“Seyogyanya kota selain sebagai mesin ekonomi juga harus menjadi atmosfir yang baik bagi tumbuhnya kesenian, adat istiadat, bahasa, situs, arsitektur, dan sejarah yang membentuk karakter kotanya,”ungkapnya, Kamis (3/11/2022).
Penataaan kawasan ini sendiri menurutnya memerlukan dukungan berbagai OPD yang ada di Kota Metro sendiri. Selain itu sinergi lintas Kementerian/Lembaga di Pusat, perguruan tinggi, komunitas, dan swasta maupun melalui dana Corporate Social Responsibilty (CSR) juga diperlukan.
Menurutnya gagasan pengembangan kawasan ataupun wacana untuk masuk dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia tentunya layak didiskusikan oleh Pemerintah Kota Metro yang juga salah satu visinya adalah Kota Berbudaya.
“Kita bisa lihat bagaimana dampak yang begitu signifikan paska revitalisasi Kota Tua di Semarang, Jakarta, Yogyakarta, Sawahlunto, Malang, Medan dan masih banyak daerah lainnya yang mengembangkan konsep penataan kawasan heritage,”tambahnya.