- CMO SCGI Agency Jessica Gautama menyatakan kreator bermodal pengikut terbatas tetap bisa memonetisasi media sosial.
- Strategi monetisasi mencakup penguasaan rumus konten, penentuan segmen audiens spesifik, serta adaptasi pesan lintas platform.
- Hasil dari strategi tersebut adalah brand kini lebih menghargai engagement sehat dan bukti pengaruh nyata kreator.
Suara.com - Selama ini, banyak orang menganggap bahwa kunci utama mendulang rupiah di media sosial adalah memiliki jutaan pengikut (follower).
Namun, tren industri kreatif kini telah bergeser. Kualitas konten dan kedekatan dengan audiens ternyata jauh lebih bernilai di mata brand ketimbang sekadar angka di profil.
Lantas, bagaimana caranya agar akun dengan pengikut terbatas tetap bisa menghasilkan "cuan" yang menjanjikan?
Jessica Gautama, Chief Marketing Officer (CMO) SCGI Agency, mengungkapkan bahwa konten adalah jantung sekaligus fondasi utama dalam ekosistem digital.
Namun, konten yang menarik saja tidak cukup. Perlu ada strategi matang dan konsistensi untuk mengubah kreativitas menjadi pundi-pundi uang.
Berikut adalah 5 langkah strategis untuk memonetisasi media sosial Anda, meski belum menjadi mega-influencer:

1. Kuasai Rumus "Relevance, Hook, dan Value"
Membuat konten bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral. Menurut Jessica, kreator harus memahami tiga pilar utama: relevance (relevansi), hook (daya pikat), dan value (nilai manfaat).
"Kita harus memahami apa yang sedang dibicarakan atau dirasakan oleh audiens. Dari sana, terjemahkan menjadi hook yang kuat di detik-detik awal agar audiens tidak langsung scrolling," kata Jessica.
Ia menekankan agar kreator tidak terjebak menjadi "budak tren". Konten yang kuat lahir dari sudut pandang unik dan karakter yang konsisten, sehingga audiens memiliki alasan kuat untuk selalu kembali ke akun Anda.
2. Bidik Segmen Audiens yang Spesifik
Jangan mencoba menyenangkan semua orang. Kesalahan umum pemula adalah menargetkan audiens yang terlalu luas.
Padahal, memahami perilaku (behavior) dan kebutuhan komunitas jauh lebih penting daripada sekadar data demografi seperti usia atau lokasi.
Jessica memberi contoh, dua wanita berusia 25 tahun bisa memiliki minat yang bertolak belakang.
Yang satu mungkin mencari inspirasi karier, sementara yang lain lebih tertarik pada konten parenting atau wellness.
"Mulailah dari siapa yang paling membutuhkan nilai yang Anda tawarkan. Temukan segmen yang tidak hanya besar, tapi juga relevan dan punya potensi untuk melakukan aksi (seperti membeli produk atau menekan tautan)," ujarnya.
3. Pesan Konsisten, Format Berbeda
Banyak kreator terjebak melakukan copy-paste konten yang sama ke semua platform. Padahal, setiap media sosial memiliki "budaya" yang berbeda.