Kuasa Hukum Terdakwa JIS: Keterangan Saksi Seperti Cerita Fiksi

Doddy Rosadi

Rabu, 07 Januari 2015 | 10:08 WIB
Kuasa Hukum Terdakwa JIS: Keterangan Saksi Seperti Cerita Fiksi
Dua guru TK Jakarta International School (JIS) yang menjadi terdakwa dugaan asusila Neil Bantleman (kanan) dan Ferdinan Michael Tjiong (kiri). [suara.com/Oke Atmaja]

Suara.com - Terdakwa kasus dugaan kekerasan seksual di Jakarta Intercultural School (JIS) mengaku bingung dengan semua keterangan saksi korban. Dalam sidang yang berlangsung hingga Selasa  (6/1/2015) malam, Ferdinant Tjong, salah satu guru JIS yang dijadikan terdakwa mengatakan, keterangan MAK sangat tidak masuk akal dan menjadikan dirinya sebagai korban tanpa didasari bukti.

"Semua keterangan saksi sangat membingungkan dan tidak ada fakta-fakta yang berhubungan dengan saya. Kasus ini benar-benar dipaksakan," jelas Ferdi singkat usai sidang di PN Jakarta Selatan, Selasa (6/1).

Dalam keterangannya melalui teleconference di persidangan, MAK, mantan siswa TK JIS, mengungkapkan, dalam menentukan nama Ferdinant Tjiong dan Neil Bentleman, MAK diarahkan oleh OA, ayah DA, yang juga diduga menjadi korban dalam kasus ini.

Dalam prosesnya, OA menunjukkan foto-foto guru yang ada dalam Year Book atau Buku Tahunan di JIS.‎
MAK juga menceritakan bahwa penunjukkan nama Ferdi dan Neil dilakukan di rumah OA. Saat itu hadir juga ibu MAK yaitu TPW yang kini tengah menggugat JIS secara perdata senilai hampir Rp 1,5 triliun.

Dalam keterangannya, MAK mengatakan Neil melakukan kekerasan asusila sambil berdiri dan saat itu juga ada beberapa petugas kebersihan di toilet. Pengakuan ini sangat janggal karena postur tubuh Neil sangat tinggi selayaknya postur orang Eropa. Sementara postur tubuh MAK yang masih anak-anak, jauh lebih pendek.

Hal ini membuat ceritanya menjadi sangat janggal dan tidak masuk logika.Selesai disakiti, MAK mengaku diantar ke kelas dan bermain lagi dengan temannya AL dan DA yang juga mengaku sebagai korban pelecehan seksual Neil Bantleman dan Ferdinant Tjong.

MAK menjelaskan setiap akan disakiti, pelaku menggunakan magic stone sehingga dirinya pingsan. Menurut MAK, magic stone tersebut diambil dari langit oleh pelaku dengan cara menggunakan pesawat terbang.

Kejanggalan lainnya adalah, MAK mengatakan, bila ingin ke toilet lagi, MAK mengaku diantar oleh Miss Marina. Hal ini karena MAK takut ke toilet lagi setelah disakiti. Padahal kenyataannya, Miss Marina merupakan guru MAK saat anak tersebut masih di playgroup, bukan di TK. Jadi bila benar, akan sangat memakan waktu menunggu Miss Marina yang saat itu sudah tidak menjadi guru MAK lagi dan mengajar di lain kelas, untuk mengantar anak tersebut ke toilet.

Dalam keterangan tertulis yang diterima suara.com, Rabu (7/1/2015), pengacara dua guru JIS, Henock Siahaan mengatakan, semua keterangan MAK seperti cerita fiksi dan celakanya hal itu dijadikan dasar untuk menetapkan dua guru tersebut sebagai terdakwa.

Henock mengatakan, "Hukum itu harus masuk logika dan rasional. Makanya ilmu hitam, sumpah pocong dan sejenisnya tidak termasuk dalam hukum. Akan tetapi sayangnya, semua cerita anak-anak yg dirasa sangat tidak masuk akal dijadikan landasan untuk tindak lanjut proses hukum, dan bahkan juga jelas terlihat dalam sidang."

Salah satu hasil persidangan yang juga sangat mendukung kejanggalan kasus ini, menurut Henock, adalah MAK tidak menunjukkan tanda takut atau trauma ketika melihat Neil dan Ferdi.‎

Sementara TPW yang merupakan ibu MAK dalam kesaksiannya mengakui di lubang pelepas anaknya tidak ada luka. Hal itu dipastikan setiap kali dia memandikan anak, MAK tidak pernah mengeluh ada rasa sakit di lubang pelepas.

Dalam sidang juga terungkap bahwa TPW membawa jadwal kegiatan sekolah MAK di bulan Maret 2014, termasuk kelas olahraga. Jadwal tersebut sesuai dengan foto MAK di tanggal 18 Maret 2014 milik pengacara yang menunjukkan MAK tetap bermain dengan ceria dan berolahraga normal seperti biasa di waktu tuduhan-tuduhan tersebut terjadi.

Foto tersebut juga menjadi salah satu bukti dalam sidang petugas kebersihan ISS. Sama seperti yang terungkap di kasus petugas kebersihan, TPW bersaksi bahwa dia terlibat dalam berbagai proses penyelidikan yang dilakukan oleh aparat hukum.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Hotman Paris: Ada Dua Kejanggalan dalam Sidang Kasus JIS

Hotman Paris: Ada Dua Kejanggalan dalam Sidang Kasus JIS

News | Rabu, 24 Desember 2014 | 14:54 WIB

KPAI: Putusan Hakim Sesuai Fakta, Sodomi di JIS Benar Terjadi

KPAI: Putusan Hakim Sesuai Fakta, Sodomi di JIS Benar Terjadi

News | Selasa, 23 Desember 2014 | 07:51 WIB

Ibunda Terpidana Sodomi JIS Sumpahi Jaksa dan Hakim

Ibunda Terpidana Sodomi JIS Sumpahi Jaksa dan Hakim

News | Senin, 22 Desember 2014 | 20:18 WIB

Jaksa Kasus Kekerasan Seks JIS Siap Layani Banding

Jaksa Kasus Kekerasan Seks JIS Siap Layani Banding

News | Senin, 22 Desember 2014 | 18:33 WIB

Terkini

3  Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:42 WIB

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:41 WIB

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat

Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:43 WIB

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:28 WIB

Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas

Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB

Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM

Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:18 WIB

Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT

Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:12 WIB