- Dalam Islam, mimpi terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain mimpi baik sebagai kabar gembira, mimpi buruk dari setan, serta mimpi yang berasal dari pikiran atau bisikan jiwa.
- Mimpi yang menimbulkan rasa takut, sedih, atau gelisah perlu disikapi dengan cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
- Artikel ini membahas mimpi yang tidak dianjurkan untuk diceritakan kepada orang lain serta amalan yang sebaiknya dilakukan setelah mengalaminya.
Dalam penjelasan Buya Yahya, mimpi tersebut dapat diceritakan kepada orang alim atau orang yang dipercaya dan disayangi jika memang diperlukan untuk mendapatkan nasihat, bukan untuk membesar-besarkan atau sibuk menafsirkan mimpi tersebut.
Sementara itu, mimpi baik tidak termasuk mimpi yang dilarang untuk diceritakan. Rumaysho menjelaskan bahwa mimpi baik merupakan kabar gembira dan seseorang dianjurkan memuji Allah SWT.
Ada pula mimpi yang tidak memiliki maksud tertentu dan hanya merupakan hasil pikiran atau pengalaman seseorang yang terbawa ke dalam tidur.
Jenis mimpi ini disebut sebagai bisikan jiwa atau haditsun nafs, sehingga tidak otomatis masuk dalam kategori mimpi buruk yang tidak boleh diceritakan.
Jadi, jika merujuk pada penjelasan ulama dan hadis Nabi, mimpi yang tidak dianjurkan untuk diceritakan adalah mimpi buruk atau mimpi yang tidak disukai.
Ketika mengalaminya, seorang Muslim dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah, meludah ringan ke kiri tiga kali, mengubah posisi tidur, dan tidak menceritakannya kepada sembarang orang.
Wallahu a'lam bissawab.