Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi dengan kasus Sifilis tertinggi kedua di Indonesia setelah Papua. Jumlah kasus penyakit kelamin itu di Jabar pada 2022 mencapai 3.186 kasus, beda tipis dengan Papua di angka 3.864 kasus.
Kemenkes mencatat selama 2022, dilaporkan 20.783 terinfeksi sifilis di Indonesia. Mayoritas penderita adalah lelaki. Lebih khusus lagi, sifilis banyak ditemukan pada lelaki yang melakukan hubungan seks dengan lelaki (LSL).
Menanggapi tingginya kasus sifilis di Jawa Barat, Gubernur Ridwal Kamil pada pekan lalu mengatakan obat-obatan untuk penyakit menular seksual itu sudah didistribusikan ke puskesma-puskesmas.
"Obat sifilis sudah disalurkan ke puskesmas-puskesmas," kata Ridwan Kamil seperti dilansir dari Antara.
Pihaknya juga memastikan Pemprov Provinsi Jabar telah melakukan berbagai upaya untuk menekan sebaran kasus sifilis, seperti melakukan skrining terhadap populasi kunci dan ibu hamil hingga tingkat kecamatan.
Ia juga mengimbau masyarakat selalu menerapkan gaya hidup yang sehat, khususnya dalam berinteraksi yang menjadi jalan masuk penyakit sifilis.
"Yang terpenting kepada masyarakat hindari pola atau gaya hidup yang punya potensi terpapar kepada berbagai penyakit tidak hanya sifilis tapi penyakit-penyakit yang berhubungan dengan seksual dan lainnya harus diwaspadai," kata dia.
Sebelumnya pada Mei lalu Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi mengatakan berdasarkan profil, mayoritas pengidap sifilis adalah lelaki (54 persen) dan sisanya perempuan.
Pada kelompok usia berdasarkan data yang sama, diketahui bahwa tiga persen anak berusia di bawah empat tahun terkena sifilis, diikuti dengan usia 5-14 tahun 0,24 persen, 15-19 tahun enam persen, 20-24 tahun 23 persen, sedangkan bagi usia di bawah 50 tahun ada lima persen.
Baca Juga: Inara Rusli Ingin Carikan Virgoun Istri Baru, Takut Kena Penyakit Kelamin
Kasus paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 25-49 tahun mencapai 63 persen.
Imran melanjutkan terkait dengan kelompok populasinya, penderita sifilis paling banyak ditemukan pada laki-laki yang melakukan seks dengan laki-laki (LSL) sebesar 28 persen; diikuti ibu hamil 27 persen; pasangan berisiko tinggi (risti) sembilan persen; Wanita Pekerja Seks (WPS) sembilan persen; Pelanggan Pekerja Seks (PPS) empat persen; Injection Drug Users (IDUs) 0,15 persen; waria tiga persen dan lain-lain 20 persen.
Ia menjelaskan beberapa penyebab dari banyak kasus sifilis tersebut berhubungan erat dengan perilaku masyarakat yang gemar berhubungan seks secara berisiko tanpa menggunakan kondom.
Selain itu, terdapat kelompok tertentu yang sering berganti pasangan ketika seks, hingga pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis.