Suara.com - Kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek PLB 4B relasi Gambir-Surabaya mengungkap sejumlah fakta krusial, mulai dari gangguan sistem perkeretaan, perlintasan kereta api hingga menyeret Taksi Green SM.
Penyebab utama dari insiden paling memilukan sepanjang 2026 ini mulai terkuak satu per satu, setelah mencium adanya gangguan sistem perkeretaan, fakta lain menunjukan adanya masalah di perlintasan Ampera.
Perlintasan Ampera diduga jadi titik awal kecelakaan KRL di bekasi. Bermula dari sini, taksi mobil listrik mogok hingga tertabrak rangkaian KRL lain dari arah berlawanan di area perlintasan dekat stasiun.
Setelah ditelusuri, ternyata perlintasan Ampera minim penjagaan, bahkan banyak kendaraan yang nekat menerobos jalur rel kereta api meski sudah diperingatkan.
![Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/28/32447-kecelakaan-kereta-argo-bromo-dengan-krl-di-bekasi-timur-ka-argo-bromo-anggrek.jpg)
Tidak ada pintu palang resmi di perlintasan Ampera membuat warga khawatir karena sering terjadi kecelakaan. Namun, setelah bergotong royong membuat palang darurat dari bambu, kecelakaan pun jadi jarang terjadi.
Fakta Perlintasan Ampera, Titik Awal Kecelakaan KRL di Bekasi
1. Tidak Memiliki Palang Pintu Resmi
Perlintasan Ampera berlokasi di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur. Jalur lintasan ini kurang dari 5 meter dan tidak memiliki palang pintu resmi.
Padahal, jalur lintasan ini termasuk padat, terutama di jam pergi dan pulang kerja banyak lalu lalang berbagai kendaraan.
2. Satu Sisi Palang Pintu Terbuat dari Bambu
Di sela padatnya lalu lintas, area sekitaran rel banyak dihuni warga. Anak-anak bermain di pinggir jalan, sementara warga lainnya bersantai di warung kecil tak jauh dari pintu palang perlintasan.
Di area sekitar perlintasan ada rambu-rambu untuk mengingatkan pengendara agar lebih berhati-hati saat melintas.
Sayangnya, jalur perlintasan ini hanya memiliki satu palang di satu sisi, sementara sisi lainnya tidak ada sama sekali. Itu pun hanya terbuat dari bambu yang diangkat secara manual oleh warga secara bergiliran.
3. Banyak Warga Nekat Menerobos Jalur Perlintasan
Menurut kesaksian dari warga sekitar, kondisi palang pintu palang yang tidak memadai sudah terjadi sejak lama. Karena sudah dianggap hal yang biasa, lantas banyak pengendara nekat menerobos lintasan meski sudah diperingatkan akan ada kereta yang lewat.
4. Warga Bergiliran Jaga Pintu Palang Lintasan
Tanpa penjaga atau palang resmi, warga sekitar sana bergotong royong menjaga lintasan secara bergiliran setiap harinya.
Upaya ini dilakukan demi menjaga keselamatan sekaligus sudah jadi bagian aktivitas warga sekitar sehari-harinya.
Jalur lintasan ini padat kendaraan karena digunakan sebagai jalur utama karena akses lebih dekat, ketimbang memutar ke daerah Bulak Kapal yang memakan waktu lebih lama dan jauh.
5. Sering Terjadi Kecelakaan
Informasi dari saksi mata warga sekitar, sering terjadi kecelakaan kendaraan tertemper kereta di perlintasan Jalan Ampera.
Peristiwa tersebut terjadi lima tahun yang lalu. Namun, setelah banyak warga gotong rotong jaga pintu palang perlintasan, kecelakaan jadi jarang terjadi.
Sebelumnya, selain kasus tabrakan kendaraan dengan kereta, tak ada kejadian lain selain kasus bunuh diri di dekat perlintasan.
"Ada yang bunuh diri juga. Ada beberapa kali yang coba bunuh diri tapi udah dihalau bocah-bocah," ucap salah satu warga.
Berhubung tidak ada pintu palang resmi, maka warga berinisiatif beli bambu yang digunakan sebagai palang darurat.
Menurut penuturan salah satu warga, pasalnya sudah banyak pejabat yang datang melintasi rel kereta tersebut dan berjanji untuk memperbaikinya.
Namun, sayangnya janji tersebut belum kunjung direalisasikan hingga saat ini.
"Gubernur (Jabar) sudah datang kemarin belum lama, tapi rencana dari jaman baheula, dari jaman Pak (Presiden) Harto (Soeharto)," tuturnya.
Kontributor : Damayanti Kahyangan