Suara.com - Ada satu kepercayaan yang mungkin masih diwariskan oleh leluhur kita selama ini: kalau ada kupu-kupu masuk rumah, itu pertanda akan ada tamu atau kabar yang datang menghampiri.
Jika yang hinggap adalah kupu-kupu bercorak cerah, konon artinya kabarnya baik. Kepercayaan semacam ini terdengar seperti dongeng atau cerita fiktif yang biasa disampaikan oleh nenek, tak perlu dipercaya serius.
Namun menariknya, sains justru mengonfirmasi ada benang merah dari mitos itu. Bukan soal tamu atau rezeki, tapi soal sinyal. Kupu-kupu memang datang membawa kabar, hanya saja kabarnya tentang bumi yang sedang berubah.
Ketika Kupu-kupu Beramai-ramai Pindah Rumah

Pertengahan tahun 2026, tim peneliti dari Monash University merilis sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Nature Ecology & Evolution. Mereka menelusuri sebaran 1.758 spesies kupu-kupu di 105 negara, dan hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, satu dari sepuluh spesies kupu-kupu di dunia sudah bergeser dari wilayah asalnya.
Sekitar 80 persen dari pergeseran itu berkaitan dengan perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Sisanya dipicu ulah manusia, mulai dari alih fungsi lahan, pertanian intensif, urbanisasi, sampai fragmentasi habitat.
Pergeserannya pun tak main-main sangat cepat. Kupu-kupu "tawny coster" misalnya, aslinya hanya ditemukan di India, Bangladesh, dan Sri Lanka.
Sejak masuk ke Australia tahun 20212, spesies ini merambah wilayah baru dengan kecepatan 135 kilometer per tahun. Ada juga kupu-kupu yang memilih naik ke dataran lebih tinggi, mengejar suhu yang masih nyaman untuk bertahan hidup.
Sayangnya, ekspansi wilayah bagi kupu-kupu bukan berarti kabar gembira. Menurut peneliti utama studi ini, Dr. Shawan Chowdhury, kupu-kupu adalah indikator dini, dan pergeseran sedrastis ini menandakan perubahan besar sedang terjadi di seluruh ekosistem.
Sekitar 27 persen spesies lain justru mengalami nasib sebaliknya: wilayah jelajahnya menyusut, bahkan menghilang dari tempat yang dulu jadi rumahnya. Penyusutan ini paling terasa di Eropa dan Amerika Utara, sementara perluasan wilayah lebih banyak terjadi di kawasan tropis.
Yang membuat situasi lebih pelik, kawasan tropis termasuk Indonesia justru menjadi wilayah yang paling minim data pemantauan.
Padahal di sinilah kupu-kupu hidup mepet dengan batas suhu toleransinya. Sedikit saja kenaikan panas, ditambah habitat yang terpecah-pecah oleh pembangungan, bisa mendorong mereka melewati ambang batas bertahan hidup.
Kabar dari Kampus IPB: Saat Kupu-kupu Betah Tinggal

Kalau di level global kupu-kupu jadi alarm karena berpindah, ada cerita berbeda dari kampus IPB Universty di Dramaga, Bogor. Di sana, justru soal betahnya kupu-kupu yang jadi kabar baik.
Hingga 2025, tercatat 128 spesies kupu-kupu menghuni kawasan kampus tersebut, mulai dari Graphium agamemnon, Graphium sarpedo, hingga Papilio memnon. Angka ini bukan sekadar statitstik lucu-lucuan, tapi bukti nyata bahwa kawasan itu masih punya keanekaregaman tumbuhan yang sehat.
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr. Abdul Haris Mustari, menjelaskan bahwa setiap jenis kupu-kupu punya selera makan yang spesifik terhadap tumbuhan inang tertentu. Karena itu, semakin beragam tumbuhan di suatu kawasan, semakin beragam pula kupu-kupu yang bisa hidup di sana. Tumbuhan dari famili jeruk-jerukan jadi favorit banyak spesies, begitu juga kembang sepatu, soka, kaliandra, sampai bunga kupu-kupu yang memang namanya sesuai fungsinya.
Menurut Mustari, kupu-kupu adalah indikator kesehatan lingkungan. Semakin beragam jenisnya semakin sehat pula ekosistem yang menopangnya. Ia juga menyebut fenomena menarik: beberapa spesies yang sempat dikira hilang bisa muncul kembali begitu tumbuhan pakannya tersedia lagi. Sebaliknya, saat sumber pakan menipis, populasi kupu-kupu bisa menurun bahkan menghilang untuk sementara.
Kupu-kupu punya siklus hidup pendek, sangat bergantung pada tumbuhan inang tertentu, dan sensitif terhadap perubahan suhu. Kombinasi itu membuat mereka jadi salah satu makhluk pertama yang bereaksi ketika sesuatu berubah di lingkungannya.
Jadi kalau suatu hari kita tak lagi melihat kupu-kupu mampir ke halaman rumah, mungkin bukan berarti rezeki sedang seret. Bisa jadi itu tanda tumbuhan berbunga di sekitar kita sudah berkurang, atau suhu di sana sudah tak lagi nyaman buat mereka singgah.
Penulis: Inesia Dian