-
Waspadai potensi efek samping menstrual cup bagi kesehatan organ intim wanita.
-
Infeksi dan iritasi menjadi efek samping menstrual cup yang kerap terjadi.
-
Pahami penanganan tepat untuk cegah efek samping menstrual cup saat haid.
Suara.com - Perbincangan hangat seputar pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan tarif efektif 11 persen pada produk pembalut wanita tengah viral dan menuai pro-kontra di media sosial Tanah Air.
Isu yang di kancah global dikenal sebagai tampon tax atau period tax ini memicu kritik lantaran pembalut merupakan kebutuhan biologis esensial bulanan bagi perempuan, bukan barang mewah.
Di tengah desakan penghapusan pajak tersebut, banyak warganet menyarankan penggunaan menstrual cup sebagai solusi alternatif.
Selain ramah lingkungan, wadah penampung darah haid berbahan silikon ini dinilai jauh lebih ekonomis untuk menekan pengeluaran rutin yang terus terbebani pajak.
Namun, di balik keunggulan finansialnya, sejumlah dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) justru membunyikan alarm peringatan.
Penggunaan menstrual cup yang keliru atau tidak sesuai kondisi tubuh menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang tidak boleh disepelekan.
Ramai Pengakuan Warganet: Waspada Aliran Balik Darah Menstruasi dan Endometriosis
Sorotan medis terhadap menstrual cup kian ramai diperbincangkan menyusul pengakuan sejumlah pengguna di media sosial.
Salah satunya diungkapkan oleh akun Threads @chikitanindy yang mengaku sempat mendapat peringatan dari dokter kandungannya setelah bertahun-tahun mengenakan cawan haid tersebut.
"Sebagai pengguna menscup for 3 tahun++ kaget dikit disarankan dr obgyn buat gak pakai menscup karena bisa bikin endometriosis. Kata dr obgynku, kalau tetap mau pakai menscup harus rajin ngeluarin atau jangan nunggu sampai penuh dulu. Minusnya dari menscup itu darah yang harusnya keluar malah balik lagi ke rahim," tulisnya.
Secara medis, darah haid memang semestinya luruh langsung keluar dari tubuh.
Ketika tertampung di dalam liang kewanitaan menggunakan cup, ada risiko terjadinya aliran darah balik (retrograde menstruation) menuju rongga panggul yang diduga kuat memicu timbulnya endometriosis.
Tak cuma itu, darah haid yang mengendap terlalu lama berpotensi menjadi sarang kuman hingga memicu radang panggul parah.
Bahkan bagi perempuan yang tengah menjalani program hamil (promil), sejumlah dokter fertilitas melarang keras pemakaian menstrual cup guna mencegah gangguan pada rahim.
5 Efek Samping Menstrual Cup yang Wajib Diwaspadai
Bagi Anda yang berencana beralih ke menstrual cup, pahami beberapa potensi efek samping berikut yang dilansir dari laman Morula IVF sebelum memutuskan untuk memakainya:

1. Iritasi pada Vagina
Keluhan iritasi kerap dialami pemula akibat pemilihan ukuran cawan yang keliru atau pemasangan tanpa pelumas.
Dinding vagina bisa mengalami lecet atau perih karena gesekan.
Untuk mencegahnya, pilihlah cup berbahan silikon medis (medical-grade) yang lentur, bersifat hypoallergenic, serta gunakan pelumas berbahan dasar air (water-based lubricant) saat proses insersi.
2. Risiko Infeksi Bakteri dan Radang Panggul
Karena dimasukkan ke dalam liang vagina, kebersihan cawan menjadi taruhan utama.
Pencucian yang tidak steril bisa mengubah wadah ini menjadi medium perkembangbiakan kuman penyebab bacterial vaginosis (BV), infeksi saluran kemih (ISK), hingga infeksi menjalar ke organ panggul.
Pastikan untuk selalu merebus cup dalam air mendidih selama 5–10 menit sebelum dan sesudah siklus menstruasi, serta mencuci tangan hingga bersih sebelum memegangnya.
3. Ketidaknyamanan dan Kesulitan Memasang
Bagi yang belum terbiasa, memasukkan dan mengeluarkan cawan penampung haid ini bisa menjadi pengalaman yang menegangkan.
Otot panggul yang tegang justru membuat vagina terasa nyeri dan cawan sulit diposisikan.
Disarankan melatih teknik pernapasan agar otot rileks dan mencoba posisi tubuh yang nyaman, seperti berjongkok.
4. Reaksi Alergi Bahan
Kendati kasusnya tergolong langka, beberapa orang bisa mengalami reaksi alergi terhadap material tertentu, seperti lateks.
Jika memiliki riwayat kulit hipersensitif atau alergi, pastikan memilih produk yang terverifikasi bebas
lateks dan berbahan silikon medis murni.
5. Ancaman Sindrom Syok Toksik (TSS)
Efek samping paling berbahaya meski jarang terjadi adalah Toxic Shock Syndrome (TSS).
Kondisi darurat ini dipicu oleh racun dari bakteri Staphylococcus aureus yang berkembang biak saat cup dibiarkan bersarang di dalam vagina terlalu lama.
Batas maksimal pemakaian menstrual cup adalah 8 hingga 12 jam.
Jika muncul gejala demam tinggi tiba-tiba, ruam kemerahan, atau pusing, segera lepaskan cawan dan periksakan diri ke dokter.
Meski menstrual cup menawarkan efisiensi anggaran di tengah polemik pajak pembalut, faktor kesehatan reproduksi tetap harus menjadi prioritas utama.
Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelum beralih guna memastikan produk sanitasi yang Anda pilih benar-benar aman bagi tubuh.