LINIMASA - Komandan divisi pertama bajak laut Shirohige, Marco sempat terlibat di perang Marineford dalam cerita One Piece.
Diketahui, Marco merupakan salah satu pemakan buah iblis tipe mythical zoan, burung Phoenix. Di mana ia memiliki kekuatan dapat menyembuhkan seseorang dengan api birunya.
Pada peristiwa peperangan Marineford ini, melibatkan armada besar bajak laut Shirohige melawan angkatan laut.
Monkey D Luffy sebagai tokoh utama dalam One Piece pun ikut terlibat dalam peristiwa tersebut demi menolong kakaknya, Portgas D Ace yang akan dieksekusi mati.
Shirohige sebagai kapten sekaligus Yonkou--empat kaisar lautan--pastinya tidak rela melihat Ace akan dieksekusi mati.
Mengingat Ace adalah komandan divisi kedua bajak laut Whitebeard (Shirohige) yang telah dianggapnya sebagai anak.
Dalam peristiwa tersebut, Shirohige mati-matian untuk menyelamatkan Ace. Bahkan ia sampai-sampai mengeluarkan kekuatan buah iblisnya, gura gura no mi untuk menghancurkan Marineford.
Kendati cerita ini telah ditayangkan sebelumnya, tim Linimasa Suara akan mengulas hal unik di balik kematian Shirohige dan Ace.
Nah, yang pastinya membuat penasaran kenapa Marco tidak menyembuhkan Shirohige dan Ace saat ajal menghampiri keduanya?
Baca Juga: Sulit Kendalikan Anak yang Kecanduan HP? Coba dengan 5 Permainan Seru Ini
Dikutip dari YouTube short @animink, kala itu Shirohige dan Ace telah mendapatkan luka sangat parah.
Pasalnya, tinju magma yang dilancarkan Akainu kepada keduanya tidak dapat disembuhkan secara cepat.
Pada waktu yang bersamaan, Shirohige memerintahkan Marco untuk menjaga adiknya Ace, tak lain Luffy.
Di samping itu, Shirohige telah mengidap penyakit sangat parah. Karena usianya yang sudah tua dan lebih memprioritaskan yang lainnya.
Selain itu, Shirohige telah menyadari bahwa potensi Luffy untuk menjadi bajak laut besar di era selanjutnya.
Sedangkan Ace, merelakan tubuhnya untuk menghalau tinju magma Akainu yang akan menghujam tubuh Luffy.
Maka tak heran jika Shirohige dan Ace mempercayakan keselamatan Luffy kepada Marco. Karena keduanya berpikir jauh ke depan.