- Sebanyak 327.000 wisatawan Indonesia mengunjungi Jepang pada Januari hingga Mei 2026, meningkat 15 persen dibanding periode sebelumnya.
- Wisatawan perlu melakukan riset destinasi, mencermati efisiensi transportasi, dan menghitung cermat seluruh pengeluaran tambahan agar anggaran tidak membengkak.
- Data Allianz menunjukkan risiko penundaan perjalanan dan masalah medis menjadi kendala paling sering dialami wisatawan selama berada di Jepang.
Tarif single-entry visa naik dari 3.000 yen menjadi 15.000 yen, sedangkan multiple-entry visa meningkat dari 6.000 yen menjadi 30.000 yen.
Selain visa, masih ada sejumlah pengeluaran yang sering luput dari perhitungan, seperti:
- transportasi lokal;
- city tax hotel;
- biaya bagasi tambahan;
- reservasi atraksi wisata;
- internet atau eSIM;
- locker penyimpanan barang di stasiun;
- pembayaran cash karena tidak semua tempat menerima kartu.
Jika tidak dianggarkan sejak awal, biaya-biaya kecil tersebut dapat membuat total pengeluaran membengkak.
4. Gangguan perjalanan ternyata jauh lebih sering terjadi daripada yang dibayangkan
Banyak orang membayangkan risiko terbesar saat liburan adalah kehilangan paspor atau mengalami kecelakaan.
Padahal, data klaim Allianz Utama Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan hal yang paling sering terjadi justru risiko yang lebih sederhana.
Secara keseluruhan, klaim terbanyak berasal dari:
- penundaan perjalanan (2.123 kasus),
- perlindungan bagasi (1.087 kasus),
- biaya medis di luar negeri (579 kasus).
Khusus perjalanan ke Jepang, pola yang muncul sedikit berbeda.
Kasus terbanyak tetap berasal dari penundaan perjalanan (188 kasus), disusul gangguan perjalanan atau kehilangan transportasi lanjutan (106 kasus), biaya medis (87 kasus), serta masalah bagasi (84 kasus).
Data tersebut menunjukkan bahwa kendala yang paling sering dialami wisatawan bukanlah kejadian luar biasa, melainkan situasi sehari-hari yang dapat mengacaukan itinerary sekaligus menambah biaya perjalanan.
Menurut Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, Ignatius Hendrawan, kenyamanan berlibur bukan hanya ditentukan oleh itinerary yang menarik, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.
"Saat merencanakan perjalanan, banyak orang fokus mencari tiket dengan harga terbaik atau menyusun itinerary yang padat. Padahal, pengalaman liburan yang nyaman juga ditentukan oleh seberapa matang persiapan yang dilakukan sejak sebelum keberangkatan," ujarnya.
Ia menambahkan, selain menyusun anggaran dan melakukan riset destinasi, wisatawan juga perlu mempertimbangkan perlindungan perjalanan agar lebih siap menghadapi risiko yang tidak terduga.
Persiapan yang matang membuat liburan lebih tenang
Kenaikan biaya visa menjadi pengingat bahwa biaya liburan ke Jepang kini tidak lagi sekadar soal tiket pesawat dan hotel.
Dengan menyusun itinerary yang realistis, menghitung kebutuhan transportasi secara cermat, mengantisipasi berbagai biaya tambahan, serta mempersiapkan perlindungan perjalanan, wisatawan dapat lebih fokus menikmati pengalaman menjelajahi Jepang tanpa harus khawatir menghadapi pengeluaran tak terduga.