Keluarga WNI yang Tewas Tertembak di Malaysia Mengadu ke LBH

Arsito Hidayatullah | Suara.com

Jum'at, 21 Agustus 2015 | 01:21 WIB
Keluarga WNI yang Tewas Tertembak di Malaysia Mengadu ke LBH
Ilustrasi peluru. [Shutterstock]

Suara.com - Keluarga almarhum Siwis (32), salah satu dari tiga Warga Negara Indonesia asal Pesisir Selatan, yang mati ditembak Kepolisian di kawasan Batu Pahat, Johor Bahru, Malaysia, mendatangi Lembaga Bantuan Hukum Padang, pada Kamis.

Kedatangan dari pihak keluarga korban itu bermaksud untuk menceritakan beberapa kejanggalan yang dirasakan pihak keluarga, dan berharap mendapatkan kepastian hukum dalam penembakan itu.

"Kami datang ke LBH, karena ada beberapa kejanggalan. Dari sejumlah dokumen yang kami terima dari Malaysia, tidak ada penjelasan dan kronologis lengkap tentang perampokan yang dilakukan oleh keluarga kami itu, hingga akhirnya ditembak," jelas keluarga Is Sugiarto di Kantor LBH Padang, Padang, Kamis.

Kepada Antara, ia menceritakan secara urut versi keluarga sejak awal mendapatkan informasi mengenai penembakan WNI di Malaysia, hingga akhirnya jenazah Siwis (32), dikebumikan di kampung halaman Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

"Awalnya pada 26 Juni 2015, isteri almarhum yang tinggal di kampung mendapatkan informasi dari kerabat sekampung di Malaysia, bahwa ada penembakan WNI di Bukit Jelutung oleh kepolisian Malaysiam dan tidak memiliki dokumen. Sang isteri langsung mencoba menghubungi suaminya beberapa kali, namun handphone suaminya itu tidak aktif," katanya.

Setelah itu, katanya, sang isteri pun menelpon Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk memastikan informasi penembakan itu. Saat itu KBRI menjawab benar, dan meminta pihak keluarga datang ke negara Malaysia.

Menerima permintaan itu, lanjutnya, Is Sugiarto kemudian memutuskan berangkat ke KBRI Malaysia Pada 9 Juli 2015, dan bertemu dengan Kepolisian Malaysia pada 10 Juli 2015, didampingi staf KBRI.

"Saat bertemu itu kepolisian menceritakan bahwa terjadi kasus perampokan oleh WNI tiga orang. Dimana dua orang menggunakan senjata parang, dan satu orang senjata api berkekuatan angin di sebuah perumahan elit," jelasnya.

Pihak kepolisian, katanya, mengaku mendapat perlawanan dan dihadang, sehingga akhirnya melepaskan tembakan. Kemudian jasadnya dibawa ke kamar jenazah Hospital Tengku Ampuan Rahimah.

"Setelah itu baru diketahui ternyata salah seorang adalah Siwis keluarga saya, dan ada bekas tembakan di bagian dadanya. Saya ingin mengambil gambar saat itu, tapi tidak dibolehkan, dua jenazah lainnya saat ini masih di rumah sakit," kata Is Sugiarto.

Ia mengatakan, kegelisahan yang dirasakan pihak keluarga saat ini adalah tentang kronologis perampokan versi polisi tersebut. Karena tidak ada keterangan secara rinci dan tertulis, tentang perampokan yang dituduhkan kepada anggota keluarganya itu.

"Keterangan yang saya dapatkan hanya lisan, ketika saya bersama orang kedutaan bertemu dengan polisi di sana. Sedangkan dalam dokumen secara tertulis hanya menerangkan sekedar tewas di tempat, karena penembakan atas perbuatan perampokan," ujarnya.

Is Sugiarto berharap, dengan mendatangi LBH ia bisa mendapatkan kronologis tentang perampokan yang dituduhkan itu. Selain itu juga berharap Pemerintahan Republik Indonesia (RI) ikut mempertanyakan perihal kebenaran perampokan.

