- Jittlada Group membuka restoran SaaWaan Thai Bistro & Tea Room di Astha District 8, Jakarta, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
- Restoran ini menyajikan menu autentik berkat chef asal Chiang Rai yang memadukan resep keluarga dengan pendekatan modern.
- Manajemen menyesuaikan tingkat kepedasan dan keasaman menu agar cocok dengan preferensi rasa masyarakat Indonesia.
Suara.com - Cita rasa kuliner Thailand ternyata tidak seragam. Setiap wilayah memiliki karakter rasa dan kekayaan kuliner yang berbeda, termasuk Chiang Mai di bagian utara Thailand.
Karakter tersebut kini coba dibawa ke Indonesia oleh SaaWaan Thai Bistro & Tea Room, restoran di bawah Jittlada Group yang baru membuka cabang di Astha District 8 di Senopati, Jakarta.
Operational Director & Business Development Jittlada Group, Mr. Patrick Soebyantoro, mengatakan inspirasi menu Saawaan banyak berasal dari Northern Thailand, khususnya Chiang Mai dan Chiang Rai.
Hal ini tidak lepas dari sosok executive chef baru Saawaan yang berasal dari Chiang Rai dan membawa pengalaman home cooking dari keluarganya.
"Jadi kita inspirasi dari Chiang Mai itu chef kita dari Chiang Rai. Jadi Chiang Rai itu dekat Chiang Mai, di northern part of Thailand," ujar Patrick saat opening ceremony di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, sang koki mempelajari banyak resep dari ibu dan neneknya. Pengalaman tersebut kemudian dipadukan dengan konsep Saawaan untuk menghasilkan menu Thailand yang tetap memiliki karakter autentik, tetapi disajikan dengan pendekatan yang lebih modern.
"Dia punya home cooking. Dia belajar dari ibunya, dari grandma-nya. Jadi itu inspirasi kita work together, make new menu," katanya.
Salah satu menu yang menjadi signature Saawaan adalah Chiang Mai Curry. Ada pula chicken polo, yang merupakan versi fried chicken khas Thailand, serta sejumlah menu lain yang mengambil inspirasi dari berbagai wilayah Thailand.
"Yang pasti harus dicoba itu kita punya Chiang Mai Curry yang signature dari chef. Ada chicken polo, itu kayak fried chicken lah, fried chicken Thailand style," ujar Patrick.
Patrick menjelaskan, karakter makanan Thailand dapat berbeda tergantung daerah asalnya. Bahkan hidangan yang namanya sama, seperti tom yum, bisa memiliki cita rasa yang berbeda ketika disantap di wilayah yang berbeda.

"Depending you ke region Thailand yang mana, itu flavor-nya bisa beda. Tom Yum, semua Tom Yum bisa rasanya beda," jelasnya.
Untuk Saawaan, karakter rasa secara umum dibuat lebih dekat dengan cita rasa Bangkok karena dianggap lebih familiar bagi masyarakat Indonesia yang biasanya menjadikan Bangkok sebagai destinasi utama ketika berkunjung ke Thailand.
"Most people masih ke Bangkok. Jadi kita flavor-nya sedikit kayak Bangkok," katanya.
Meski demikian, Saawaan tidak hanya mengambil inspirasi dari Bangkok. Beberapa menu tetap mengadopsi karakter kuliner dari Northern Thailand karena latar belakang executive chef yang berasal dari Chiang Rai.
"Kita ada menu-menu lain yang inspirasi dari region-region Thailand yang lebih beda. Dari North, dari South. Kalau Saawaan karena chef kita dari North ya, inspiration beberapa menu dari North, part of Thailand," ujar Patrick.
Meski membawa inspirasi dari Thailand, Saawaan tidak sepenuhnya mempertahankan rasa tanpa penyesuaian. Patrick mengakui karakter lidah masyarakat Indonesia tetap menjadi pertimbangan ketika menyusun menu.

"Kita pasti harus make sure untuk mulut Indonesia cocok ya. Itu for sure," katanya.
Penyesuaian tersebut dilakukan secara terbatas, misalnya terkait tingkat kepedasan atau keasaman. Namun, Patrick menegaskan resep utama tetap berasal dari chef dan bukan semata-mata hasil modifikasi agar sesuai dengan pasar Indonesia.
"Kita cuman kasih sedikit guidance. Mau bikin lebih asem, mau bikin lebih pedas. Kita kasih sedikit-sedikit pointer-pointer. Tapi semua resep emang dari chef yang bikin," pungkas Patrick.