Kisah Germo Insaf: Ungkap Modus Baru Rekrut PSK

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 18 Maret 2015 | 06:11 WIB
Kisah Germo Insaf: Ungkap Modus Baru Rekrut PSK
Razia di salah satu tempat prostitusi. [Antara/Novrian Arbi]

Suara.com - Tidak semua pekerja seks komersial perempuan dikirim dari Indramayu. Namun informasi The Age mengatakan adanya stigma Indramayu sebagai sumber pengiriman PSK sejak 30 tahun lalu. Jalur pengirimannya pun sudah berkembang.

Sejak 30 tahun lalu perempuan belia usia 15 atau 16 tahun dikirimkan ke rumah pelacuran di seluruh Indonesia, terutama Jakarta. Jalur pengiriman itu terungkap di tahun 2007. Pemerintah Indonesia pun melarang penjualan anak di usia 18 tahun.

Namun ternyata masih banyak anak-anak yang 'diekspor'. Jalurnya bukan melewati germo, tapi antar teman atau orang dekat. Sehingga sulit dilacak.

Jalur itu diungkap oleh seorang mantan germo bernama Sukim. Sukim sekarang bekerja di Yayasan Kusuma Bongas, LSM yang memerangi perekrutan pekerja seks.

Kata Sukim, peran germo di awal karier PSK sudah berkurang. Sekarang justru teman dekatlah yang menjadi perantara calon PSK untuk menjadi PSK.

Si calon PSK akan diberikan pinjaman dan harus dicicil dengan bunga besar. Modus itu masih dijalankan oleh germo dan mami-mami di rumah pelacuran.

Sukim mengatakan peran orangtua begitu besar dalam praktik prostitusi dengan menjual anak gadis di Indramayu. Dalam bisnis itu, orangtua yang diuntungkan. Terlebih germo atau mami punya banyak uang untuk memanjakan si orangtua agar anak gadisnya bisa terus menjadi 'sapi perah seks'.

Siapa sosok mantan PSK yang sukses?

"Siapa orang yang paling sukses menjadi pekerja seks," kata Sunenti salah satu gadis di dekat Sukim. Dia mengatakan, menjadi PSK adalah nasib terburuk, kata Asiah mantan pekerja seks lainnya yang juga di dekat Sukim.

Saat menjadi pekerja seks di Jakarta, tidak mudah untuk menikmati uang hasil bekerja. Bahkan hanya sekadar berbelanja di mal atau supermarket.

"Tidak mudah untuk pergi keluar, bahkan pada hari libur atau untuk berbelanja. Karena penjaga keamanan selalu membuntuti. Mereka mengikuti untuk memastikan Anda tidak lari atau kabur ke kampung," kata Asiah.

Sukim menjelaskan kebanyakan orangtua yang menjual anak perempuannya untuk menjadi PSK karena alasan ekonomi. "Mana yang lebih baik?," tanya Sukim. Menjadi petani di sawah hanya mendapatkan uang Rp30 ribu perhari. Sementara menjadi buruh migran atau TKI harus berpikir panjang. Jauh dari negara dan rawan tindakan penganiayaan dan pemerkosaan oleh majikan.

Kata Sukim, pendidikan menjadi masalah di sana. Banyak anak putus sekolah setelah SD. Terlebih banyak gadis di usia 15 tahun menjadi pengangguran. (The Age)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jalankan Bisnis Syahwat di SMA, Dua Remaja Dibekuk

Jalankan Bisnis Syahwat di SMA, Dua Remaja Dibekuk

News | Kamis, 27 November 2014 | 09:59 WIB

62 Persen Lelaki di Eropa-Asia Sewa PSK

62 Persen Lelaki di Eropa-Asia Sewa PSK

News | Selasa, 18 November 2014 | 07:33 WIB

Mucikari Polandia Paksa Bubuhi Tato PSK Sebagai Tanda Kepemilikan

Mucikari Polandia Paksa Bubuhi Tato PSK Sebagai Tanda Kepemilikan

News | Kamis, 16 Oktober 2014 | 21:02 WIB

Muncikari Histeris saat Penutupan Lokalisasi di Jambi

Muncikari Histeris saat Penutupan Lokalisasi di Jambi

News | Senin, 13 Oktober 2014 | 23:22 WIB

Terkini

Beredar Video Nusron Wahid Ditangkap, KPK: Bukan Jemput Paksa

Beredar Video Nusron Wahid Ditangkap, KPK: Bukan Jemput Paksa

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:40 WIB

6 Tahun Berjuang, Korban KSP Indosurya Sedikit Bernafas Lega Usai Terima Pencairan Dana Pertama

6 Tahun Berjuang, Korban KSP Indosurya Sedikit Bernafas Lega Usai Terima Pencairan Dana Pertama

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:34 WIB

Infrastruktur Berkembang, Apa yang Perlu Dipertimbangkan Saat Memilih Lokasi Rumah?

Infrastruktur Berkembang, Apa yang Perlu Dipertimbangkan Saat Memilih Lokasi Rumah?

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:31 WIB

Tuntut Evaluasi Makan Bergizi Gratis dan Karhutla, Demo Mahasiswa di Tugu Kartasura Nyaris Ricuh

Tuntut Evaluasi Makan Bergizi Gratis dan Karhutla, Demo Mahasiswa di Tugu Kartasura Nyaris Ricuh

Surakarta | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:30 WIB

'Yang Penting Tanam Dulu': Strategi Rudy Susmanto Sukses Hijaukan 220 Hektare Lahan Bogor

'Yang Penting Tanam Dulu': Strategi Rudy Susmanto Sukses Hijaukan 220 Hektare Lahan Bogor

Bogor | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:24 WIB

Bioskop Lokal Jadi Pintu Masuk Inklusi Keuangan Digital, Kesenjangan Desa-Kota Masih Terlihat

Bioskop Lokal Jadi Pintu Masuk Inklusi Keuangan Digital, Kesenjangan Desa-Kota Masih Terlihat

Jawa Tengah | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:20 WIB

Ada Sampah Covid-19 di TPST Abu & Co, Akademisi Soroti Tingginya Potensi Pencemaran Sungai Cisadane

Ada Sampah Covid-19 di TPST Abu & Co, Akademisi Soroti Tingginya Potensi Pencemaran Sungai Cisadane

Banten | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:16 WIB

Cerita Penumpang KMP Batumandi Terbakar, Asap Tebal dan Ledakan Bikin Panik

Cerita Penumpang KMP Batumandi Terbakar, Asap Tebal dan Ledakan Bikin Panik

Banten | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:10 WIB

5 Cara Membuat Masker Bedak Marcks untuk Mengeringkan Jerawat

5 Cara Membuat Masker Bedak Marcks untuk Mengeringkan Jerawat

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:05 WIB

Rapor Merah 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran dari Mahasiswa Bogor

Rapor Merah 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran dari Mahasiswa Bogor

Bogor | Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:04 WIB

×