Kardinal Suharyo Soroti Krisis Moral di Era Teknologi: Dunia Masih Butuh Suara Hati

Vania Rossa

Senin, 13 Juli 2026 | 17:05 WIB
Kardinal Suharyo Soroti Krisis Moral di Era Teknologi: Dunia Masih Butuh Suara Hati
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo. (dok. ist)
baca 10 detik
  • Kardinal Suharyo menekankan pentingnya moralitas dalam penggunaan teknologi guna menghindari ancaman kemanusiaan pada forum di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
  • Gerakan akar rumput berperan strategis dalam merawat keberagaman, memperkuat solidaritas, dan menjadi penjaga nurani publik di tengah masyarakat.
  • Pakar menekankan perlunya kolaborasi lintas komunitas untuk mengatasi tantangan intoleransi, diskriminasi, serta penyebaran disinformasi melalui ruang dialog inklusif.

Suara.com - Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi ancaman perang, perlombaan persenjataan, dan disinformasi yang semakin masif, tetapi juga krisis moral dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, menurutnya, masyarakat membutuhkan suara hati agar kemajuan yang dicapai tidak justru berbalik menjadi ancaman bagi kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Kardinal Suharyo saat menjadi keynote speaker dalam Bonum Commune Forum x Harmony in Diversity Pre-Event bertajuk Community Action: Grassroots Movements as Architects of Peace yang digelar di Graha Pemuda, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

"Dunia tetap membutuhkan suara hati," ujar Kardinal Suharyo.

Untuk menggambarkan pentingnya nilai moral, Kardinal Suharyo mengisahkan cerita simbolik tentang empat bersaudara yang memiliki kemampuan menghidupkan kembali seekor harimau melalui ilmu pengetahuan. Namun, kemampuan tersebut justru menjadi petaka ketika harimau itu memangsa mereka sendiri.

Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berujung pada kehancuran. Oleh sebab itu, kemajuan teknologi harus selalu diiringi nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral.

Di tengah situasi global yang penuh tantangan, Kardinal Suharyo menilai komunitas-komunitas kecil yang hidup berdampingan dengan masyarakat justru memiliki peran strategis sebagai penjaga nurani publik. Meski kerap bekerja dalam skala sederhana, gerakan akar rumput dinilai mampu menjaga ruang dialog, memperkuat solidaritas, dan merawat keberagaman di lingkungan masing-masing.

Pandangan tersebut diamini Direktur Eksekutif Maarif Institute, Andar Nubowo, yang menilai keberagaman merupakan modal sosial bangsa yang harus terus dirawat melalui ruang-ruang perjumpaan dan kolaborasi lintas komunitas.

Menurut Andar, Maarif Institute selama ini berkomitmen memperkuat nilai toleransi, moderasi beragama, dan penghormatan terhadap keberagaman melalui berbagai program pendidikan, riset, dan advokasi yang melibatkan pelajar, mahasiswa, guru, hingga masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan perdamaian di tengah maraknya penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi.

baca juga

"Kita sebagai kelompok beriman harus memanfaatkan media sosial untuk menebarkan kebaikan," ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Hukum dan Konstitusi SETARA Institute, Sayidatul Insiyah, mengingatkan bahwa tantangan menjaga toleransi masih nyata. Berdasarkan pemantauan SETARA Institute, pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, hingga hambatan pendirian rumah ibadah masih ditemukan di sejumlah daerah.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan hukum. Diperlukan penguatan kelembagaan, tata kelola yang lebih baik, serta keterlibatan aktif masyarakat sipil agar nilai-nilai toleransi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita semua memiliki peran untuk berkontribusi menciptakan kehidupan yang lebih inklusif. Komunitas menjadi ruang penting untuk membangun perjumpaan, mengurangi prasangka, dan memperkuat kepercayaan antarmasyarakat," kata Sayidatul.

Diskusi juga menyoroti tantangan yang dihadapi komunitas di lapangan, mulai dari penyebaran intoleransi melalui media sosial hingga pentingnya memperluas kolaborasi lintas organisasi masyarakat sipil. Para narasumber sepakat, keberagaman seharusnya dipandang sebagai kekuatan yang memperkaya kehidupan bangsa, bukan menjadi alasan membangun sekat-sekat identitas.

Melalui forum ini, Harmony in Diversity Award 2026 kembali menegaskan bahwa perdamaian tidak lahir secara instan. Perdamaian dibangun dari relasi sehari-hari di tengah masyarakat, ketika komunitas mampu menciptakan ruang dialog, memperkuat solidaritas, dan menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pintar tapi Tidak Bermoral? Inilah Alasan Mengapa Kecerdasan Bukan Jaminan Kebaikan

Pintar tapi Tidak Bermoral? Inilah Alasan Mengapa Kecerdasan Bukan Jaminan Kebaikan

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 11:47 WIB

Darurat Moral dan Runtuhnya Integritas di Balik Algoritma Novel Online

Darurat Moral dan Runtuhnya Integritas di Balik Algoritma Novel Online

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:00 WIB

Ketika Sistem Gagal Melindungi Korban: Dilema Moral Teach You a Lesson

Ketika Sistem Gagal Melindungi Korban: Dilema Moral Teach You a Lesson

Your Say | Senin, 22 Juni 2026 | 11:00 WIB

Terkini

Promo Cashback BRImo di Osteria Gia Bikin Makan Pasta Makin Untung

Promo Cashback BRImo di Osteria Gia Bikin Makan Pasta Makin Untung

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 19:53 WIB

KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik

KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik

Kalbar | Minggu, 13 September 2026 | 19:46 WIB

Isu Pungli Bansos Beras 30 Kg, Bapanas Buka Suara

Isu Pungli Bansos Beras 30 Kg, Bapanas Buka Suara

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:36 WIB

Kosgoro 1957 Tegaskan Siap Perkuat Golkar Menuju Pemilu 2029

Kosgoro 1957 Tegaskan Siap Perkuat Golkar Menuju Pemilu 2029

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:36 WIB

FTL Universe 2026 Resmi Digelar, BRImo Bawa Kejutan Spesial

FTL Universe 2026 Resmi Digelar, BRImo Bawa Kejutan Spesial

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 19:32 WIB

Anak Mulai Pilih-Pilih Makanan? Dokter Ungkap Solusi Penuhi Nutrisi Balita

Anak Mulai Pilih-Pilih Makanan? Dokter Ungkap Solusi Penuhi Nutrisi Balita

Health | Minggu, 13 September 2026 | 19:28 WIB

CISDI Dorong Harga Minuman Manis Naik Minimal 20 Persen lewat Cukai

CISDI Dorong Harga Minuman Manis Naik Minimal 20 Persen lewat Cukai

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:13 WIB

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 19:03 WIB

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:55 WIB

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:54 WIB

×