Karena itu, Sendalu tidak dirancang sebagai kebun yang sempurna. Justru sebaliknya. Gibran ingin menghadirkan contoh yang sederhana dan mudah ditiru.
“Menurut saya, berkebun secara keseluruhan adalah melambatkan. Begitu kamu melambatkan, kamu bisa lebih conscious, lebih mindful dengan bumi dan sekeliling kamu,” ujarnya.
Bagi Gibran, berkebun bukan sekadar menghasilkan sayuran. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk membangun kesadaran terhadap pilihan hidup sehari-hari, mulai dari makanan yang dikonsumsi hingga kebiasaan yang berdampak pada lingkungan.
Karena itu, ia menyebut Sendalu sebagai sebuah “jembatan”. Jembatan bagi masyarakat kota yang ingin mulai mengenal gaya hidup yang lebih selaras dengan alam tanpa harus meninggalkan kehidupan urban sepenuhnya.
Melalui program sukarelawan, kelas belajar, dan berbagai kegiatan komunitas, Gibran berusaha menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Menanam satu tanaman di rumah, memahami asal-usul makanan, atau mengurangi konsumsi yang berlebihan bisa menjadi awal yang cukup.
“Nggak perlu ideal-ideal banget. Ketika orang datang, mereka bisa melihat bentuk yang sederhana, lebih dekat, dan lebih familiar untuk ditiru,” katanya.
Penulis: Vicka Rumanti