- BPIP merilis teks amanat resmi untuk Upacara Hari Lahir Pancasila 2026.
- Amanat dibacakan oleh inspektur upacara saat pelaksanaan upacara berlangsung.
- Susunan acara upacara juga tercantum dalam surat edaran resmi BPIP.
Suara.com - Peringatan Hari Lahir Pancasila jatuh setiap 1 Juni. Di momen ini, berbagai instansi pemerintah, sekolah, hingga lembaga pendidikan akan melaksanakan upacara bendera.
Salah satu bagian penting dalam susunan acara upacara bendera memperingati Hari Lahir Pancasila adalah amanat inspektur upacara.
Berdasarkan pedoman resmi BPIP, amanat itu dibacakan menggunakan pidato Kepala BPIP yang tercantum dalam lampiran surat edaran.
Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026.
Berikut susunan acara upacara sekaligus teks amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 resmi dari BPIP.

Susunan Acara Upacara Hari Lahir Pancasila 2026
Mengutip Surat Edaran Kepala BPIP Nomor 2 Tahun 2026, berikut susunan acara minimal dalam pelaksanaan upacara.
- Persiapan upacara
- Pasukan upacara memasuki tempat upacara
- Komandan upacara memasuki tempat upacara
- Laporan
- Inspektur upacara memasuki tempat upacara
- Penghormatan pasukan
- Laporan komandan upacara kepada inspektur upacara
- Pengibaran Sang Merah Putih
- Mengheningkan cipta
- Pembacaan teks Pancasila
- Pembacaan Pembukaan UUD NRI Tahun 1945
- Amanat inspektur upacara
- Pembacaan doa
- Laporan komandan upacara kepada inspektur upacara
- Penghormatan pasukan
- Inspektur upacara meninggalkan tempat upacara
- Laporan perwira upacara kepada inspektur upacara
- Upacara selesai
Dalam pedoman tersebut juga dijelaskan bahwa amanat inspektur upacara dilakukan dengan membacakan pidato Kepala BPIP yang tercantum dalam lampiran surat edaran.
Teks Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan,
Rahayu, Rahayu, Rahayu,
Salam Pancasila!
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia. Tema yang diusung dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 adalah "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun demikian juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
Pancasila adalah "bintang penuntun" yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Pancasila adalah "jangkar moral" kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,