- Penurunan hormon serotonin menjadi penyebab hujan membuat sedih pada tubuh.
- Kurangnya paparan sinar matahari adalah penyebab hujan membuat sedih utama.
- Terganggunya siklus tidur ikut memperparah penyebab hujan membuat sedih harian.
Suara.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ketika langit mulai gelap, kita tiba-tiba merasa jauh lebih emosional, seperti disergap rasa sedih, rindu, atau melankolis yang lebih mendalam dibandingkan saat cuaca cerah? Atau merasa sedih saat hujan turun?
Ternyata, fenomena ini bukanlah sekadar kebetulan, melainkan memiliki penjelasan ilmiah di baliknya.
Fenomena ini dalam psikologi dikenal secara umum sebagai Seasonal Affective Disorder
Fenomena ini bukan sekadar perasaan sentimental belaka, melainkan sebuah respons biologis dan psikologis ketika tubuh dan pikiran kita bereaksi terhadap perubahan suasana.
Dikutip dari Healthline, penelitian pada tahun 2020 menunjukkan bahwa cuaca mendung cenderung memicu kemunculan gejala depresi pada seseorang.
Lebih dari sekadar memengaruhi suasana hati, cuaca ini juga memiliki dampak signifikan terhadap pengambilan keputusan.
Apa Hubungannya?
Mengingat depresi merupakan kondisi kesehatan mental dengan kriteria diagnosis yang spesifik, cuaca hujan sangat kecil kemungkinannya menjadi penyebab langsung dari munculnya depresi.
Berdasarkan panduan diagnostik DSM-5, seseorang baru dapat terdiagnosis mengalami depresi jika merasakan beberapa gejala mendasar seperti rasa sedih berlarut, perasaan hampa, lemas dan lesu, perubahan pola tidur dan nafsu makan, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.
Pola ini berlangsung konsisten hampir setiap hari selama minimal dua minggu berturut-turut.
Fenomena ini dalam psikologi dikenal secara umum sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD) atau gangguan afektif musiman, serta pengaruh weather-pattern sensitivity terhadap suasana hati.

Saat langit mendung dan hujan turun, terjadi penurunan intensitas cahaya matahari secara drastis.
Cahaya matahari memiliki peran vital dalam memicu produksi hormon serotonin di otak, yaitu senyawa kimia yang bertanggung jawab atas perasaan bahagia, tenang, dan stabil.
Ketika paparan cahaya berkurang, kadar serotonin dalam tubuh kita ikut turun drastis, yang secara otomatis memicu perasaan lelah, gundah, hingga rasa sedih yang datang tiba-tiba.
Namun hujan tetap dapat mempengaruhi suasana hati meskipun tidak ada riwayat menderita depresi musiman.
Menurut penjelasan dari Kristine Berrett seorang psikolog klinis, kebanyakan orang yang mengalami SAD, mereka merasakan penurunan motivasi, energi, ataupun mood saat hujan turun.
Kekurangan Sinar Matahari Menjadi Salah Satu Penyebabnya
Hujan dan awan mendung memblokir cahaya Matahari yang sampai ke permukaan Bumi. Tentu hal ini memiliki keterkaitan dengan produksi melatonin dan serotonin di tubuh.
Penelitian pada tahun 2008 menyoroti pentingnya paparan matahari dalam meregulasi kadar serotonin di dalam tubuh.
Dalam proses alami tubuh, serotonin akan diubah menjadi melatonin saat malam hari untuk membantu mengatur waktu tidur dan memulihkan stamina.
Namun, mendung menghalangi sinar matahari, sehingga tubuh akan menerima sinyal yang salah dan mengaktifkan melatonin atau hormon yang mengatur waktu kapan kita harus tidur.
Terganggunya ritme hormon ini berpotensi merusak siklus tidur harian, yang kemudian berdampak langsung pada penurunan tingkat energi serta ketidakstabilan suasana hati seseorang sepanjang hari.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah