- Nusron Wahid lahir di Kudus pada 12 Oktober 1973 dan kini menjabat Menteri ATR/BPN.
- Sebelum menjadi menteri, ia pernah menjadi anggota DPR RI, Ketua Umum GP Ansor, dan Kepala BNP2TKI.
- Namanya kembali menjadi perhatian publik setelah insiden diskusi yang diwarnai protes mahasiswa di UGM.
Suara.com - Nama Nusron Wahid kembali menjadi sorotan publik setelah insiden yang terjadi dalam sebuah diskusi di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).
Acara yang menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah tersebut diwarnai aksi protes mahasiswa hingga berujung ricuh pada Senin malam, 15 Juni 2026.
Diskusi bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar" yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM itu sempat berlangsung tegang ketika sejumlah mahasiswa mendatangi lokasi acara dan membentangkan spanduk berisi kritik terhadap pemerintah.
Di tengah ramainya perbincangan mengenai insiden tersebut, banyak masyarakat mulai mencari profil dan rekam jejak Nusron Wahid, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Profil Nusron Wahid
Nusron Wahid lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 12 Oktober 1973. Saat ini, ia menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dalam Kabinet Merah Putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Melansir informasi dari laman Alumni IPB Pedia, Nusron diketahui tumbuh di lingkungan yang kental dengan tradisi pendidikan Islam di Kabupaten Kudus.
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di sejumlah lembaga pendidikan berbasis Nahdlatul Ulama (NU), mulai dari MI Miftahut Tholibin, MTs Qudsiyyah, hingga SMA NU Al-Ma'ruf.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Ilmu Sejarah.
Pendidikan akademiknya kemudian dilengkapi dengan gelar magister Ilmu Ekonomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Dalam kehidupan pribadi, Nusron menikah dengan Dily Rosi Timadar.
Sebelum aktif di dunia politik dan pemerintahan, ia pun diketahui sempat meniti karier sebagai wartawan di Harian Bisnis Indonesia, dosen, serta peneliti.
Awal Karier dan Peran di Parlemen
Karier organisasi Nusron Wahid berkembang sejak masa muda. Ia aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, termasuk di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Namanya semakin dikenal ketika dipercaya menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor periode 2011–2015.
Posisi tersebut menjadikannya salah satu tokoh muda NU yang cukup berpengaruh di tingkat nasional.
Di dunia politik, Nusron pertama kali terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar pada Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah II.
Ia kemudian kembali memperoleh mandat pada periode-periode berikutnya dan banyak berkecimpung dalam isu perdagangan, investasi, industri, serta badan usaha milik negara (BUMN).
Kariernya di pemerintahan semakin menonjol ketika ditunjuk sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada periode 2014–2019.
Dalam posisi tersebut, ia bertanggung jawab mengawasi penempatan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di berbagai negara.
Insiden di UGM dan Konteksnya
Pada 15 Juni 2026 malam, Nusron Wahid menghadiri diskusi publik di GIK UGM bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Kegiatan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah mahasiswa yang menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Situasi kemudian berkembang menjadi aksi protes yang membuat jalannya diskusi terganggu dan akhirnya dihentikan lebih awal.
Fokus Kerja sebagai Menteri ATR/BPN
Sebagai Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid memiliki sejumlah agenda strategis di bidang pertanahan dan tata ruang.
Salah satu fokus utamanya adalah mempercepat penyelesaian konflik pertanahan yang masih terjadi di berbagai daerah.
Ia juga mendorong percepatan program sertifikasi tanah, pelaksanaan reforma agraria, serta digitalisasi layanan pertanahan untuk meningkatkan transparansi dan kemudahan akses bagi masyarakat.
Selain itu, pemberantasan praktik mafia tanah menjadi salah satu prioritas yang kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Menurut Nusron, kepastian hukum atas kepemilikan tanah merupakan faktor penting untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menciptakan iklim investasi yang sehat.