Kisah Tani Kota Sejati 58 Kebagusan, Saat Tumpukan Sampah Disulap Jadi Hamparan Hijau

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 24 Juli 2026 | 10:51 WIB
Kisah Tani Kota Sejati 58 Kebagusan, Saat Tumpukan Sampah Disulap Jadi Hamparan Hijau
Penggerak Komunitas Tani Kota Sejati-58 Kebagusan (dok.pribadi/Chairun Nisa)

Suara.com - Sulit membayangkan hamparan hijau masih dapat dijumpai di tengah kota. Di sela bangunan yang menjulang tinggi dan lalu lalang kendaraan, sebidang lahan di Kebagusan justru menyuguhkan pemandangan yang tak biasa.

Hari itu saya ditugaskan untuk bertemu dengan sebuah komunitas urban farming, Tani Kota Sejati-58 Kebagusan, yang mengelola lahan hijau di tengah padatnya Jakarta.

Begitu menginjakkan kaki di kawasan Pasar Minggu, tepatnya di Kebagusan, suasana langsung terasa berbeda. Pepohonan rindang menyambut kedatangan saya. Hiruk pikuk ibu kota perlahan memudar, berganti dengan udara yang lebih sejuk.

Suara ayam berkokok dan gemericik air dari kolam terdengar bersahutan.

Orang pertama yang saya temui adalah Ali. Ia sedang duduk santai di dekat kebun ketika saya menanyakan keberadaan Andhi, penggerak komunitas tersebut.

Sambil menunggu, pandangan saya tertuju pada sebuah banner bertuliskan "Tani Kota Sejati-58 Kebagusan". Di belakangnya, pohon pepaya dan pisang tumbuh mengelilingi area kebun.

Pintu kebun terbuka. Aneka tanaman memenuhi hampir setiap sudut lahan.

Ali kemudian mengajak saya berkeliling. Ia memperkenalkan satu per satu tanaman yang dibudidayakan di sana. Di salah satu petak, ia berhenti, lalu mencabut segenggam kacang merah yang masih menempel pada akarnya.

"Ini kacang merah semua, enggak yang merah satu-satu. Kalau dijual di pasaran bisa mahal," katanya sambil memperlihatkan hasil panen tersebut.

baca juga

Menurut Ali, kacang merah organik memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan hasil budidaya biasa.

Tak lama kemudian, Andhi datang menyambut saya. Di bawah gubuk beratapkan seng yang berdiri di tengah kebun, ia mulai menceritakan bagaimana Tani Kota Sejati-58 Kebagusan lahir.

Bau Tak Sedap menjadi Titik Awal

Andhi menunjuk ke arah perkebunan yang terbentang di hadapan kami. Sulit dipercaya, lahan yang sekarang  ini dipenuhi pepohonan, tanaman sayur, hingga kolam ikan itu pernah menjadi tempat pembuangan sampah liar.

Pada awalnya lahan ini adalah tempat pembuangan puing-puing rumah tangga. Ditemukan banyak sampah organik maupun anorganik memenuhi kawasan tersebut.

Andhi membeberkan bahwa ia termasuk pendatang baru di wilayah ini saat masa-masa pandemi COVID-19. Kondisi itu memaksanya untuk melakukan berbagai aktivitas dari rumah, termasuk bekerja (work from home). 

“Rumah saya kebetulan ada lubang (void), terus pas lagi kerja itu tiba-tiba ada bau. Jaraknya sekitar 80 sampe 100 meter lah (dari kebun),” katanya.

Menurut Andhi, bau menyengat itu masih dapat tercium meski rumahnya berjarak 80 meter dari lokasi. Kondisi tersebut membuatnya bertanya-tanya dari mana aroma itu berasal hingga akhirnya ia mengetahui bahwa sumbernya bersumber dari lahan yang kini telah berubah menjadi kebun ini.

“Pas begitu boleh mulai keluar, saya keliling dan ketemu ibu-ibu bank sampah. Dulu ini belum ada pagar, masih terbuka. Begitu saya keliling, ketemulah di sini kubangan. Lemari, kursi bekas, kasur, karpet, pampers, botol, beling,” ujarnya.

Meskipun ada bank sampah,hal ini  tidak menyelesaikan permasalahan bau menyengat tersebut. Sampah-sampah yang dikumpulkan itu sudah melalui proses pemilahan, sehingga sampah yang benar-benar sudah tidak bernilai guna tetap menjadi sampah.

“Walaupun ada bank sampah, orang kan gak mau ambil yang udah jadi kotoran. Kan itu permasalahannya,” bebernya.

Dari situlah Andhi tak ingin tinggal diam. Bersama pengurus RT dan warga sekitar, ia mulai membersihkan lahan yang selama ini menjadi tempat sampah. Sedikit demi sedikit, tumpukan sampah diangkut, termasuk merapikan lahan.

“Yang bisa gerakin warga kan ya RT,” tutur Andhi.

Awalnya gerakan ini melibatkan belasan warga, tetapi perlahan berkurang karena perbedaan kesibukan. Pernah waktu itu hanya tersisa dua orang sampai saat ini terhitung tiga orang yang bertahan (Andhi, Zul, dan Ali).

“Tapi mereka cuma kerja beberapa kali, abis itu turun, sembilan orang, lima orang,” tambahnya.

Langkah Kecil Berdampak Besar

Membersihkan lahan itu ternyata bukan akhir dari perjalanan mereka. Justru dari sanalah semuanya dimulai.

Perlahan, apa yang dilakukan Andhi dan warga mulai menarik perhatian.

