-
Erupsi Gunung Anak Krakatau melumpuhkan 2.300 penerbangan dan berdampak pada 270.000 penumpang.
-
Penutupan delapan bandara memaksa para pengguna jasa aviasi beralih ke moda transportasi darat.
-
Lonjakan pemesanan menyebabkan tiket kereta api habis terjual dan perjalanan penumpang membengkak puluhan jam.
Suara.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu kekacauan transportasi massal di Indonesia hingga memaksa ratusan ribu penumpang beralih ke jalur darat. Penutupan delapan bandara utama membuat harga tiket pesawat melonjak drastis dan tiket kereta api ludes terjual.
Pembatalan penerbangan secara mendadak mendesak para pelancong mengatur ulang jadwal perjalanan mereka di tengah terbatasnya moda transportasi alternatif. Sebagian besar penumpang terpaksa menempuh perjalanan darat belasan hingga puluhan jam demi sampai ke tempat tujuan.
Komika asal Malaysia, Jason Leong, menjadi salah satu korban pembatalan penerbangan Batik Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Selangor pada Minggu pagi. Ia memilih terbang melalui Yogyakarta setelah membatalkan rencana penerbangan dari Bandung maupun Surabaya.

Demi mengejar jadwal terbang ke Kuala Lumpur pada Senin sore, Leong harus naik kereta api selama enam jam dari Jakarta menuju Yogyakarta. Keputusannya diambil karena Bandung tidak memiliki penerbangan langsung, sementara Surabaya berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Semeru.
"Saya harus mengatakan bahwa pengaturan dilakukan dengan mudah, tetapi mungkin itu juga karena saya sering bepergian untuk urusan pekerjaan," kata Leong, dikutip dari CNA.
Leong juga mengapresiasi kejelasan informasi serta pembaruan data cuaca dan erupsi dari otoritas Bandara Soekarno-Hatta serta instansi pemerintah terkait.
"Komunikasi dari pihak berwenang bandara sangat jelas dan terus diperbarui, begitu pula informasi dari lembaga-lembaga terkait," ujarnya.
Pengalaman lebih berat dialami oleh travel influencer Achmad Rifyannur yang terjebak pembatalan penerbangan rute Bali menuju Jakarta. Rencana penerbangan singkat selama dua jam berubah menjadi perjalanan darat dan laut yang menguras energi selama 27 jam.
Upaya Achmad memesan tiket pesawat pengganti menuju Bandung juga gagal akibat penutupan ruang udara akibat abu vulkanik. Ia akhirnya memilih rute darat dengan menyeberangi Selat Bali dari Gilimanuk ke Ketapang sebelum melanjutkan perjalanan naik kereta api.
Habisnya tiket kereta langsung menuju Jakarta memaksa Achmad berganti armada kereta api beberapa kali di Jawa Timur.
"Apa yang seharusnya menjadi perjalanan singkat dari Bali ke Jakarta kini memakan waktu sekitar 27 jam," ungkap Achmad.
Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 2.300 penerbangan dibatalkan, ditunda, atau dialihkan hingga Senin pagi. Keputusan penutupan sementara delapan bandara ini memengaruhi rencana perjalanan lebih dari 270.000 penumpang di seluruh Indonesia.
Meskipun Bandara Atung Bungsu di Sumatra Selatan sudah beroperasi kembali, gangguan penerbangan di Banten dan wilayah lain masih melumpuhkan mobilitas nasional. Luasnya paparan sebaran abu vulkanik memaksa regulator menghentikan operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta demi keselamatan penerbangan.
Sejarah mencatat bahwa letusan gunung berbabahaya di Selat Sunda ini selalu membawa dampak signifikan terhadap jalur perhubungan udara dan laut regional. Abu vulkanik berpotensi mematikan mesin pesawat sehingga penutupan ruang udara menjadi prosedur wajib dalam mitigasi bencana aviasi.