- Telinga berdenging sering dikaitkan dengan anggapan bahwa ibadah seseorang tidak diterima, meski kepercayaan tersebut belum tentu memiliki dasar dalam ajaran Islam.
- Dalam Islam, diterima atau tidaknya ibadah merupakan hak Allah SWT dan tidak dapat dipastikan melalui tanda-tanda fisik.
- Berikut penjelasan Buya Yahya mengenai mitos telinga berdenging agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahaminya.
Suara.com - Di tengah masyarakat, masih banyak beredar anggapan yang mengaitkan berbagai kondisi tubuh dengan pertanda tertentu, termasuk telinga berdenging.
Salah satu kepercayaan yang kerap muncul adalah anggapan bahwa telinga berdenging merupakan tanda ibadah seseorang tidak diterima.
Keyakinan semacam ini sering menimbulkan rasa khawatir, terutama bagi orang yang sedang berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya.
Padahal, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar yang benar menurut ajaran Islam sehingga perlu disikapi dengan bijak.
Dalam Islam, penilaian terhadap diterima atau tidaknya suatu ibadah merupakan hak Allah SWT dan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan tanda-tanda fisik tertentu.
Oleh karena itu, penting untuk memahami penjelasan para ulama agar tidak mudah mempercayai mitos atau anggapan yang belum memiliki landasan yang jelas.
Kira-kira, benarkah telinga berdenging menjadi tanda ibadah ditolak? Ini penjelasan Buya Yahya agar tidak salah memahami persoalan ini dan dapat menyikapinya sesuai dengan tuntunan Islam.
Penjelasan Buya Yahya soal Telinga Berdenging

Fenomena telinga berdenging sering dikaitkan dengan berbagai mitos di masyarakat. Ada yang meyakini kondisi tersebut sebagai pertanda ibadah tidak diterima, panggilan Nabi Muhammad SAW, hingga isyarat akan terjadi sesuatu dalam hidup seseorang.
Menanggapi anggapan tersebut, Buya Yahya memberikan penjelasan bahwa telinga berdenging tidak memiliki kaitan dengan pertanda-pertanda semacam itu menurut ajaran Islam.
Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menghubungkan suatu kondisi fisik dengan hal-hal yang tidak memiliki dasar syariat.
"(Telinga berdenging) Jangan dihubung-hubungkan dengan dipanggil Nabi dan sebagainya. Nabi memanggil setiap hari kepada kita kok. 'Ayo salat, ayo ibadah, ayo ini'. Jangan nunggu berdenging telinga," jelas Buya Yahya, dilansir dari YouTube Al Bahjah TV pada Jumat, 24 Juli 2026.
Beliau juga menegaskan bahwa umat Islam tidak perlu mencari makna khusus di balik telinga berdenging.
"Jangan menghubung-hubungkan hal demikian itu. Tidak tahu itu perintah di mana. Pertanyaan boleh-boleh saja, maka kami jawab, 'Enggak. Telinga berdenging, ya berdenging'," tegas Buya Yahya lagi.
Menurut Buya Yahya, jika telinga berdenging terjadi berulang atau terasa mengganggu, langkah yang lebih tepat adalah memeriksakannya dari sisi kesehatan.
Sebab, kondisi tersebut bisa saja dipicu oleh gangguan medis yang memerlukan penanganan, bukan pertanda spiritual.
Karena itu, Buya Yahya menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.
"Itu berdenging, tanya ke dokter. Ada tekanan apa begitu, kurang ini sehingga berdenging. Insya Allah seperti itu. Kok sering banget? Ya mungkin penyakitmu agak kuat," jelasnya.
Melalui penjelasan tersebut, Buya Yahya mengajak umat Islam agar lebih berpegang pada dalil yang jelas daripada mempercayai mitos yang beredar di masyarakat.
Apabila mengalami telinga berdenging, sikap yang bijak adalah tetap beribadah seperti biasa dan memeriksakan kondisi tersebut ke dokter jika berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain.
Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui laman resminya menjelaskan bahwa terdapat sebuah hadis yang menganjurkan seorang Muslim untuk mengingat Allah, bershalawat kepada Rasulullah SAW, serta mendoakan kebaikan bagi orang yang sedang membicarakan dirinya dengan baik ketika mengalami telinga berdenging.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Suyuthi dan juga memiliki riwayat serupa dari Imam al-Thabrani dengan makna yang sama. Dalam hadis tersebut disebutkan:
"Jika berdengung telinga seseorang dari kalian, maka hendaklah ia mengingat aku, bershalawat atasku, dan berkatalah (berdoa): semoga Allah membicarakan kebaikan orang yang membicarakan kebaikanku."
MUI menjelaskan bahwa hadis ini mendorong umat Islam untuk merespons fenomena telinga berdenging dengan memperbanyak zikir, shalawat, dan doa, bukan dengan rasa takut atau keyakinan terhadap pertanda buruk.
MUI juga mengutip penjelasan sejumlah ulama mengenai hadis tersebut.
Salah satunya Imam al-Shan'ani yang menerangkan bahwa telinga berdenging dikaitkan dengan adanya orang yang sedang membicarakan kebaikan seseorang sehingga dianjurkan untuk membalasnya dengan doa.
Sedangkan Imam al-Munawi menjelaskan bahwa telinga berdenging merupakan tanda Rasulullah SAW menyebut kebaikan orang tersebut di alam ruh.
Penjelasan ini merupakan syarah (penafsiran) para ulama terhadap hadis yang dikutip MUI, sehingga dipahami sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam, bukan sebagai kepastian yang disepakati seluruh ulama. Wallahu A'lam bissawab.