- Konflik geopolitik global menyebabkan gangguan rantai pasok yang memicu kenaikan biaya produksi obat di Indonesia.
- Menteri Kesehatan dan BPOM berkomitmen menjaga stabilitas harga serta ketersediaan obat melalui kolaborasi lintas sektor.
- Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia memastikan stok obat nasional masih aman untuk tiga bulan ke depan.
Suara.com - Di tengah memanasnya konflik geopolitik global, terutama ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel rantai pasok dunia ikut terguncang. Dampaknya terasa hingga ke sektor kesehatan, termasuk industri farmasi di Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Kenaikan harga energi global dan gangguan logistik internasional membuat biaya produksi obat ikut terdorong naik, memunculkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan dan harga obat di dalam negeri.
Menanggapi situasi ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan farmasi nasional melalui kolaborasi lintas sektor.
Dalam sambutannya pada acara Halalbihalal nasional yang diselenggarakan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, ia menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan obat tetap aman dan harganya terjangkau.
“Komitmen Kementerian Kesehatan untuk memastikan akses obat di Indonesia tetap terjaga ketersediaannya dan terjangkau harganya, dengan memberikan dukungan penuh bagi pembangunan dan penguatan usaha farmasi dalam negeri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi, termasuk mencari alternatif komponen obat seperti kemasan, guna mengurangi ketergantungan impor di tengah dinamika global.
Dari sisi regulator, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Taruna Ikrar menekankan bahwa stabilitas sektor farmasi tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi juga koordinasi erat dengan industri.
“Peran BPOM dalam menjaga ketersediaan obat sekaligus memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat, antara lain melalui penguatan pengawasan rantai pasok obat dan makanan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sebagian besar produsen farmasi nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik, serta memastikan komunikasi dengan pelaku industri terus dijaga untuk menjamin kualitas dan ketersediaan obat.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia F. Tirto Kusnadi menyampaikan optimisme terkait kondisi pasokan obat nasional.
“Kami sudah melakukan pendataan bahwa stok obat nasional masih sangat baik peredarannya di masyarakat sampai 3 bulan ke depan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa peran GP Farmasi sebagai jembatan antara regulator dan industri menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga obat. Lebih jauh, Tirto juga menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok domestik sebagai langkah strategis jangka panjang.
“Momentum kebersamaan ini menjadi sangat relevan untuk menyatukan langkah bersama dalam memperkuat ketahanan farmasi nasional, mengurangi ketergantungan impor bahan baku, serta mendorong daya saing global usaha farmasi Indonesia,” tambahnya.
Untuk itu, acara yang digelar di DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran ini menjadi momentum strategis memperkuat sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri.
Tema yang diangkat, “Merajut Kebersamaan untuk Usaha Farmasi yang Produktif, Efisien, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”, mencerminkan urgensi kolaborasi dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.