Suara.com - Upaya menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan kebijakan. Perilaku orang-orang di sekitar seseorang juga dapat memengaruhi keputusan mereka untuk mengambil tindakan terkait perubahan iklim, menurut sebuah penelitian terbaru.
Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change tersebut mengkaji bagaimana social influence atau pengaruh sosial dapat digunakan untuk mendorong keterlibatan dan aksi iklim.
Peneliti dari Center for Climate Change and Social Transformations (CAST) dan School of Psychology Cardiff University, Dr Briony Latter, mengatakan berbagai kelompok masyarakat dapat berperan sebagai pihak yang memengaruhi perilaku terkait iklim.
Mereka antara lain selebritas, atlet, tenaga kesehatan, pemuka agama, politisi, pemilik usaha, keluarga, teman hingga tetangga.
“Kami ingin mengumpulkan bukti tentang pengaruh yang dimiliki berbagai kelompok orang dan berbagai cara mereka dapat memainkan peran penting dalam keterlibatan dan tindakan terkait perubahan iklim,” kata Latter, dikutip dari Phys.org, Rabu (5/8).
Para peneliti menggunakan empat kerangka untuk melihat bagaimana pengaruh sosial bekerja dalam mendorong aksi iklim.
Pertama adalah pembawa pesan (the messenger). Pesan dinilai lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh orang yang dipercaya, memiliki kredibilitas, atau dianggap dekat dengan penerima pesan.
Kedua adalah audiens (the audience). Peneliti menilai respons seseorang terhadap pesan iklim dapat berbeda berdasarkan usia, pendapatan, nilai, identitas dan keyakinan.
Karena itu, pesan yang sama tidak selalu efektif untuk setiap kelompok.
Audiens juga tidak dipandang sebagai penerima informasi secara pasif. Mereka dapat merespons melalui percakapan, pertanyaan dan diskusi.
Ketiga adalah cara pengaruh bekerja (the mode of influence). Pengaruh sosial dapat muncul melalui percakapan sehari-hari, media massa, media sosial, kebijakan, maupun ketika seseorang melihat perilaku orang lain sebagai contoh.
Dalam konteks ini, norma sosial menjadi salah satu faktor penting. Seseorang cenderung mengikuti perilaku yang dianggap lazim atau diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Keempat adalah ranah perilaku (the behavioral domain), yaitu perilaku yang hendak diubah, seperti pilihan transportasi, pola makan, penggunaan energi, partisipasi sipil dan perilaku di tempat kerja.
Menurut penelitian tersebut, perilaku yang mudah diamati orang lain atau memiliki makna sosial cenderung lebih dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Pilihan ramah lingkungan perlu menjadi kebiasaan
Anggota CAST dari Department of Psychology University of Bath, Dr Sam Hampton, mengatakan kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim belum sepenuhnya diikuti perubahan perilaku dalam skala yang dibutuhkan.
“Pilihan dan gaya hidup ramah lingkungan perlu menjadi arus utama,” kata Hampton.
Menurut dia, pengaruh sosial dapat dimanfaatkan untuk membuat perilaku ramah lingkungan semakin umum dilakukan.
Para peneliti menemukan sejumlah contoh keberhasilan penggunaan pengaruh sosial dalam mendorong aksi iklim. Namun, pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan jenis perilaku dan kelompok yang menjadi sasaran.
Pembawa pesan juga tidak harus selalu tokoh terkenal. Selebritas, merek, tokoh komunitas, keluarga, teman, dan orang-orang yang dianggap dekat dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku terkait iklim tidak hanya ditentukan oleh informasi yang diterima seseorang, tetapi juga oleh siapa yang menyampaikannya, kepada siapa pesan itu ditujukan, bagaimana pesan disampaikan, dan perilaku apa yang hendak diubah.
Penulis: Chairunisa