- Masyarakat Jawa mempercayai malam 1 Suro sebagai momen sakral untuk introspeksi diri melalui tirakat dan doa bersama.
- Tradisi Primbon Jawa mengidentifikasi lima weton tertentu yang dianggap lebih rentan terhadap sengkolo atau energi negatif.
- Budayawan menegaskan bahwa mitos weton adalah warisan budaya yang harus disikapi sebagai refleksi diri, bukan fakta ilmiah.
Pemilik weton Rabu Legi dikenal memiliki karakter yang tenang dan mudah beradaptasi. Akan tetapi, dalam beberapa tafsir primbon, mereka disebut perlu lebih waspada terhadap pengaruh lingkungan dan keputusan yang diambil saat malam 1 Suro.
Karena itulah, Rabu Legi sering dimasukkan dalam daftar weton yang dipercaya rawan terkena sengkolo apabila tidak menjaga keseimbangan batin.
5. Sabtu Pahing
Sabtu Pahing merupakan weton terakhir yang kerap disebut dalam daftar weton yang diincar sengkolo pada malam 1 Suro.
Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, pemilik weton ini dianjurkan menghindari tindakan gegabah dan lebih fokus pada kegiatan spiritual seperti berdoa, berdzikir, atau melakukan perenungan diri.
Benarkah Weton Tertentu Diincar Sengkolo?
Para budayawan dan pemerhati budaya Jawa menjelaskan bahwa berbagai mitos mengenai weton dan malam 1 Suro lahir dari tradisi titen atau kebiasaan masyarakat Jawa dalam mengamati berbagai peristiwa yang terjadi secara turun-temurun. Karena itu, kepercayaan mengenai sengkolo tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya dan spiritual masyarakat Jawa.
Pada akhirnya, malam 1 Suro lebih dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta menjaga sikap dan perilaku. Terlepas dari weton yang dimiliki, masyarakat Jawa pada umumnya dianjurkan mengisi malam tersebut dengan kegiatan yang positif dan penuh makna.