- Isu PHK 80 persen karyawan Toba Pulp Lestari mencuat pascapencabutan izin operasional hutan.
- Kemenangan bagi pelestarian lingkungan Danau Toba berujung pahit bagi ribuan pekerja lapangan lokal.
- Saham mayoritas INRU dikuasai oleh Allied Hill Limited milik pengusaha Joseph Oetomo sejak 2025.
Suara.com - Kabar mengejutkan datang dari PT Toba Pulp Lestari yang bersiap melakukan PHK terhadap 80 persen karyawan pada pertengahan Mei mendatang.
Berikut rangkuman profil serta akar masalah dari krisis yang menimpa raksasa bubur kertas tersebut.
Pencabutan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) awal tahun ini menjadi palu godam bagi perusahaan.
Keputusan tegas pemerintah ini diambil usai maraknya isu kerusakan lingkungan dan banjir bandang di Sumatera.
Tragedi ini memunculkan ironi yang tajam di tengah masyarakat lokal. Saat warga adat sekitar Danau Toba merayakan kemenangan pelestarian alam, ribuan pekerja kecil justru kehilangan periuk nasi.
Masa Lalu Kelam Inti Indorayon
Perusahaan ini bukanlah pemain baru di industri kehutanan Tanah Air. Berdiri sejak 26 April 1983, mereka awalnya dikenal publik dengan nama PT Inti Indorayon Utama Tbk berdasarkan laman resmi tobapulp.com.
Tokoh di balik berdirinya raksasa pulp ini adalah pengusaha nasional Sukanto Tanoto. Pabrik utama mereka berdiri megah di Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba.
Operasional awal berfokus memproduksi bubur kertas dan serat rayon dari eukaliptus. Mereka kemudian resmi melantai di bursa saham dengan kode INRU pada 16 Mei 1990.

Gejolak Berdarah dan Era Baru
Catatan sejarah perusahaan ini nyatanya tidak selalu berjalan mulus. Konflik lahan dengan warga sekitar meledak tajam tepat pascaruntuhnya rezim Orde Baru.
Tragedi kelam terjadi pada 1999 melalui bentrokan berdarah antara masyarakat, pekerja, dan aparat.
Situasi ini sempat membuat Presiden Abdurrahman Wahid berencana menutup paksa operasional pabrik.
Namun, besarnya tekanan investasi asing akhirnya menyelamatkan nasib perusahaan pada tahun 2000. Syarat yang diberikan cukup ketat, yakni menghentikan total jalur produksi rayon.
Melalui RUPS pada 15 November 2000, nama perusahaan resmi diubah menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk. Pabrik kembali mengepul pada 2003 dengan janji pemakaian teknologi yang lebih ramah lingkungan.