-
Dampak Rupiah melemah memicu kenaikan harga sembako dan pangan impor.
-
Biaya transportasi meningkat akibat dampak Rupiah melemah pada sektor logistik.
-
Pelaku UMKM terancam gulung tikar imbas dampak Rupiah melemah saat ini.
Suara.com - Nilai tukar rupiah yang melemah belakangan ini mulai membuat masyarakat Indonesia khawatir.
Pasalnya, anjloknya kurs rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok atau sembako.
Saat ini, nilai tukar rupiah terpantau merosot hingga menyentuh angka Rp17.600 per satu dolar AS.
Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi dilansir dari laman resmi UGM menyebut kondisi ini sebagai "perfect storm" atau badai yang sempurna.
Menurutnya, pelemahan ini terjadi karena akumulasi tekanan global dan domestik secara bersamaan.
Meskipun Presiden RI Prabowo Subianto beranggapan nilai tukar rupiah yang melemah tak akan berdampak pada masyarakat, terutama masyarakat desa karena tak memakai dolar untuk transaksi.
![Ilustrasi Rupiah. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/01/36302-ilustrasi-rupiah.jpg)
Namun, nilai tukar rupiah melemah tetap akan berdampak pada kebutuhan bahan pokok masyarakat Indonesia seperti berikut ini.
1. Harga Pangan Impor Naik
Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor seperti gandum dan kedelai.
Jika rupiah melemah, otomatis harga beli bahan baku ini membengkak.
Produk turunan seperti tahu, tempe, roti, hingga mi instan bakal mengalami lonjakan harga yang signifikan.
2. Biaya Logistik dan BBM Ikut Terkerek
Jangan kaget jika harga sayur-mayur di pasar ikut naik meski dipetik di tanah sendiri.
Hal ini disebabkan biaya operasional transportasi dan logistik ikut naik.
Harga bahan bakar minyak (BBM) global diperdagangkan dalam dolar, sehingga ongkos kirim sembako dari produsen ke pasar menjadi lebih mahal.
3. Petani Tercekik Biaya Produksi
Bukan hanya konsumen, petani pun ikut terkena dampaknya melalui biaya produksi yang membengkak karena harga pupuk, obat-obatan, hingga suku cadang alat mesin pertanian (alsintan).
Karena, rata-rata semua kebutuhan petani itu berasal dari komponen impor yang harganya mengikuti kurs dolar.
4. Daya Beli Masyarakat Turun
Kenaikan harga barang yang tidak dibarengi kenaikan pendapatan memaksa masyarakat kelas menengah ke bawah harus memutar otak.
Banyak warga yang mulai mengurangi konsumsi atau beralih ke pangan yang lebih murah demi menyambung hidup.
Ancaman Terhadap UMKM dan Anggaran Negara
Tak hanya berdampak ke rumah tangga, sektor UMKM juga berada di ujung tanduk.
Rijadh Djatu Winardi memaparkan empat konsekuensi serius bagi dunia usaha:
- Biaya Produksi Melonjak: UMKM yang memakai bahan baku impor, seperti kain atau bahan makanan akan kesulitan menjaga harga jual tetap bersaing.
- Beban Utang Membengkak: Bagi pelaku usaha yang memiliki pinjaman dalam dolar, cicilan akan terasa jauh lebih berat.
- Sentimen Investor Menurun: Akses pendanaan bagi UMKM makin sulit karena investor cenderung menarik modalnya ke instrumen dolar.
- Inflasi Menekan Konsumen: Omzet UMKM, terutama kuliner, berpotensi turun karena pelanggan menahan pengeluaran akibat inflasi.
Selain itu, pemerintah kini menghadapi dilema besar. Pelemahan rupiah membuat subsidi energi (BBM dan listrik) serta beban utang luar negeri membengkak.
Hal ini dikhawatirkan akan menyedot anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk sektor pendidikan atau kesehatan.