- Regene Genomics memperkenalkan analisis mikrobioma berbasis DNA bernama SkinSignal untuk memeriksa profil mikroorganisme kulit.
- Layanan SkinSignal menganalisis empat belas mikroorganisme yang dibagi ke dalam empat kelompok serta SkinSignal Barrier Index.
- Pendekatan ini membantu masyarakat memahami karakteristik kulit secara personal sebelum memutuskan produk perawatan yang digunakan.
Suara.com - Sudah berapa banyak skincare yang pernah dicoba untuk mengatasi jerawat? Mulai dari sabun wajah, toner, serum, moisturizer, sampai produk dengan kandungan yang sedang ramai dibicarakan. Namun, setelah berganti-ganti produk, masalah yang sama kadang masih muncul.
Kondisi seperti ini bisa membuat kita bertanya-tanya: apakah produknya yang kurang cocok, atau sebenarnya ada hal lain pada kulit yang belum kita pahami?
Selama ini, perhatian dalam merawat kulit lebih sering tertuju pada apa yang terlihat dari luar. Kulit berminyak, kering, kusam, sensitif, atau berjerawat menjadi petunjuk untuk menentukan produk yang akan digunakan. Padahal, kulit juga memiliki ekosistem mikroorganisme yang hidup di permukaannya.
Komunitas mikroorganisme tersebut dikenal sebagai mikrobioma kulit. Keberadaannya menjadi salah satu bagian dari kondisi biologis kulit yang kini mulai mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai perawatan kulit yang lebih personal.
Bukan Sekadar Soal Produk yang Dipakai
Mikrobioma kulit terdiri dari berbagai mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit. Komposisinya dapat berbeda antara satu orang dan lainnya, sehingga kondisi kulit setiap orang pun tidak selalu memberikan respons yang sama terhadap rutinitas perawatan.
Inilah yang membuat pendekatan personalized skincare semakin menarik. Alih-alih hanya mengikuti produk yang sedang populer atau mencoba satu produk setelah produk lainnya, perhatian mulai bergeser pada upaya memahami karakteristik kulit secara lebih menyeluruh.
Data mengenai mikrobioma dapat memberikan perspektif berbeda mengenai kondisi kulit seseorang. Bukan untuk menentukan produk apa yang pasti akan berhasil, melainkan sebagai informasi tambahan yang membantu seseorang memahami kondisi kulitnya.
Pendekatan ini juga membuat istilah “kulit sehat” menjadi lebih kompleks. Kulit yang terlihat baik dari luar belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai apa yang terjadi pada ekosistem di permukaannya.
Mengenal Kulit dari Ekosistem Mikrobiomanya
Salah satu pendekatan yang dikembangkan saat ini adalah analisis mikrobioma berbasis DNA. Sampel dari kulit diperiksa untuk melihat profil mikroorganisme yang terdapat di dalamnya.
Hasilnya kemudian dapat memberikan gambaran mengenai kelompok mikroorganisme yang teridentifikasi pada saat pemeriksaan. Informasi semacam ini berbeda dari diagnosis medis dan tidak dimaksudkan untuk menentukan seseorang mengalami penyakit atau infeksi tertentu.
Pendekatan tersebut menjadi menarik terutama bagi mereka yang merasa sudah mencoba berbagai cara untuk merawat kulit, tetapi masih kesulitan memahami mengapa kondisinya mudah berubah.
Daripada terus menambah produk ke dalam rutinitas, ada kalanya kita justru perlu berhenti sejenak dan mengenali kondisi kulit sendiri.
Dari Skincare Berlapis ke Perawatan yang Lebih Personal
Perkembangan teknologi dalam kecantikan perlahan mengubah cara orang memandang perawatan kulit. Jika sebelumnya personalisasi lebih banyak didasarkan pada jenis kulit atau keluhan yang terlihat, kini informasi biologis juga mulai digunakan untuk memberikan perspektif yang lebih individual.
Analisis mikrobioma menjadi salah satu bagian dari perkembangan tersebut. Dengan melihat komunitas mikroorganisme pada kulit, informasi yang diperoleh dapat melengkapi pemahaman mengenai karakteristik kulit seseorang.
Namun, hasil analisis mikrobioma tetap perlu ditempatkan sebagai informasi, bukan sebagai pengganti konsultasi medis. Profil mikrobioma dapat berubah seiring waktu dan hasil pemeriksaan menggambarkan kondisi berdasarkan sampel yang diperiksa pada saat tertentu.
Artinya, data tersebut tidak serta-merta menjadi jawaban tunggal atas seluruh persoalan kulit.
Justru, nilai pentingnya mungkin terletak pada pertanyaan baru yang muncul setelah kita memiliki informasi lebih banyak tentang diri sendiri: apa yang sebenarnya dibutuhkan kulit, dan apakah rutinitas yang selama ini dilakukan sudah sesuai?
Ketika Kulit Tak Bisa Disamaratakan
Pada akhirnya, tidak ada satu rutinitas skincare yang otomatis cocok untuk semua orang. Kulit setiap orang memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, sementara kondisi tersebut juga dapat berubah seiring waktu.
Karena itu, tren personalized beauty bukan hanya tentang menemukan produk yang paling mahal atau memiliki kandungan paling lengkap. Lebih jauh, pendekatan ini berbicara tentang mengenali kebutuhan kulit sebelum memutuskan apa yang akan diberikan kepadanya.
Perspektif mengenai mikrobioma menjadi salah satu cara untuk melihat kulit dari sisi yang selama ini mungkin tidak terlihat secara kasatmata.
Pendekatan analisis mikrobioma berbasis DNA inilah yang kini diperkenalkan Regene Genomics melalui SkinSignal, yang menganalisis 14 mikroorganisme dan menyajikan profilnya melalui empat kelompok, yaitu Barrier-supporting Group, Sebum-adapted Group, Pro-inflammatory Group, dan Fungal Indicator, dilengkapi SkinSignal Barrier Index.
Bagi mereka yang selama ini merasa sudah mencoba berbagai skincare tetapi masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kulitnya, informasi semacam ini setidaknya membuka satu kemungkinan baru: sebelum terus mengganti produk, mungkin ada baiknya mulai mengenali kulit dari dalam ekosistemnya.