- I Gede Nyoman Agastya Yatra menerapkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi di kawasan Nuanu, Bali, sejak dari sumbernya.
- Upaya ini dilakukan melalui pemilahan sampah ketat, pengolahan limbah organik, serta daur ulang material bernilai ekonomi.
- Strategi tersebut bertujuan mengurangi beban TPA dan membangun kesadaran kolektif seluruh tenant akan tanggung jawab lingkungan.
Suara.com - Di hadapannya, gunungan sampah menjulang di tengah hamparan hijau Bali. Sebuah ekskavator terus meratakan tumpukan limbah, sementara truk-truk pengangkut datang silih berganti membuang muatan baru.
Bau menyengat memenuhi udara. Namun, bukan pemandangan itu yang paling membekas dalam ingatan I Gede Nyoman Agastya Yatra.
Perhatiannya justru tertuju pada beberapa ternak yang mencari makan di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA). Rumput yang mereka makan bercampur dengan plastik dan berbagai jenis sampah lainnya.
"Saya pernah melihat ternak memakan rumput yang bercampur dengan sampah, bahkan mungkin memakan sampah itu sendiri," kenang Agastya.

Selama lebih dari satu dekade berkecimpung di bidang pengelolaan sampah, pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperluas TPA atau mengangkut lebih banyak limbah setiap hari.
Sampah harus diminimalisir sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir.
Keyakinan itulah yang kemudian ia bawa ketika bergabung dengan Nuanu Creative City, kawasan kota kreatif terpadu seluas 44 hektare di pesisir Pantai Nyanyi, Tabanan, Bali.
Sejak awal, kawasan yang memadukan seni, alam, edukasi, teknologi, dan kesehatan tersebut memilih membangun sistem pengelolaan sampah dari sumbernya, bukan sekadar mengandalkan pengangkutan ke TPA.
Pendekatan ini semakin relevan di tengah persoalan sampah Bali yang terus membesar. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbulan sampah di Bali mencapai sekitar 3.440 ton per hari pada 2024.
Sebagian besar masih berakhir di TPA, sementara aktivitas pariwisata terus menghasilkan sampah dari hotel, restoran, pusat hiburan, hingga berbagai destinasi wisata.
Pemerintah Provinsi Bali pun menargetkan praktik open dumping dihentikan mulai 1 Agustus 2026. Namun, menghentikan open dumping hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan wisata mampu mengurangi sampah yang dikirim ke TPA.
Nuanu mencoba menjawab tantangan itu dengan membangun sistem yang memastikan sebagian besar sampah tidak pernah menjadi beban TPA.
Mengelola sampah sejak dari sumbernya
Setiap hari, Nuanu menghasilkan sekitar empat ton sampah. Seiring berkembangnya kawasan, jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Alih-alih mengirim seluruh sampah ke TPA, kawasan ini membangun sistem yang mengelola sampah sejak pertama kali dihasilkan.
Sekitar 30 orang menjadi bagian dari tim pengelolaan sampah. Mereka menangani seluruh proses, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan, pengomposan, hingga memastikan setiap jenis sampah masuk ke jalur pengolahan yang sesuai.
Sistem itu tidak hanya bergantung pada tim lingkungan. Seluruh tenant, pelaku usaha, hingga kontraktor yang bekerja di dalam kawasan diwajibkan mengikuti standar operasional (SOP) yang sama.
Sebab, sampah yang dihasilkan bukan hanya berasal dari aktivitas sehari-hari, tetapi juga dari pembangunan kawasan yang masih berlangsung.
Di setiap ruang publik tersedia tempat sampah terpilah. Setiap tenant juga memiliki titik pengumpulan sendiri sehingga proses pemilahan dilakukan sejak sampah pertama kali dihasilkan.
Sampah kemudian dipisahkan menjadi tiga kategori, yakni organik, material yang dapat didaur ulang, dan residu.
Menurut Agastya, pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman sederhana bahwa sebagian besar sampah sebenarnya masih memiliki nilai jika dipisahkan sejak awal.

"Sampah organik seharusnya kembali menjadi bagian dari siklus alam melalui proses dekomposisi. Namun dalam praktiknya, sampah organik bercampur dengan sampah anorganik sehingga seluruhnya berakhir di TPA. Akibatnya TPA cepat penuh," ujar Agastya yang merupakan Head of Environment Nuanu Creative City kepada Suara.com.
Karena itu, sisa makanan di Nuanu dikumpulkan secara terpisah dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak melalui kerja sama dengan peternak babi lokal.
Sampah organik lainnya diolah menjadi kompos, sementara botol kaca, plastik, kertas, dan berbagai material lain dipilah untuk masuk ke rantai daur ulang.
Sebagian material bahkan memperoleh nilai ekonomi baru. Di kawasan Art Village, misalnya, kayu apung dan bambu yang terbawa ombak di pantai diolah menjadi patung, kerajinan tangan, hingga karya seni.
Di sisi lain, fasilitas Phoenix mengolah plastik dan material bekas lainnya menjadi furnitur dan berbagai produk yang kembali dimanfaatkan di dalam kawasan.
Perubahan perilaku menjadi fondasi
Meski telah memiliki fasilitas pengolahan sampah, Agastya menilai tantangan terbesar justru bukan pada teknologi.
"Tantangan terbesar bukan teknologi, melainkan manusia," katanya.
Menurutnya, sistem sebaik apa pun tidak akan berjalan jika orang-orang yang menggunakannya tidak memiliki kebiasaan memilah sampah.
Karena itu, Nuanu secara rutin mengadakan program orientasi bagi karyawan baru, pelatihan berkala, serta kampanye kesadaran lingkungan yang melibatkan seluruh tenant dan pelaku usaha. Tujuannya bukan sekadar memastikan aturan dipatuhi, melainkan membangun rasa memiliki terhadap sistem yang dijalankan bersama.
"Kami ingin seluruh pelaku usaha di Nuanu merasa bangga bahwa ini adalah upaya bersama. Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab kita semua, bukan hanya tim lingkungan," ujar Agastya.
Baginya, investasi terbesar justru bukan membangun fasilitas yang semakin canggih, melainkan membangun sumber daya manusia yang memahami mengapa sampah harus dipilah sejak awal.
Pelajaran bagi kawasan wisata
Pengalaman Nuanu di Nuanu jadi bukti, bahwa pengelolaan sampah di kawasan wisata tidak selalu harus dimulai dari investasi teknologi yang mahal. Langkah paling mendasar adalah membangun sistem yang mampu mencegah sampah bercampur sejak dari sumbernya.
Bagi pelaku usaha yang memiliki keterbatasan modal, Agastya menyarankan untuk memulai dari hal sederhana, yakni memastikan proses pemilahan berjalan dengan konsisten.
Material yang masih memiliki nilai dapat masuk ke industri daur ulang, sedangkan sampah organik dapat dikembalikan ke alam melalui pengomposan atau bentuk pemanfaatan lainnya.
"Daripada langsung berinvestasi pada fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi yang membutuhkan biaya besar, saya berharap kita lebih dahulu berinvestasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan begitu, apa pun fasilitas yang dibangun di masa depan akan jauh lebih efektif dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya," katanya.