Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi Metro

Metro

Jum'at, 09 Desember 2022 | 00:03 WIB
Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi  Metro
Muryanto Paiman, Pemanfaatan Pekarangan (Legionbitanica)

Pekarangan merupakan elemen penting dalam pemukiman Jawa. Tidak hanya sebagai ruang terbuka antar rumah atau tetangga, tetapi juga sebagai sarana penunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan pekarangan rumah oleh masyarakat Jawa, menjadi topik untuk mengingatkan kembali kearifan lokal masyarakat Jawa di kawasan Landbouw, kolonisasi Metro, Lampung. 

Istilah Pekarangan dalam Bahasa Jawa

Pekarangan merupakan hal yang umum dalam tradisi Jawa. Pekarangan atau kebun dalam bahasa Indonesia terlihat memiliki arti yang mirip dengan halaman belakang. Pekarangan (aslinya dari karya “karang”) adalah kawasan yang terletak di sekitar rumah. Sedangkan “kebun”, mirip kata dari dua prasasti. “kebwan” di Kamalagi dari tahun 831 dan “kbuan” di Watukara dari tahun 931. Kedua kata tersebut memiliki arti yang sama dengan “Kebun” (Subroto, 1985).

Landbouw-kolonisatie adalah program yang berfokus pada pembukaan lahan pertanian baru. Inilah alasan mengapa hutan di antara sungai Way Sekampung dan Way Seputih menjadi tempat yang cocok. Kawasan tersebut merupakan kawasan hutan tropis dataran rendah dengan kontur datar dan terdapat beberapa sungai kecil yang pada akhirnya bermuara pada dua sungai besar tersebut. 

Selama tahun 1932 hingga 1941, atas izin masyarakat setempat, ribuan keluarga Jawa telah berhasil tiba di lokasi tersebut. Mereka kemudian tinggal di 70 pemukiman berbeda (bedeng). Bedeng tersebar di beberapa wilayah antara Gunung Sugih dan Sukadana. Saat ini kawasan Bedeng berada di Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah, seluruh kecamatan di Kota Metro, dan 3 kecamatan di Lampung Timur; Pekalongan, Batanghari, Sekampung.

Tujuan utama dari program ini adalah pertanian lahan basah untuk produksi beras. Infrastruktur irigasi dibangun untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan. Pada tahun 1935, Bendungan Argoguruh berhasil beroperasi. Bendungan ini dapat menyalurkan air dari sungai Way Sekampung ke seluruh wilayah Landbouw-kolonisatie. Untuk mempercepat pengangkutan hasil pertanian dan penjajah baru, jalan baru juga dibangun. Jalan baru sepanjang 19 kilometer dari Tegineneng ke metro menjadi akses dari Metro ke Tanjung Karang (Bandar Lampung).

Sistem Bawon

Daerah Sawah (sawah) terletak di daerah yang lebih rendah dekat pemukiman. Dan tanaman utamanya adalah padi. Hasil dari sawah cukup tinggi. Dan saat musim panen, hanya sedikit pekerja yang tersedia. Pada saat yang sama, hampir semua orang juga sibuk dengan tanaman mereka sendiri. Hal itu menyebabkan banyak padi yang tidak bisa dipanen. Bahkan, itu menjadi alasan untuk menarik orang-orang baru untuk datang. Pendatang baru menjadi buruh memanen padi. Kemudian program tersebut populer dengan sistem bawon. Bawon adalah gaji (padi) setelah pekerja memanen padi.

Permukiman pertama bagi para penjajah (bedeng/bedeng) adalah barak-barak kayu sederhana. Namun setelah pembukaan lahan berhasil, mereka membangun rumah sendiri. yang menarik adalah bagaimana para penjajah ini kemudian memanfaatkan halaman belakang mereka. Ada kesamaan di antara mereka, tentang bagaimana mereka memanfaatkan halaman belakang mereka. Mereka memanfaatkan dan mengoptimalkan pekarangan rumahnya untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Alasan Pemanfaatan Halaman Belakang

Setidaknya ada beberapa alasan bagaimana mereka memilih dan menanam tanaman di halaman belakang mereka. Pertama, adalah untuk makanan. Kita bisa menemukan beberapa tanaman pangan alternatif (tidak termasuk beras) di halaman belakang rumah mereka. Kedua adalah alasan medis.

Tradisi pengobatan Jawa menggunakan berbagai tanaman obat. Orang Jawa selalu menggunakan ramuan tradisional (Jamu) untuk menyembuhkan dan memelihara tubuh mereka. Dan ketiga, untuk tabungan masa depan, terkait dengan tempat tinggal dan kegunaan lainnya. Biasanya tanaman yang ditanam adalah tanaman berkayu. Dan Keempat, untuk ritual baik agama maupun tradisi.

