- EF Language Abroad Indonesia mengadakan program EF Homestay bagi anak berusia tujuh hingga tujuh belas tahun.
- Program ini berlangsung selama dua hingga tiga minggu di luar negeri untuk melatih kemampuan bahasa secara langsung.
- Peserta didampingi oleh EF Leader selama perjalanan guna memberikan rasa tenang bagi para orang tua di Indonesia.
Suara.com - Belajar bahasa asing sering kali identik dengan buku pelajaran, hafalan kosakata, dan latihan percakapan di dalam kelas. Padahal, kemampuan berbahasa tidak hanya dibentuk dari seberapa banyak kata yang berhasil diingat, tetapi juga dari keberanian menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi anak, pengalaman berkomunikasi langsung dengan orang dari negara lain dapat menjadi proses belajar yang berbeda. Hal sederhana seperti memesan makanan, bertanya arah, berkenalan dengan teman baru, atau menyampaikan pendapat menggunakan bahasa asing bisa melatih kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.
Pendekatan inilah yang menjadi bagian dari pengalaman belajar dalam EF Language Travel, rangkaian program pendidikan internasional yang memungkinkan peserta mempraktikkan bahasa di negara tujuan.
Selain pembelajaran di kelas, peserta mendapat kesempatan mengenal budaya, mengikuti aktivitas kelompok, mengeksplorasi kota, hingga membangun pertemanan internasional.
Salah satu pilihannya adalah EF Homestay Program yang diperuntukkan bagi anak dan remaja usia 7-17 tahun. Program biasanya berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu dan menggabungkan pembelajaran bahasa dengan berbagai kegiatan di luar kelas.
Menurut Country Product Manager EF Language Abroad Indonesia, Agustania Hegia Iskandar, lingkungan baru dapat mendorong anak keluar dari zona nyaman.
“Ketika anak harus mengurus keperluannya sendiri, berkomunikasi dengan teman dari negara lain, dan mengikuti ritme budaya baru, di situlah kemampuan bahasa mereka berkembang karena digunakan secara langsung, bukan sekadar dipelajari di kelas,” ujar Agustania.
Pengalaman tersebut membuat bahasa menjadi alat untuk menjalani aktivitas, bukan sekadar materi pelajaran. Anak terdorong untuk berbicara karena memang membutuhkan komunikasi untuk menyelesaikan berbagai hal.
Di saat yang sama, mereka belajar menghadapi situasi yang mungkin sebelumnya selalu dibantu orang tua. Mengikuti jadwal, menjaga barang pribadi, beradaptasi dengan kebiasaan berbeda, hingga bekerja sama dengan teman menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Pilihan tempat tinggal juga dapat memberikan pengalaman tersendiri. Dalam program tertentu, peserta bisa tinggal bersama Host Family dan mengenal kehidupan keluarga lokal. Ada pula pilihan Residence, tempat peserta tinggal bersama pelajar lainnya dari berbagai latar belakang.
Perjalanan seperti ini secara tidak langsung memperkenalkan anak pada keberagaman. Mereka belajar bahwa cara berkomunikasi, kebiasaan, maupun kehidupan sehari-hari bisa berbeda antara satu negara dan negara lainnya.
Pendampingan pun tetap menjadi bagian dari perjalanan. Untuk program grup, peserta berangkat bersama kelompok dan didampingi EF Leader sejak keberangkatan hingga kembali ke Indonesia.
Menurut Agustania, keberadaan pendamping juga menjadi salah satu hal yang membantu memberikan rasa tenang bagi orang tua.
“Banyak orang tua yang ragu melepas anaknya pergi jauh bukan karena tidak percaya anaknya, tetapi karena tidak tahu siapa yang mendampingi anaknya di sana,” katanya.
Menariknya, manfaat pengalaman tersebut tidak selalu langsung terlihat dari kemampuan bahasa. Perubahan sikap seperti menjadi lebih berani berbicara, bertanggung jawab, mampu beradaptasi, dan tidak mudah bergantung pada orang lain juga dapat menjadi hasil yang dirasakan setelah pulang.
Pada akhirnya, belajar bahasa langsung dari dunia bukan semata tentang seberapa lancar seorang anak berbicara dalam bahasa asing.
Ada proses mengenal lingkungan baru, memahami perbedaan, membangun relasi, dan menemukan kemampuan diri yang mungkin belum pernah mereka sadari sebelumnya.
Sebab terkadang, pelajaran paling berkesan justru hadir ketika anak berani melangkah keluar dari ruang kelas dan menggunakan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan nyata.