Bisakah Label dan Pajak Karbon pada Pangan Tekan Emisi Tanpa Bebani Konsumen? Peneliti Ungkap Ini

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 22 Juli 2026 | 13:05 WIB
Bisakah Label dan Pajak Karbon pada Pangan Tekan Emisi Tanpa Bebani Konsumen? Peneliti Ungkap Ini
Tekan emisi karbon pada sektor pangan melalui penerapan label karbon dan pajak pangan (dok.Unsplash/Franki Chamaki)

Suara.com - Label karbon dan pajak karbon pada produk pangan dinilai efektif dalam menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga kenaikan biaya hidup konsumen tetap rendah.

Temuan ini berdasarkan pada penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Environtment Economics and Management. Penelitian tersebut melibatkan peneliti dari Universitas Trento di Italia yang bekerja sama dengan Universitas Exeter.

Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapana label karbon bisa menurunkan jejak karbong dengan rata-rata keranjang belanja sebesar 5,6 persen (setara dengan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 2,7 persen di Inggris).

Sementara itu, implementasi pajak karbon sebesar £60 per metrik ton CO pada produk dengan emisi tertinggi dapat menekan jejak karbon hingga 10 persen.

Uniknya, dengan memadukan kedua kebijakan tersebut justru lebih efisien karena konsumen hanya perlu menanggung kenaikan biaya hidup sekitar £34 per orang per tahunnya.

Melalui pendekatan ini dinilai manjur dalam mempertahankan efektivitas penurunan emisi sekaligus mengurangi beban finansial masyarakat.

Direktur Institut Pertahanan, Lingkungan, Ekonomi, dan Kebijakan Universitas Exeter, Ian Bateman, menjabarkan bahwa pajak karbon dan pelabelan karbon dapat diaplikasikan secara beriringan untuk menekan emisi tanpa membebani konsumen secara berlebihan.

“Temuan ini menyiratkan bahwa pajak karbon dan pelabelan karbon dapat digabungkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sambil menjaga biaya bagi konsumen seminimal mungkin dan menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan simulasi supermarket online yang melibatkan sekitar 5.000 responden di Inggris. Para peneliti mengumpulkan data mengenai jenis produk yang dibeli, frekuensi pembelian, dan jumlah konsumsi untuk mengukur perubahan perilaku belanja setelah diberi label karbon.

baca juga

Tujuan diadakannya simulasi tersebut adalah untuk melihat bagaimana konsumen ini menanggapi informasi mengenai emisi pada produk pangan.

“Kami merancang lingkungan supermarket online simulasi dan mengumpulkan data dari sekitar 5,000 responden yang berbasis di Inggris mengenai produk apa yang biasanya mereka beli, seberapa sering, dan dalam jumlah berapa,” kata Peneliti dari Universitas Trento, Dr. Michela Faccioli.

Di samping itu, peneliti Universitas Trento, Dr. Marco Tomasi menilai tantangan utama saat penerapan pajak karbon adalah rendahnya penerimaan publik serta potensi membebani rumah tangga yang berpendapatan rendah.

“Pengenalan pajak karbon bukannya tanpa tantangan, karena langkah-langkah ini umumnya memiliki penerimaan publik yang terbatas dan cenderung membebani rumah tangga yang kurang mampu. Studi kami menunjukkan bahwa redistribusi pendapatan pajak berdasrkan per kapita akan secara efektif menghilangkan ketidaksetaraan yang terakit dengan penerapan pajak, sehingga meningkatkan keadilan kebijakan tersebut,” ujarnya.

Namun, ia melihat redistribusi pendapatan pajak secara merata per kapita bisa mengurangi kesenjangan sehingga kebijakan tersebut menjadi lebih adil.

Studi ini juga menguak temuan baru bahwa dampak dari penerapan kebijakan itu bisa berbeda-beda bergantung pada pola konsumsi. Rumah tangga dengan konsumsi daging yang tinggi cenderung kebih responsif terhadap label karbon.