Bambu, Pisang, dan kelapa Mudah ditemukan di Pemukiman

Bambu, pisang, dan kelapa selalu mudah ditemukan di pemukiman penjajah. Desain permukimannya juga unik. Jarak rumah dari jalan raya sekitar 5-10 meter. Pisang dan Kelapa ditanam secara acak di bagian kiri, kanan dan belakang halaman belakang. Setidaknya ada satu jenis pisang di pekarangan. Kelapa juga sedikit, hanya beberapa tanaman yang tumbuh di halaman belakang. Namun, bambu selalu menjadi tanaman pembatas di bagian belakang. Mereka menanam bambu di sepanjang perbatasan dengan tetangga di belakang mereka.

Desain halaman belakang yang serupa mudah ditemukan di semua pemukiman penjajah hingga tahun 1990-an. Namun sayangnya, saat ini, wilayah tersebut memiliki populasi yang lebih padat. Bambu sebagai pembatas tanah sedikit demi sedikit mulai hilang. Namun di beberapa pemukiman baru yang lebih muda, desainnya masih ada dan dilestarikan. Pisang dan kelapa di pekarangan, serta bambu sebagai pembatas masih bisa dijumpai di kawasan Batanghari. Di beberapa area di luar Landbouw-kolonisatie pertama, desain yang merepresentasikan pemanfaatan halaman belakang.

Tanaman Lainnya

Pemanfaatan pekarangan bagi masyarakat Jawa lebih banyak untuk menunjang kebutuhan primer dan persiapan menghadapi situasi sulit. Mereka memiliki pengalaman dalam beberapa kesempatan, dengan musim kemarau yang lebih panjang. air yang terbatas menyebabkan nasi sebagai makanan (paceklik) terbatas. Untuk mencegah keterbatasan pangan selama Paceklik, juga ditanam beberapa tanaman pangan sebagai alternatif seperti singkong (Manihot esculenta), ubi jalar (Ipomea batatas), dan Talas (Colocasia esculenta).

Beberapa tanaman sayuran juga ditanam di pekarangan rumah mereka dalam skala kecil. Terutama Lada (Capsicum annum), Tomat (Lycopersicum esculentum), Katuk (Saurpus androgini), Bayam (Amaranthus spp). Sementara di beberapa keluarga juga ditanam tanaman obat seperti Kencur (Kaemferia galanga), Jahe (Zingiber officinale), Kunyit (Curcuma longa).

Muryanto Paiman (Peminat Sejarah yang Lahir di Metro dan Sempat menempuh Studi di Belanda)

Artikel ini diterjemahkan dari Backyard utilization in the Landbouw-kolonisatie area in Metro-Lampung yang terbit di https://legionbotanica.com/

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Gertapaga, Upaya Pemkot Metro Wujudkan Ketahanan Pangan Di Tengah Ancaman Resesi

Gertapaga, Upaya Pemkot Metro Wujudkan Ketahanan Pangan Di Tengah Ancaman Resesi

| Kamis, 08 Desember 2022 | 19:51 WIB

Terkini

Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya

Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 00:11 WIB

Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka

Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 00:01 WIB

Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina

Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina

News | Senin, 01 Juni 2026 | 23:46 WIB

Kenduri Kurban di Pidie Jaya, Tradisi yang Sembuhkan Duka Penyintas Banjir

Kenduri Kurban di Pidie Jaya, Tradisi yang Sembuhkan Duka Penyintas Banjir

Lifestyle | Senin, 01 Juni 2026 | 23:38 WIB

Cushion Sudah Mahal tapi Tetap Abu-Abu? Mungkin Undertone Anda Salah

Cushion Sudah Mahal tapi Tetap Abu-Abu? Mungkin Undertone Anda Salah

Sumsel | Senin, 01 Juni 2026 | 23:37 WIB

7 Sepatu Lari Daily Trainer Paling Awet: Tetap Nyaman Meski Sudah Menempuh Ribuan Kilometer

7 Sepatu Lari Daily Trainer Paling Awet: Tetap Nyaman Meski Sudah Menempuh Ribuan Kilometer

Jakarta | Senin, 01 Juni 2026 | 23:14 WIB

Catat! Laga Timnas Putri Indonesia vs Singapura Digelar Tanpa Penonton di Arcamanik

Catat! Laga Timnas Putri Indonesia vs Singapura Digelar Tanpa Penonton di Arcamanik

Jabar | Senin, 01 Juni 2026 | 23:08 WIB

Dulu Rusak Akibat PETI, Sungai di Tebo Kini Jadi Tempat Anak Muda Menanam Kehidupan

Dulu Rusak Akibat PETI, Sungai di Tebo Kini Jadi Tempat Anak Muda Menanam Kehidupan

Sumsel | Senin, 01 Juni 2026 | 23:04 WIB

Bandung Terancam Jadi Lautan Sampah Pasca Libur Panjang

Bandung Terancam Jadi Lautan Sampah Pasca Libur Panjang

Jabar | Senin, 01 Juni 2026 | 23:01 WIB

Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo

Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo

News | Senin, 01 Juni 2026 | 22:56 WIB