- PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan laba bersih sebesar Rp86 miliar atau tumbuh 42 persen pada kuartal pertama 2026.
- Pertumbuhan kinerja didukung oleh peningkatan penyaluran kredit menjadi Rp25,2 triliun serta jumlah nasabah mencapai 19,4 juta orang.
- Keberhasilan perusahaan di Jakarta dicapai melalui strategi menjaga likuiditas, kualitas portofolio kredit, dan keseimbangan antara pertumbuhan serta profitabilitas.
Suara.com - Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk (ARTO) Arief Harris Tandjung mengatakan perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan laba hingga 42 persen di Kuartal I 2026, meski kondisi perekonomian Indonesia dan global sedang morat-marit akibat konflik di Timur Tengah.
Arief menguraikan bahwa keberhasilan itu dicapai karena Bank Jago disiplin menjalankan tiga arahan dalam proses bisnisnya.
"Kinerja kuartal pertama mengejutkan kami mengingat kondisi perekonomian Indonesia dan global yang masih tidak menentu," kata Arief dalam pertemuan di Kantor Bank Jago, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Di Kuartal I kemarin, terang Arief, Bank Jago berhasil meraup laba bersih setelah pajak sebesar Rp 86 miliar atau tumbuh 42 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu kredit juga tumbuh 24 persen menjadi Rp25,2 triliun dibandingkan dengan Kuartal I 2025 lalu yang sekitar Rp20,3 triliun.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 23 persen dari tahun lalu menjadi Rp 26,4 triliun per akhir Maret 2026. Komposisi DPK meliputi High Net-Worth Individual (HNWI), korporasi, dan UKM sebesar 56 pesen dan sisanya sekitar 44 persen dari digital banking.
Pertumbuhan tinggi juga terjadi pada jumlah nasabah, yang per akhir kuartal I-2026 mencapai 19,4 juta. Sebagian besar adalah nasabah digital banking dan sisanya meliputi nasabah kredit.
“Dengan semua performa tersebut, di usia kami yang kelima, kami menyatakan bahwa Bank Jago punya hak hidup di segmen technology-based bank,” tegas Arief.
Ia mengatakan capaian-capaian itu diraih berkat tiga arahan yang dijalankan secara ketat oleh perusahaan.
Pertama, menjaga likuiditas bank tetap kuat.
“Kami sangat berhati-hati dalam menjaga likuiditas, karena ibarat jantung. Kalau sampai terkenan searagan jantung tubuh bisa langsung kolaps,” kata Arief.
Kedua, Bank Jago menjaga kualitas portofolio kredit. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dipertahankan pada level rendah agar kualitas aset tetap sehat.
Ketiga menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.
"Jadi kami tidak akan mengorbankan profitabilitas demi mengejar pertumbuhan," tutup Arief.