melakukan forest bathing (berjalan santai di tengah pepohonan)—dapat menurunkan kadar kortisol atau hormon stres secara signifikan.
Secara mental, berada di ruang yang asri dan tenang sangat efektif untuk menjernihkan pikiran, mengurangi kecemasan, serta memulihkan fokus (restorasi kognitif) yang kerap terkuras habis oleh gaya hidup modern dan hustle culture. Berlibur di sanctuary adalah investasi pada kesehatan mental agar seseorang bisa kembali ke realitas dengan energi dan perspektif yang baru.
Kebutuhan akan ruang jeda yang memulihkan ini terasa makin mendesak di tengah bayang-bayang ketidakpastian global saat ini. Rentetan isu berat mulai dari perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, hingga krisis iklim yang makin nyata, membuat banyak orang merasa kehilangan kepastian mengenai masa depan pekerjaan dan kehidupan mereka. Di tengah situasi yang rentan tersebut, pencarian akan sanctuary yang menawarkan rasa aman, kenyamanan, dan kedekatan dengan alam menjadi sebuah keharusan.
Merespons fenomena ini, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, Chairman of PATA (Pacific Asia Travel Association) Indonesia Chapter, menyoroti bahwa Indonesia menyimpan banyak kawasan yang berpotensi menjadi sanctuary ideal. Salah satu primadonanya adalah Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten.
Sebagai kawasan wisata terintegrasi seluas 1.500 hektare yang lokasinya cukup dekat dari hiruk-pikuk Jakarta, Tanjung Lesung menyajikan paket pemulihan yang lengkap, mulai dari wisata air, darat, udara, hingga wisata budaya.
Pariwisata Berkesadaran: Mengubah Paradigma
Lebih dari sekadar destinasi liburan akhir pekan, kawasan sanctuary mewakili pergeseran cara pandang manusia terhadap pembangunan. "Kalau model pembangunan abad ke-20 sebagian besar didorong dengan pemanfaatan sumber daya (alam), model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," jelas SD Darmono di Jakarta baru-baru ini.
Dalam kacamata baru ini, alam yang sehat tidak lagi dianggap sebagai hambatan bagi pembangunan, melainkan aset penting bagi masa depan. Keberhasilan sebuah destinasi tidak lagi diukur dari seberapa banyak bangunan atau fasilitas megah yang didirikan, melainkan dari seberapa baik kualitas lingkungan tersebut dipertahankan.
Pantai yang bersih, terumbu karang yang sehat, hutan yang terjaga, dan budaya lokal yang hidup justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan saat ini. "Ketika wisatawan menghargai pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup, maka ekonomi akan memberikan insentif untuk menjaga semuanya," ujar SD Darmono.
Pendekatan ini menyadarkan kita bahwa pariwisata yang dikelola dengan baik bukan lagi industri yang sekadar mengonsumsi, melainkan kekuatan konservasi dan instrumen untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya.
Tumbuh Bersama Alam
Tanjung Lesung memiliki peluang unik karena kawasan ini berkembang tepat di saat dunia sedang mencari model baru pembangunan. Kawasan ini memiliki kesempatan emas untuk menghindari kesalahan yang kerap dilakukan oleh destinasi wisata massal lainnya di dunia. Alih-alih mengejar kuantitas dengan membangun sebanyak mungkin demi mendatangkan wisatawan dalam jumlah masif, pengembangannya dapat dilakukan secara lebih terukur dengan berfokus pada kualitas pengalaman.
Ketimbang menguras sumber daya alam demi keuntungan jangka pendek, Tanjung Lesung bisa menjadikan alam sebagai mitra pembangunan yang setara. “Dengan hadirnya akses Jalan Tol Serang–Panimbang yang segera rampung, Tanjung Lesung tidak hanya menjadi lebih dekat secara geografis. Tanjung Lesung menjadi lebih relevan dengan kebutuhan dunia saat ini,” urai Darmono.
Pada akhirnya, investasi yang memberikan makna terdalam di masa depan bukanlah sekadar yang menghasilkan keuntungan finansial, melainkan yang mampu menciptakan nilai bagi masyarakat dan pelestarian bumi. Kehadiran ruang-ruang sanctuary seperti Tanjung Lesung menghadirkan harapan bahwa di abad ke-21 ini, pembangunan manusia dan konservasi alam sejatinya bisa tumbuh dan berjalan secara beriringan.