- Irresistible Bazaar meluncurkan inisiatif bernama Irress Local pada Agustus 2026 untuk mendukung perkembangan fesyen lokal Indonesia.
- Sebanyak sebelas merek fesyen lokal pilihan hadir dalam acara di Kota Kasablanka pada 26 hingga 30 Agustus 2026.
- Inisiatif ini bertujuan mempertemukan konsumen dengan merek lokal berkualitas tinggi guna membangun komunitas serta mendorong pertumbuhan bersama.
Suara.com - Perkembangan fashion lokal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang semakin menarik. Bukan hanya dari sisi desain, tetapi juga keberanian brand lokal membangun identitas, komunitas, hingga menghadirkan produk yang mampu bersaing dengan merek dari luar negeri.
Semangat tersebut kini mendapat ruang baru melalui Irress Local, inisiatif terbaru dari Irresistible Bazaar yang diluncurkan pada Agustus 2026. Bagi Founder Irresistible Bazaar, Marisa Tumbuan, kehadiran Irress Local merupakan kelanjutan dari komitmen yang sebenarnya sudah dibangun selama bertahun-tahun.
“Sudah lama brand lokal berkualitas yang lolos kurasi kami ikut dalam acara bazaar. Namun memang secara persentase masih terbilang di bawah 10 persen. Kali ini antusiasme dari sesama brand lokal kian meningkat dan kami pun menyambut dengan terbuka dan siap mendukung penuh,” ujar Marisa.
Selama 11 tahun, Irresistible Bazaar telah dikenal sebagai ruang bagi produk fashion luxury, branded, preloved hingga vintage. Pengalaman panjang tersebut menjadi modal untuk menghadirkan Irress Local dengan pendekatan berbeda: mempertemukan konsumen dengan brand lokal yang telah melalui proses kurasi.
Menurut Marisa, pemilihan brand tidak dilakukan sembarangan. Tim mempertimbangkan konsistensi dan kualitas produk, nilai brand, kekuatan komunitas pelanggan, hingga respons dan ulasan masyarakat.
Pada penyelenggaraan Irresistible BazaarKota Kasablanka, 26–30 Agustus 2026, Irress Local menghadirkan 11 brand, yakni Bazia, Cotton Ink, Dambha Official, Dibba Official, Haidee & Orlin, MKS Shoes, Sroja, Samadengan The Labels, Riera Homewear, Rolland Studio Eyewear, serta Wou Batik By Leny Rafael.
Masing-masing membawa karakter yang berbeda. Haidee & Orlin, yang telah berjalan selama 11 tahun, dikenal lewat busana modest dengan sentuhan detail serta lini Haidee & Orlin Club yang menggarap fashion olahraga.
Sementara Rolland Studio Eyewear menjadi representasi generasi baru. Brand milik Adhitya tersebut baru berusia lima bulan, tetapi sudah mulai membangun perhatian melalui desain kacamata yang unisex, mengikuti tren dan dapat menjadi aksesori fashion sekaligus menunjang kebutuhan penglihatan.
Ada pula Wou Batik, yang lahir dari pengalaman panjang Leny Rafael di dunia fashion. Menggabungkan kekayaan batik dengan pendekatan ready-to-wear, WOU Batik berupaya membawa kain tradisional ke gaya yang lebih mudah dikenakan sehari-hari.
Kemudian Dibba Official menawarkan pendekatan desain yang lebih eksentrik dan modern. Brand ini belakangan turut menarik perhatian setelah dikenakan sejumlah figur publik, termasuk Anggun, NO-NA dan Puteri Indonesia 2026.
Bagi para pelaku usaha tersebut, Irres Local bukan sekadar kesempatan berjualan secara offline. Kehadiran konsumen secara langsung dinilai penting untuk membangun pengalaman terhadap produk dan memperluas komunitas.
Marisa pun berharap Irress Local dapat berkembang menjadi barometer baru bagi bazaar brand lokal berkualitas. “Tidak saling berkompetisi tapi saling mendukung melalui kolaborasi yang positif dan baik,” tuturnya.
Semangat itu menjadi semakin relevan ketika industri fashion menghadapi kondisi ekonomi yang menantang. Alih-alih berjalan sendiri-sendiri, Irress Local menawarkan gagasan sederhana: brand lokal dan pemain fashion lainnya bisa tumbuh bersama melalui kolaborasi, kualitas, dan ruang bertemu dengan konsumen.