“Kami menemukan bahwa rumah tangga dengan diet kaya akan daging juga cenderung lebih bereaksi terhadap tampilan label karbon, menunjukkan bahwa informasi lebih lanjut kepada kelompok ini tentang dampak emisi dari pilihan makanan mereka dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan,” ungkap Peneliti dari Universitas Trento, Dr. Carlo Frezzi.

Perlu digarisbawahi bahwa sektor pangan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi gas rumah kaca secara global, meliputi proses produksi hingga sampai ke tangan konsumen.

Karena itulah, penting sekali untuk mengubah perilaku konsumen melalui pelabelan dan kebijakan harga. Dengan langkah ini dinilai efektif untuk menekan emisi dari sektor pangan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Insentif Mobil Listrik Bisa Bikin Jakarta Rugi Rp2 Triliun

Insentif Mobil Listrik Bisa Bikin Jakarta Rugi Rp2 Triliun

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 11:33 WIB

TNI AD Tegaskan Babinsa Tak Punya Wewenang Awasi Wajib Pajak, Publik Diminta Tak Resah

TNI AD Tegaskan Babinsa Tak Punya Wewenang Awasi Wajib Pajak, Publik Diminta Tak Resah

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 10:27 WIB

Waspada! Harga Cabai Rawit Merah dan Telur Ayam Melejit, Sinyal Tekanan Inflasi Pangan Nasional

Waspada! Harga Cabai Rawit Merah dan Telur Ayam Melejit, Sinyal Tekanan Inflasi Pangan Nasional

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 10:02 WIB

Terkini

4 Ide OOTD Romantic Soft Girl ala A-na Hearts2Hearts yang Super Gemas!

4 Ide OOTD Romantic Soft Girl ala A-na Hearts2Hearts yang Super Gemas!

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 13:00 WIB

Purbaya Tegaskan Kebijakan Layer Tarif Cukai Rokok Berlaku Tahun Ini, Tinggal Tunggu DPR

Purbaya Tegaskan Kebijakan Layer Tarif Cukai Rokok Berlaku Tahun Ini, Tinggal Tunggu DPR

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:56 WIB

Jadwal Perempat Final VNL Putri 2026, 22-23 Juli: Brasil Hadapi Jepang

Jadwal Perempat Final VNL Putri 2026, 22-23 Juli: Brasil Hadapi Jepang

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:52 WIB

Wali Kota Muslim New York Zohran Mamdani Batal Tangkap Benjamin Netanyahu, Kenapa?

Wali Kota Muslim New York Zohran Mamdani Batal Tangkap Benjamin Netanyahu, Kenapa?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:48 WIB

Kenapa 23 Juli Diperingati sebagai Hari Anak Nasional? Begini Sejarahnya

Kenapa 23 Juli Diperingati sebagai Hari Anak Nasional? Begini Sejarahnya

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:48 WIB

Sudaryono Jadi Kepala BGN yang Baru, Dilantik Sore Ini

Sudaryono Jadi Kepala BGN yang Baru, Dilantik Sore Ini

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:45 WIB

9 Jam Tangan Pintar Anti Air untuk Aktivitas Outdoor yang Murah, Mulai Rp200 Ribuan

9 Jam Tangan Pintar Anti Air untuk Aktivitas Outdoor yang Murah, Mulai Rp200 Ribuan

Tekno | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:44 WIB

Apple Naikkan Harga Langganan iCloud Plus di Indonesia Mulai Juli 2026

Apple Naikkan Harga Langganan iCloud Plus di Indonesia Mulai Juli 2026

Tekno | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:44 WIB

25 Link Poster Ucapan Hari Anak Nasional 2026, Desain Menarik untuk Dibagikan ke Medsos

25 Link Poster Ucapan Hari Anak Nasional 2026, Desain Menarik untuk Dibagikan ke Medsos

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:43 WIB

DJP Bisa Intip Rekening Warga, Purbaya: Coretax Lebih Mengerikan

DJP Bisa Intip Rekening Warga, Purbaya: Coretax Lebih Mengerikan

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 12:40 WIB

×