- Prof Wini Trilaksani dari IPB University menyatakan limbah ikan mengandung senyawa nutrisi berharga untuk industri kesehatan dan farmasi.
- Penelitian menunjukkan bagian sisa ikan seperti mata tuna memiliki kandungan omega-3 tinggi untuk mendukung kesehatan serta perkembangan otak.
- Pemanfaatan maksimal seluruh bagian ikan dapat mendukung ketahanan pangan, efisiensi sumber daya, dan pengembangan ekonomi biru di Indonesia.
Suara.com - Bagian-bagian ikan yang selama ini kerap dibuang, seperti kepala, tulang, kulit, sisik, hingga mata ikan, ternyata menyimpan potensi ekonomi dan kesehatan yang besar. Peneliti menilai, jika dimanfaatkan secara optimal, hasil samping perikanan dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat ekonomi biru Indonesia.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Wini Trilaksani, mengatakan transformasi hasil samping blue food menjadi biomolekul bernilai tinggi dapat meningkatkan daya saing sektor perikanan nasional.
Menurutnya, laut tidak hanya menyediakan ikan sebagai bahan pangan, tetapi juga mengandung berbagai senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk industri pangan, kesehatan, hingga farmasi.

"Bagian-bagian hasil perikanan yang selama ini dianggap limbah sebenarnya masih kaya nutrisi dan senyawa bioaktif," ujar Wini dalam Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (27/6).
Secara global, sekitar 35 persen hasil tangkapan ikan terbuang di sepanjang rantai pasok. Sementara itu, hanya sekitar 54 persen hasil panen perikanan yang dikonsumsi langsung oleh manusia. Sisanya hilang akibat pembusukan, pengolahan yang tidak efisien, atau belum dimanfaatkan sebagai produk bernilai tambah.
Padahal, kepala, tulang, kulit, sisik, mata ikan, gelembung renang, cangkang, hingga limbah cair pengolahan masih mengandung minyak kaya asam lemak omega-3, kolagen, gelatin, kitin, kitosan, glukosamin, dan astaxanthin. Berbagai senyawa tersebut dapat diolah menjadi pangan fungsional, suplemen kesehatan (nutrasetikal), kosmetik, biomaterial, hingga bahan baku farmasi.
Salah satu riset yang dikembangkan tim Prof Wini adalah pemanfaatan mata tuna sebagai sumber omega-3. Hasil penelitian menunjukkan mata tuna berukuran besar memiliki kandungan DHA sebesar 37,45 persen, EPA 6,19 persen, serta total asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) mencapai 48,10 persen.
Temuan tersebut menunjukkan mata tuna bukan sekadar limbah industri, tetapi juga sumber nutrisi bernilai tinggi yang berpotensi mendukung kesehatan dan perkembangan otak.
Menurut Wini, masa depan perikanan Indonesia tidak hanya bergantung pada banyaknya ikan yang dipanen, tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan seluruh bagian hasil tangkapan. Selain mengurangi limbah, langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya laut sekaligus mendukung pengembangan ekonomi biru.