- Psikolog UGM dan APA menyarankan masyarakat membatasi konsumsi berita negatif serta mengambil jeda dari media sosial untuk mencegah kecemasan.
- Pembaca harus menggunakan logika serta memverifikasi informasi dari berbagai sumber terpercaya sebelum mempercayai berita yang beredar di media sosial.
- Setiap individu perlu mengenali batasan diri dan fokus pada hal yang dapat dikendalikan guna menjaga kestabilan emosi.
Suara.com - Berita buruk bisa muncul kapan saja, terutama ketika hampir setiap hari kita terhubung dengan media sosial dan berbagai platform berita.
Tanpa disadari, terlalu sering membaca atau melihat informasi negatif dapat membuat pikiran terus dipenuhi rasa khawatir dan tidak tenang.
Situasi tersebut bisa semakin berat ketika satu berita terus muncul berulang kali di linimasa. Paparan informasi yang berlebihan bahkan dapat membuat seseorang merasa kewalahan, cemas, marah, atau seolah-olah tidak memiliki kendali terhadap keadaan.
Karena itu, bukan berarti kita harus menghindari semua berita buruk agar tetap tenang. Yang lebih penting adalah mengatur cara menerima informasi, memastikan kebenarannya, dan memberi batas pada diri sendiri ketika paparan berita mulai mengganggu kondisi emosional.
Lantas, bagaimana cara menyikapi berita buruk agar tidak membuat panik? Berikut beberapa tips dari psikolog yang dapat diterapkan ketika menghadapi banjir informasi negatif.

1. Batasi konsumsi berita yang memicu kecemasan
Tidak semua informasi perlu terus-menerus diikuti, terutama jika berita tersebut membuat Anda semakin cemas atau tertekan.
Melansir ugm.ac.id, psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Pamela Andari Priyudha menyarankan untuk secara sadar membatasi konsumsi konten yang memicu kecemasan, terutama ketika kondisi psikologis sedang rentan.
Hal serupa juga disarankan oleh psikolog yang dikutip American Psychological Association (APA). Membatasi paparan berita dapat membantu mencegah seseorang mengalami media saturation overload atau tekanan akibat terlalu banyak menerima informasi dari media.
2. Jangan langsung percaya pada informasi yang belum terverifikasi
Ketika mendapatkan berita buruk, hindari langsung menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan judul, unggahan media sosial, atau komentar pengguna. Informasi yang beredar di media sosial belum tentu memiliki konteks lengkap atau sudah terverifikasi.
Pamela Andari Priyudha menekankan pentingnya tetap menggunakan logika dan memeriksa informasi dari beberapa sumber.
“Penting untuk mengutamakan logika dan tetap objektif. Selalu lakukan verifikasi silang dengan berbagai sumber. Jangan hanya mengandalkan satu sudut pandang," ujar Priyudha, dilansir dari laman ugm.ac.id pada Selasa, 15 September 2026.
Dalam bahasa Indonesia, kutipan tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk mengutamakan logika dan tetap objektif dengan selalu memeriksa informasi melalui beberapa sumber, bukan hanya mengandalkan satu sudut pandang.
3. Beri jeda dari media sosial
Media sosial memiliki sistem yang membuat pengguna dapat terus menggulir dan menemukan informasi baru tanpa batas. Akibatnya, seseorang bisa terus membaca berita buruk meskipun sebenarnya sudah merasa lelah atau cemas.
APA menyarankan beberapa batasan sederhana, seperti mematikan notifikasi berita, menetapkan waktu bebas gawai, dan membatasi waktu menggunakan media sosial.
Salah satu strategi yang disebutkan adalah memasang timer selama 15 menit ketika mulai membuka media sosial agar waktu konsumsi informasi tidak semakin panjang.

