- Indonesia PR of the Year 2026 menyoroti pentingnya peran PR dalam membangun kepercayaan publik di tengah perkembangan teknologi AI.
- Praktisi komunikasi didorong memadukan kekuatan teknologi dengan sentuhan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan komunikasi.
- Ajang Indonesia PR of the Year 2026 mengukur dampak program komunikasi secara komprehensif berdasarkan data digital dan jurnalis.
Kampanye tersebut diluncurkan ketika demonstrasi massa berpotensi mengganggu operasional transportasi publik. Alih-alih hanya berkomunikasi mengenai kondisi layanan, tim komunikasi MRT Jakarta mengubah situasi tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat ikut menjaga fasilitas publik.
Kampanye itu kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif yang membawa pesan bahwa menjaga fasilitas publik berarti ikut menjaga Jakarta.
Rendy Primartantyo, Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda), membagikan pengalaman tersebut dalam forum dengan topik “Hybrid PR Dalam Kampanye #JagaJakarta”.
Pendekatan komunikasi tersebut juga mengantarkan kampanye #JagaJakarta menjadi salah satu pemenang PR of the Year 2026 dengan predikat Excellent.
Kampanye ini menjadi gambaran bagaimana PR modern tidak hanya dituntut bergerak cepat saat krisis, tetapi juga mampu mengubah situasi yang penuh tantangan menjadi komunikasi yang relevan dan mengajak publik terlibat.
PR of the Year Ukur Dampak, Bukan Sekadar Eksposur
Memasuki penyelenggaraan ke-19, Indonesia PR of the Year 2026 memberikan apresiasi terhadap program komunikasi korporat sekaligus para praktisi PR di Indonesia.
Tahun ini terdapat 174 entries, yang terdiri dari 40 program Public Relations, 43 tim Corporate Communication, 10 agensi PR atau Corcomm, 35 spokesperson, 24 senior practitioners, 17 junior practitioners, serta lima instansi pemerintah atau lembaga negara.
Menariknya, penilaian tidak hanya melihat kualitas program dari perspektif para ahli. MIX MarComm juga menggunakan pengukuran kuantitatif melalui engagement rate di kanal digital serta validasi dari para jurnalis yang aktif meliput dunia bisnis.
Pengukuran tersebut mencakup tiga aspek, yakni output, berupa pemberitaan program; outcome dan impact, melalui diskusi serta wawancara dengan pemilik program; dan outtakes, melalui data crawling menggunakan Ripple10 Digital Listening Tools dari Ivosights.
Dengan pendekatan tersebut, sebuah program PR tidak hanya dinilai dari seberapa banyak pemberitaan yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana program tersebut diterima, dibicarakan, dan memberikan dampak kepada publik.