Sebelum Tani Kota Sejati-58 Kebagusan terbentuk, kawasan ini sebenarnya sudah meraih sertifikat Program Kampung Iklim (ProKlim) tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 2023. Namun, ketika diusulkan mengikuti penilaian tingkat nasional setahun kemudian, pengelolaan kebun menjadi salah satu bagian yang ikut dilibatkan.

"Dari tingkat provinsi ke nasional, tentu ada perubahan yang signifikan dong. Pak RW jadi ketuanya, saya dijadikan wakil," kata Andhi.

Menurutnya, mengikuti ProKlim tingkat nasional membutuhkan persiapan yang jauh lebih besar. Upaya menjaga lingkungan tidak lagi bergantung pada segelintir orang, tetapi harus melibatkan seluruh warga.

Pengurus RW kemudian membagi 10 RT ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing memiliki tugas berbeda agar program berjalan dan tetap berkelanjutan.

"Sepuluh RT dibagi beberapa kelompok. Karena ProKlim ini historinya enggak boleh hilang. Ini kan baru, 2024," ujarnya.

Persiapan itu juga membuka peluang kolaborasi. Bantuan mulai berdatangan dari berbagai pihak, mulai dari sarana dan prasarana hingga bibit tanaman.

"Begitu berjalan, singkat cerita kami juga dibantu karena tingkat nasional ya, bantuan juga dari mana-mana," katanya.

Bagi Andhi, pencapaian ProKlim tingkat nasional bukan semata soal penghargaan. Yang lebih penting adalah tumbuhnya keterlibatan warga dalam merawat lingkungan tempat mereka tinggal.

Kini, lahan yang dahulu dipenuhi tumpukan sampah telah berubah menjadi kebun yang ditanami beragam sayuran, pohon buah, dan kolam ikan. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari kerja bersama yang dilakukan sedikit demi sedikit.

Perjalanan Tani Kota Sejati-58 Kebagusan menunjukkan bahwa perubahan bisa berawal dari sebuah keresahan. Ketika keresahan itu bertemu dengan kemauan untuk bergerak dan gotong royong, ruang yang sebelumnya terbengkalai dapat memiliki fungsi baru bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketika Pakan Satwa Dikorupsi: Ironi Ketidakadilan Mahluk yang Tak Bersuara

Ketika Pakan Satwa Dikorupsi: Ironi Ketidakadilan Mahluk yang Tak Bersuara

Your Say | Jum'at, 24 Juli 2026 | 10:00 WIB

Berapa Harga Tiket Masuk Kebun Binatang Surabaya? Eks Dirutnya Jadi Tersangka Korupsi

Berapa Harga Tiket Masuk Kebun Binatang Surabaya? Eks Dirutnya Jadi Tersangka Korupsi

Lifestyle | Kamis, 23 Juli 2026 | 16:19 WIB

Eks Dirut KBS Korupsi Pakan Hewan Rp10,2 Miliar: Saat Manusia Lebih Buas dari Predator

Eks Dirut KBS Korupsi Pakan Hewan Rp10,2 Miliar: Saat Manusia Lebih Buas dari Predator

Your Say | Kamis, 23 Juli 2026 | 17:15 WIB

Terkini

Rp49 Triliun Uang Rakyat Raib Kena Scam, Ini Ternyata Industri Besar!

Rp49 Triliun Uang Rakyat Raib Kena Scam, Ini Ternyata Industri Besar!

Video | Rabu, 16 September 2026 | 17:10 WIB

Diskon Ramen Haraku Terbaru: Bayar Pakai QRIS BRImo, Dapat Cashback hingga Rp100 Ribu!

Diskon Ramen Haraku Terbaru: Bayar Pakai QRIS BRImo, Dapat Cashback hingga Rp100 Ribu!

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 17:09 WIB

Bukan Soal Biaya, Mengapa ESG Perlu Dilihat Sebagai Cara Kelola Risiko?

Bukan Soal Biaya, Mengapa ESG Perlu Dilihat Sebagai Cara Kelola Risiko?

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:00 WIB

Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang

Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 17:00 WIB

Inul Daratista Ungkap Cara Manjakan Kucing Kesayangan, Ternyata Waktu Makan Jadi Momen Bonding

Inul Daratista Ungkap Cara Manjakan Kucing Kesayangan, Ternyata Waktu Makan Jadi Momen Bonding

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 16:59 WIB

Spesifikasi Redmi Note 17 Series Lengkap, Ada yang Bawa Baterai 10.000 mAh & Anti Air 72 Jam

Spesifikasi Redmi Note 17 Series Lengkap, Ada yang Bawa Baterai 10.000 mAh & Anti Air 72 Jam

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 16:58 WIB

Menkeu Suahasil Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahlil hingga Dony Oskaria Ikut Hadir

Menkeu Suahasil Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahlil hingga Dony Oskaria Ikut Hadir

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:56 WIB

Kembalinya Harta Karun Sasak, Kain Tenun Berusia Seabad Lebih

Kembalinya Harta Karun Sasak, Kain Tenun Berusia Seabad Lebih

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 16:56 WIB

Bhimasena Run for Whale Shark 2026: Saat Langkah Kaki Membawa Pesan untuk Laut

Bhimasena Run for Whale Shark 2026: Saat Langkah Kaki Membawa Pesan untuk Laut

Jawa Tengah | Rabu, 16 September 2026 | 16:54 WIB

Flash Sale BRImo: Beli Pulsa Cukup Bayar Pakai Uang Koin Rp1

Flash Sale BRImo: Beli Pulsa Cukup Bayar Pakai Uang Koin Rp1

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 16:48 WIB

×