LINIMASA - Akhir-akhir ini, istilah stockholm syndrome tengah ramai dibicarakan setelah disinggung dengan kabar politik mengenai dukungan yang diberikan oleh aktivis 1998, Budiman Sujatmiko kepada Prabowo Subianto sebagai capres di Pilpres 2024.
Dukungan Budiman kepada Prabowo dituding sebagai fenomena gangguan mental sindrom stockholm, meski Budiman sudah membantah tudingan itu.Lantas apa sih sebenarnya stockholm syndrome?
Melansir Halodoc, sindrom Stockholm adalah fenomena psikologis yang melibatkan perkembangan perasaan positif terhadap pelaku kekerasan atau penculik oleh korban yang telah mengalami situasi traumatis.
Meskipun sering kali dikaitkan dengan situasi penculikan, sindrom ini juga bisa muncul dalam konteks pelecehan anak, hubungan toksik, perdagangan seks, dan bahkan pembinaan olahraga.
Penyebab Stockholm Syndrome
Para peneliti belum sepenuhnya memahami penyebab pasti mengapa Sindrom Stockholm terjadi pada beberapa individu. Dalam beberapa teori, dipercayai bahwa hal ini bisa menjadi mekanisme koping evolusioner dari nenek moyang kita.
Dalam situasi traumatis, korban mungkin menciptakan ikatan emosional dengan pelaku untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.
Teori lain menggambarkan bahwa dalam situasi yang penuh emosi dan traumatis, korban dapat mengalami dorongan untuk menyesuaikan perasaan mereka dengan pelaku sebagai cara untuk menjaga keselamatan.
Perasaan bersyukur karena tidak disakiti oleh pelaku dapat menyebabkan pengembangan simpati terhadapnya.
Faktor Risiko yang Memengaruhi
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami Sindrom Stockholm meliputi:
Hubungan Toxic: Korban yang terlibat dalam hubungan toksik, seperti pelecehan fisik, emosional, atau seksual, dapat mengembangkan perasaan positif terhadap pelaku sebagai mekanisme untuk melindungi diri.
Pelecehan Anak: Ancaman dan kekerasan dalam kasus pelecehan anak dapat menyebabkan korban mengembangkan perasaan positif terhadap pelaku sebagai cara untuk bertahan hidup.
Perdagangan Seks: Korban perdagangan seks seringkali bergantung pada pelaku untuk kebutuhan dasar mereka. Ketergantungan ini dapat menyebabkan korban mengembangkan perasaan positif sebagai bentuk perlindungan.
Pembinaan Olahraga: Dalam beberapa kasus, hubungan antara pelatih dan atlet dalam olahraga dapat berkembang menjadi bentuk Sindrom Stockholm, di mana atlet mungkin merasa perlu untuk menganggap perilaku keras pelatih sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi perkembangan mereka.
Gejala Stockholm Syndrome
Gejala Sindrom Stockholm meliputi:
- Perasaan positif terhadap pelaku atau penculik.
- Simpati terhadap perilaku dan keyakinan pelaku.
- Perasaan negatif terhadap otoritas atau penegak hukum.
- Gejala serupa PTSD, termasuk kilas balik, rasa gelisah, kesulitan berkonsentrasi, dan lainnya.
Diagnosis dan Pengobatan
Meskipun tidak diakui sebagai kondisi resmi oleh American Psychiatric Association, perilaku yang muncul akibat situasi traumatis diakui oleh penyedia layanan kesehatan. Pengobatan yang mirip dengan PTSD mungkin diberikan, termasuk konseling psikologis dan terapi obat-obatan.
Sindrom Stockholm sulit untuk dicegah karena tidak memiliki gejala yang jelas atau dapat diidentifikasi sebelumnya. Penting untuk memberikan dukungan kepada individu yang telah mengalami situasi traumatis, serta mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami situasi traumatis yang melibatkan kekerasan atau penganiayaan fisik maupun mental, penting untuk mencari bantuan medis dan konseling dari profesional yang berpengalaman.
Ingatlah bahwa pemahaman akan Sindrom Stockholm dapat membantu kita merespons secara lebih bijak terhadap individu yang mungkin sedang mengalami kondisi ini.
Dukungan dan pengobatan yang tepat dapat membantu mereka pulih dan mengatasi dampak emosional yang ditimbulkan.