Mengapa Membuat Kerajinan dari Kain Bekas Bisa Membantu Memahami Krisis Lingkungan?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 15 Juni 2026 | 11:30 WIB
Mengapa Membuat Kerajinan dari Kain Bekas Bisa Membantu Memahami Krisis Lingkungan?
Kerajinan dengan kain perca (Pexels/Tahir Xəlfə)

Suara.com - Tumpukan pakaian yang cepat dibeli lalu cepat dibuang sering dianggap sebagai persoalan baru di era modern. Namun, menurut sejumlah peneliti, kritik terhadap budaya produksi dan konsumsi tekstil sebenarnya sudah muncul sejak lebih dari satu abad lalu.

Kesadaran itu yang coba dibawa ke ruang kelas di Kampus Augustana, Universitas Alberta, Kanada.

Melalui metode pembelajaran yang tidak biasa, mahasiswa diajak membuat karpet dari kain perca—menggunakan sprei usang dan potongan kain bekas—untuk memahami hubungan antara sejarah industri tekstil dan krisis limbah yang terjadi saat ini.

Pendekatan tersebut dikembangkan oleh profesor sejarah seni sekaligus wakil dekan penelitian Augustana, Andrea Korda, dan menjadi bagian dari riset yang dipublikasikan dalam jurnal History.

Alih-alih mempelajari sejarah hanya lewat buku, mahasiswa diminta mengalami langsung proses membuat, menyusun ulang, dan menggunakan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak lagi bernilai.

Menurut Korda, pengalaman itu membantu mahasiswa melihat bahwa persoalan konsumsi berlebih dan pemborosan bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba.

Ketika Produksi Massal Mengubah Cara Manusia Menggunakan Pakaian

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa diajak menelusuri perubahan besar yang terjadi pada era Victoria abad ke-19 saat Revolusi Industri berlangsung di Inggris.

Perkembangan teknologi saat itu memungkinkan produksi tekstil dilakukan dalam jumlah besar dan lebih cepat. Namun di balik efisiensi tersebut, muncul konsekuensi sosial dan lingkungan yang mulai dipertanyakan sejak masa itu.

Mahasiswa mempelajari bagaimana mekanisasi produksi mengubah hubungan manusia dengan barang—dari sesuatu yang dibuat untuk dipakai lebih lama menjadi produk yang semakin mudah diproduksi dan diganti.

Sebagai respons terhadap perubahan tersebut, muncul gerakan British Arts and Crafts movement yang mendorong masyarakat kembali menghargai pengerjaan tangan dan menolak logika produksi massal.

Bagi Korda, perdebatan itu terasa dekat dengan situasi saat ini.

Ketika Sejarah Menjelaskan Fast Fashion Hari Ini
Melalui aktivitas sederhana seperti membuat karpet kain perca, mahasiswa kemudian menghubungkan pengalaman historis tersebut dengan persoalan kontemporer, termasuk penumpukan limbah tekstil dan tren fast fashion.

Budaya konsumsi yang mendorong pembelian pakaian murah dan cepat berganti dinilai memperbesar jumlah limbah sekaligus meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.

Menurut Korda, tekstil menjadi isu yang dekat dengan semua orang karena pakaian merupakan kebutuhan sehari-hari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peritel Fashion Mulai Kenakan Biaya Retur, Bisakah Benar-Benar Kurangi Limbah?

Peritel Fashion Mulai Kenakan Biaya Retur, Bisakah Benar-Benar Kurangi Limbah?

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 15:40 WIB

Mengapa Fast Fashion Masih Diminati Meski Berdampak Buruk bagi Lingkungan?

Mengapa Fast Fashion Masih Diminati Meski Berdampak Buruk bagi Lingkungan?

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 13:10 WIB

AI Jadi Mesin Utama Fast Fashion: Riset Soroti Dampaknya bagi Pasar dan Lingkungan

AI Jadi Mesin Utama Fast Fashion: Riset Soroti Dampaknya bagi Pasar dan Lingkungan

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 13:10 WIB

Terkini

Jadwal Piala Dunia 16-17 Juni 2026 sesuai WIB, Ada Prancis dan Argentina

Jadwal Piala Dunia 16-17 Juni 2026 sesuai WIB, Ada Prancis dan Argentina

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 11:25 WIB

Parfum Fres yang Paling Wangi dan Tahan Lama Warna Apa? Ini 3 Varian Favorit dengan Ulasan Positif

Parfum Fres yang Paling Wangi dan Tahan Lama Warna Apa? Ini 3 Varian Favorit dengan Ulasan Positif

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 10:57 WIB

16 Juni 2026 Libur Apa? Ini Panduan Cuti dari Pemerintah

16 Juni 2026 Libur Apa? Ini Panduan Cuti dari Pemerintah

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 10:48 WIB

Patakbanteng Buktikan Bahwa Pariwisata Berkelanjutan Tidak Harus Korbankan Desa: Bagaimana Caranya?

Patakbanteng Buktikan Bahwa Pariwisata Berkelanjutan Tidak Harus Korbankan Desa: Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 10:46 WIB

Bukan Sekadar Ekspor Mentah: Mengapa Hilirisasi Rumput Laut Penting bagi Indonesia?

Bukan Sekadar Ekspor Mentah: Mengapa Hilirisasi Rumput Laut Penting bagi Indonesia?

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 10:33 WIB

Doa Tahun Baru Islam Dibaca Jam Berapa? Simak Waktu Terbaik Menyambut 1 Muharram

Doa Tahun Baru Islam Dibaca Jam Berapa? Simak Waktu Terbaik Menyambut 1 Muharram

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 10:23 WIB

Tren Wisata Gen Z 2026: Tak Lagi Cari Hotel Mewah, Fokus Pengalaman Lokal

Tren Wisata Gen Z 2026: Tak Lagi Cari Hotel Mewah, Fokus Pengalaman Lokal

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 09:59 WIB

Apakah Boleh Jadi Mualaf karena Menikah? Begini Hukumnya dalam Islam

Apakah Boleh Jadi Mualaf karena Menikah? Begini Hukumnya dalam Islam

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 09:44 WIB

5 Serum Peptide untuk Rawat Kulit Keriput, Nomor 1 Rekomendasi Dokter

5 Serum Peptide untuk Rawat Kulit Keriput, Nomor 1 Rekomendasi Dokter

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 08:15 WIB

3 Shio Paling Beruntung pada 15-21 Juni 2026, Siapa yang Ketiban Hoki?

3 Shio Paling Beruntung pada 15-21 Juni 2026, Siapa yang Ketiban Hoki?

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2026 | 07:35 WIB