4. Hindari topik yang menjadi pemicu ketika kondisi mental sedang tidak baik
Jika sedang berada dalam kondisi emosional yang rentan, tidak ada salahnya menghindari sementara topik yang sangat memicu kecemasan.
UGM menyebut konflik politik atau isu sosial yang sangat terpolarisasi sebagai contoh topik yang dapat dihindari sebagai langkah pencegahan.
Ini bukan berarti seseorang harus menutup mata terhadap masalah yang terjadi. Namun, memberikan jeda ketika kondisi diri sedang tidak siap dapat membantu menjaga kestabilan emosi sebelum kembali mengikuti informasi tersebut.
5. Fokus pada hal yang masih bisa dikendalikan
Berita buruk sering kali membuat seseorang merasa tidak berdaya karena masalah yang diberitakan berada di luar kendalinya. Menurut Pamela, penting untuk mengenali batas antara hal-hal yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan.
"Kita perlu mengenali batasan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang tidak. Berfokus pada peran dan tanggung jawab yang dapat kita jalankan akan membantu menjaga motivasi serta optimisme," jelas Pamela Andari Priyudha.
Artinya, kita perlu mengenali batas antara hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan. Dengan berfokus pada peran dan tanggung jawab yang memang bisa dilakukan, seseorang dapat menjaga motivasi dan sikap optimistis.
6. Alihkan perhatian pada aktivitas yang positif dan konstruktif
Ketika terlalu lama terpapar berita negatif, cobalah mengimbanginya dengan aktivitas atau konten yang positif, inspiratif, dan konstruktif.
Konsumsi konten semacam ini dapat membantu menstabilkan suasana hati dan membangun pola pikir yang lebih optimistis.
Anda juga dapat melakukan aktivitas sederhana yang membuat pikiran beristirahat dari berita, seperti berolahraga, menjalankan hobi, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau melakukan kegiatan di luar ruangan.
APA juga mencatat bahwa membatasi paparan berita sambil melakukan aktivitas sehat dan hobi berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah dalam salah satu penelitian yang dibahas.

7. Jika ingin membantu, lakukan sesuatu yang nyata
Berita buruk terkadang membuat seseorang merasa hanya bisa menjadi penonton terhadap suatu masalah. APA menjelaskan bahwa mengambil tindakan yang sesuai dengan nilai dan kepedulian pribadi dapat membantu mengurangi rasa tidak berdaya.
Tindakan tersebut tidak harus selalu besar. Misalnya, jika sebuah isu membuat Anda khawatir, Anda dapat memberikan donasi kepada lembaga tepercaya, menjadi relawan, mendukung kegiatan sosial, atau melakukan tindakan sederhana sesuai kemampuan.
8. Dengarkan orang lain tanpa langsung menghakimi
Berita buruk tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar. Jika ada teman atau keluarga yang merasa cemas akibat banjir informasi negatif, salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan adalah menjadi pendengar yang baik.
Pamela menekankan bahwa sebagian orang sebenarnya hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan memahami kekhawatiran mereka tanpa menghakimi.
“Perlu disadari bahwa sebagian orang hanya ingin didengar dan dipahami atas tekanan batin yang mereka rasakan akibat membanjirnya berita negatif yang mereka hadapi,” katanya.
Dengan kata lain, tidak semua orang yang sedang cemas membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, didengarkan dengan empati saja sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.
9. Kenali kondisi diri sebelum membantu orang lain
Keinginan untuk membantu orang lain juga perlu diimbangi dengan kemampuan untuk menjaga kondisi diri sendiri. Jika sedang terlalu lelah atau ikut terdampak secara emosional, jangan memaksakan diri untuk menjadi tempat bergantung bagi orang lain.
Pamela mengatakan bahwa seseorang perlu menyadari kondisi mentalnya sendiri sebelum memberikan bantuan.
Jika belum merasa siap, menghubungkan orang yang membutuhkan bantuan dengan psikolog, psikiater, atau konselor juga sudah merupakan bentuk pertolongan yang berarti.
Pada akhirnya, menyikapi berita buruk bukan berarti bersikap tidak peduli terhadap keadaan sekitar.
Dengan membatasi paparan, memeriksa fakta, memberi jeda dari media sosial, dan berfokus pada hal yang masih dapat dikendalikan, kita dapat tetap memperoleh informasi tanpa membiarkannya menguasai pikiran dan emosi.