- IN2MOTIONFEST X JMFW diselenggarakan pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta.
- Acara ini menampilkan wastra dari berbagai daerah Indonesia melalui kolaborasi 250 desainer dan sepuluh negara.
- Penyelenggaraan ini menghasilkan 20 peragaan busana serta 165 kesepakatan bisnis dari UMKM.
Suara.com - Kekayaan wastra Nusantara menjadi salah satu modal besar Indonesia untuk memperkuat posisi di industri modest fashion dunia.
Beragam kain tradisional dari berbagai daerah kini tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi busana modern yang memiliki nilai estetika sekaligus daya saing di pasar internasional.
Perpaduan tradisi dan tren fesyen tersebut terlihat dalam perhelatan Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST) X Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.
Mengusung tema “Indonesia’s Integrated Modest Fashion Ecosystem: Transforming Modest Fashion Brands into Global Business”, acara ini menghadirkan lebih dari 250 desainer dan jenama melalui rangkaian fashion show serta trade show.
Wastra dari berbagai daerah menjadi salah satu daya tarik utama yang memperlihatkan keberagaman karakter tekstil Indonesia.
Dari Sumatera, misalnya, terdapat Kyan Ulos dari Sumatera Utara, Mojao.Art dari Sumatera Barat, Batik Jambi Berkah dari Jambi, Sepiak dari Kepulauan Bangka Belitung, hingga Batik Siger dari Lampung.

Kekayaan wastra juga datang dari Pulau Jawa dan Bali. Sejumlah jenama yang berpartisipasi antara lain Batik Chic dan Dechantique X Rumah Batik Palbatu dari Jakarta, Batik Fitri dari Cirebon, Studio Ikaten dari Solo, Batik Martadireja dari Purwokerto, serta Krins Studios dari Bali.
Sementara itu, Kalimantan memperkenalkan kain khas daerah melalui Alina Sasirangan, Ismi Collection, dan Fahmi Sasirangan. Dari Sulawesi hadir Lily Tenun Gallery, Rowa, Butik Luthfiah, dan EV Design.
Keberagaman tersebut semakin lengkap dengan kehadiran Padu Padan Tenun by Erwin Yuan dan Gabys Collection dari Nusa Tenggara Timur, Yukin Yuni Kinasih dari Nusa Tenggara Barat, Puta Dino Kayangan dari Maluku Utara, serta Kasuari Batik dari Papua Barat.
Partisipasi berbagai jenama tersebut memperlihatkan bahwa potensi modest fashion Indonesia tidak hanya terpusat di kota-kota besar.
Setiap daerah memiliki kekayaan tekstil dan karakter budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk fesyen dengan identitas kuat.
Tidak hanya desainer lokal, perhelatan ini juga melibatkan desainer internasional dari 10 negara. Mereka menghadirkan koleksi yang memadukan kreativitas global dengan wastra dan hijab dari jenama Indonesia.
Salah satu kolaborasi menarik datang dari Khanijo asal India yang menggunakan Tenun Gedogan Baduy dalam koleksinya. Sementara itu, Variante dari Malaysia mengolah wastra dari Griya Kain Tuan Kentang.
Desainer dari Uni Emirat Arab, Taiwan, Uzbekistan, Korea, Turkiye, dan Filipina juga turut berpartisipasi. Beberapa di antaranya memadukan rancangan mereka dengan hijab dari jenama Indonesia, seperti NBRS, BYLILU, dan Kisera.
Kolaborasi lintas negara ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan wastra Indonesia kepada konsumen internasional. Kain tradisional tidak lagi hanya dipandang sebagai produk budaya, tetapi juga memiliki potensi menjadi bagian dari tren fesyen global.