Kisah Tiko yang hidup hanya berdua dengan bundanya, yakni Eny Sukaesih atau Ibu Eny, di rumah mewah terbengkalai, membuat publik terharu.
Betapa tidak, selama 12 tahun Tiko merawat Ibu Eny yang menderita gangguan jiwa di rumah terbengkalai tanpa pasokan air bersih maupun listrik.
Untuk kebutuhan sehari-hari, Tiko mengandalkan pemberian air bersih dari tetangga.
Sementara untuk penerangan di dalam rumahnya saat malam hari, keduanya harus bisa bertahan dengan lilin.
Tiko merawat Ibu Eny sejak usianya masih belasan tahun. Persisnya sejak tahun 2010, saat ayahnya, Herman Moedji, mendadak meninggalkan mereka berdua begitu saja.
Awalnya, Tiko dan Ibu Eny yang masih sehat membuat kue untuk dititipkan ke warung-warung.
Tapi, kebutuhan hidup terus meningkat, sehingga mereka terpaksa menjual semua perabotan rumah tangga yang tersisa.
Kini, kehidupan Tiko dan Ibu Eny berangsung membaik. Ibu Eny sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Jiwa Duren Sawit untuk mendapatkan perawatan yang layak.