- Habitat for Humanity Indonesia menggelar kegiatan kerelawanan 28UILD di Bogor dan Gresik pada tanggal 31 Oktober.
- Aksi tersebut melibatkan lebih dari 250 relawan muda untuk melakukan pengecatan dan perbaikan lingkungan perumahan.
- Inisiatif ini bertujuan mengajak generasi muda berkontribusi mengatasi tantangan hunian layak melalui semangat gotong royong.
Suara.com - Memiliki rumah yang layak bukan hanya soal mempunyai tempat untuk berteduh. Bagi banyak keluarga, biaya tempat tinggal justru menjadi beban yang memaksa mereka mengatur ulang prioritas keuangan, bahkan mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya.
Kondisi ini terungkap dalam riset global Home at What Cost? yang dilakukan di 22 negara dengan melibatkan 30.758 responden.
Di Indonesia, sebanyak 73 persen responden mengaku harus mengurangi pengeluaran setidaknya pada satu aspek kehidupan dalam setahun terakhir demi memenuhi biaya perumahan.
Tekanan tersebut tidak berhenti pada persoalan keuangan. Sebanyak 49 persen responden di Indonesia mengaku khawatir situasi tak terduga dapat mengancam keberlangsungan mereka dalam memiliki atau menempati rumah.
Sementara itu, 41 persen responden merasa cuaca ekstrem menyulitkan mereka untuk merasa aman di tempat tinggalnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan hunian layak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memiliki rumah, tetapi juga bagaimana keluarga dapat mempertahankan tempat tinggal yang aman dan nyaman di tengah tekanan ekonomi maupun perubahan lingkungan.
Secara nasional, kebutuhan rumah untuk mengatasi backlog perumahan diperkirakan mencapai 9,9 juta unit.
Persoalan lainnya terlihat dari 17,8 persen rumah tangga yang menghadapi beban biaya perumahan tinggi. Di kawasan perkotaan, 19,4 persen penduduk masih tinggal di kawasan kumuh atau permukiman informal.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap hunian layak masih menjadi pekerjaan besar. Padahal, rumah yang aman dan sehat merupakan salah satu kebutuhan dasar yang turut memengaruhi kualitas hidup keluarga.
Karena itu, upaya mewujudkan hunian layak membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya melalui pembangunan rumah, tetapi juga dengan mendorong lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat, aman, dan tangguh menghadapi perubahan iklim.
Momentum Sumpah Pemuda menjadi salah satu kesempatan untuk mengajak generasi muda mengambil peran dalam persoalan tersebut. Semangat persatuan dan gotong royong dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Semangat itu tercermin dalam kegiatan 28UILD 2026 yang digelar serentak di Bogor dan Gresik pada Sabtu (31/10). Kegiatan tahunan yang memasuki penyelenggaraan ke-13 ini melibatkan lebih dari 250 relawan dalam berbagai aktivitas, mulai dari pengecatan, penanaman pohon, hingga pembuatan lubang biopori untuk mendukung resapan air.
Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengajak generasi muda memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam mewujudkan hunian layak.
“Melalui 28UILD, kami ingin mengajak generasi muda menyadari bahwa setiap orang dapat berperan dalam mewujudkan hunian layak. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi, aksi sederhana dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar,” ujar Handoko.
Kegiatan yang diinisiasi Habitat for Humanity Indonesia ini juga menjadi bagian dari kampanye Let's Open the Door: Youth in Action for Decent Housing. Melalui kampanye tersebut, generasi muda diajak mengenal lebih dekat persoalan perumahan sekaligus mengembangkan gagasan dan aksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Selain kegiatan kerelawanan, kreativitas anak muda turut ditampilkan melalui karya pemenang kompetisi desain kaus dan ilustrasi pintu. Ada pula program Youth in Action: Let's Open the Door Mini Grant yang melibatkan lima kelompok relawan terpilih untuk mengembangkan kampanye mengenai housing resilience atau ketangguhan hunian di komunitas masing-masing.