Data itu dikuatkan dengan adanya surat kabar zaman Belanda yang menyebutkan bahwa persiapan pembangunan rumah sakit tersebut dilaksanakan sejak tahun 1896.
Dulunya, lanjut Mahmud, lahan seluas 14 hektrare itu memang kosong yang memang dipersiapkan untuk kawasan garnisun di Kota Cimahi.
Saat itu hanya ada Stasiun Cimahi beserta rel kereta api. Keberadaan Stasiun Cimahi pun memang untuk menunjang akses tentara zaman dulu dengan rumah sakit.
"Jadi ketika orang Belanda mulai tinggal di sini mereka membutuhkan fasilits kesehatan. Ketika mereka pulang perang, ada yang luka dibawanya ke sini," jelas Mahmud.
Kemudian ditahun 1950-an, Rumah Sakit Dustira mulai mengalami perubahan. Rumah sakit itu mulai diperuntukan bagi pribumi sejak diserahkan seluruh asetnya dari Belanda kepada TNI. Menurut Mahmud, secara keseluruhan kondisi Rumah Sakit Dustira masih terjaga sejarahnya. Hal itu bisa terlihat dari bagian depan yang masih menonjolkan bangunan zaman Belanda.