Saat ditanyai tentang proses pemulangan jenazah, ia mengatakan dilakukan sendiri dengan dana pribadi dari Malaysia, hingga ke Sumatera Barat. Hanya saja ia minta negara membantu pemulangan dua jenazah yang masih di Malaysia itu.

"Kedua yang lainnya itu asal Pesisir Selatan juga, tapi beda kecamatan. Saat ini masih di Malaysia, keluarga mengalami kesulitan pembiayaan," jelasnya.

Sedangkan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang Era Purnama Sari, mengatakan laporan itu telah diterima. Untuk selanjutnya pihak LBH akan melakukan koordinasi dengan mitra LBH mengenai perkara itu agar mendapatkan kejelasan.

"Pihak keluarga berhak tahu secara detail tentang kejahatan yang dituduhkan itu, karena telah menewaskan anggota keluarganya. Sekaligus juga perlu dicari tahu perihal penembakan tersebut, karena penggunaan senjata api tidak bisa asal menembak saja," jelasnya.

Selain itu jika melihat posisi tembakan ketiga orang itu, katanya, tembakan yang diberikan bukanlah bersifat peringatan atau melumpuhkan, tapi mematikan. Karena tembakan Siwis adalah di bagian dada, dua jenazah lainnya di bagian kening, dan punggung.

"Kami akan berusaha maksimal, sekaligus berharap pemerintah juga meminta kronologi resmi kejahatan yang dituduhkan, hingga berujung pada tewasnya warga negara," jelasnya. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Wartawan Sudan Selatan Ditembak Mati

Wartawan Sudan Selatan Ditembak Mati

News | Kamis, 20 Agustus 2015 | 18:58 WIB

Nilai Ringgit Malaysia Terendah Sejak 1998

Nilai Ringgit Malaysia Terendah Sejak 1998

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2015 | 15:33 WIB

Terkini

Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi

Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:42 WIB

Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!

Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:33 WIB

Teruskan Perjuangan Kakak, Menkes Beri Beasiswa Pendidikan Dokter untuk Adik Mendiang Myta Aprilia

Teruskan Perjuangan Kakak, Menkes Beri Beasiswa Pendidikan Dokter untuk Adik Mendiang Myta Aprilia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:30 WIB

UHN dan CISDI Gandeng Harvard Medical School, Bangun Pusat Riset Kesehatan Primer di RI

UHN dan CISDI Gandeng Harvard Medical School, Bangun Pusat Riset Kesehatan Primer di RI

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:26 WIB

Hanya Modal Gunting, Pemuda di Kalideres Gasak Honda Scoopy di Halaman Rumah

Hanya Modal Gunting, Pemuda di Kalideres Gasak Honda Scoopy di Halaman Rumah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:12 WIB

Eks Kasat Narkoba Polres Bima Digelandang ke Bareskrim, Terseret TPPU Koko Erwin

Eks Kasat Narkoba Polres Bima Digelandang ke Bareskrim, Terseret TPPU Koko Erwin

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:06 WIB

Sepakat Saling Memaafkan, Aksi Saling Lapor Waketum PSI Berujung Damai

Sepakat Saling Memaafkan, Aksi Saling Lapor Waketum PSI Berujung Damai

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:56 WIB

Wamendagri Ribka Haluk Tekankan Penguatan Peran MRP dalam Penyusunan RPP Perubahan Kedua PP 54/2004

Wamendagri Ribka Haluk Tekankan Penguatan Peran MRP dalam Penyusunan RPP Perubahan Kedua PP 54/2004

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:31 WIB

Bukan Sekadar Pameran E-Voting, Wamendagri Minta Fasilitas Simulasi Pemilu Jadi Pusat Kebijakan

Bukan Sekadar Pameran E-Voting, Wamendagri Minta Fasilitas Simulasi Pemilu Jadi Pusat Kebijakan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:28 WIB

Wajah Baru Jakarta Menuju 5 Abad: Koridor Rasuna Said Jadi Pusat Diplomasi dan Budaya

Wajah Baru Jakarta Menuju 5 Abad: Koridor Rasuna Said Jadi Pusat Diplomasi dan Budaya

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 19:08 WIB