Presiden Tidak Akan Minta Maaf ke Korban G30S 1965

Suwarjono

Senin, 28 September 2015 | 15:49 WIB
Presiden Tidak Akan Minta Maaf ke Korban G30S 1965
Aksi di forum Kamisan

Suara.com - Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa dirinya tidak berencana menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga simpatisan Partai Komunis Indonesia (partai terlarang) yang menjadi korban dalam G-30-S/PKI tahun 1965.

Jangankan rencana, katanya kepada Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, menanggapi isu yang beredar bahwa pemerintah akan minta maaf kepada keluarga simpatisan PKI yang menjadi korban dalam G-30-S, niat saja tidak pernah ada untuk melakukan permintaan maaf.

"Saya kira beliau (Presiden, red.) punya prinsip tentang hal itu," kata Abdul Mu'ti.

Ia lalu mengutip penegasan Presiden Jokowi, "Kalau kami (Pemerintah) meminta maaf, kami akan berhadapan dengan NU, Muhammadiyah, dan TNI." Dalam pertemuan di Istana Merdeka, PP Muhammadiyah sempat minta klarifikasi kepada presiden mengenai isu tersebut. Pada pertemuan itu menurut Abdul Mu'ti, Jokowi menyampaikan bahwa sama sekali tidak ada agenda tersebut. "Bahkan, terpikir pun tidak. Kalau ada isu bahwa pemerintah akan meminta maaf kepada PKI, sudah diklarifikasi," katanya.

Meskipun tidak ada penjelasan mengenai alasannya, yang pasti Muhammadiyah, NU, dan TNI mendukung sikap pemerintah itu.

Isu tersebut merebak setelah pemerintah mewacanakan rekonsiliasi terhadap korban atau keluarga korban sejumlah kasus pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM). Sampai saat ini, wacana rekonsiliasi itu masih belum difinalisasi.

Pemerintah memberi perhatian lebih pada kasus pelanggaran berat HAM, seperti kasus Talangsari, Wasior, Wamena, penembak misterius atau petrus, G-30-S/PKI, kerusuhan Mei 1998, dan penghilangan orang secara paksa.

Presiden Jokowi sebelumnya sudah membentuk tim rekonsiliasi untuk menyelesaikan sejumlah dugaan pelanggaran HAM, termasuk peristiwa G-30-S/PKI. Pembentukan tim itu untuk menyelesaikan permasalahan melalui jalur nonyudisial, salah satunya dengan menyampaikan permintaan maaf.

Selain peristiwa penumpasan PKI pada tahun 1965, masih ada sejumlah kasus pelanggaran HAM berat yang belum menemui titik terang, antara lain peristiwa Tanjung Priok 1984, peristiwa Lampung 1989, kasus orang hilang 1997--1998, kasus Trisakti 12 Mei 1998, kasus kerusuhan Mei 13--15 Mei 1998, serta kasus Semanggi 1 dan 2.

Namun, wacana mengenai permintaan maaf pemerintah terhadap keluarga eks PKI juga ditampik pihak Istana. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan bahwa hingga kini belum pernah ada pembahasan soal rencana permintaan maaf itu. Saat ini, Jokowi sedang sibuk mengurus masalah perekonomian.

"Yang jelas persoalan permintaan maaf dan sebagainya itu tidak pernah dibicarakan, baik dalam rapat-rapat di kabinet maupun ketika kami mendampingi Presiden. Sikap Presiden sudah disampaikan secara jelas bahwa konsentrasi beliau sekarang ini adalah menyelesaikan persoalan ekonomi yang sedang dihadapi bangsa," ujar Pramono Menurut Pramono, Jokowi saat ini sedang disibukkan dengan persoalan ekonomi global yang berpengaruh pada Indonesia dan langkah-langkah yang harus dilakukan. "Beliau lebih 'concern' pada persoalan deregulasi," kata politisi PDI Perjuangan itu.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia merasa pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia belum diselesaikan secara tuntas dan diharapkan Presiden Jokowi bisa mengambil peran lebih besar dalam penanganan masalah ini, apalagi politikus PDI Perjuangan itu pernah berkomitmen merampungkan kasus pelanggaran HAM pada kampanye pilpres.

"Kita harus mendukung presiden baru karena dia ingin menyelesaikan masalah HAM," kata Komisioner Komnas HAM Muhammad Nur Khaeron selepas pemutaran film "Senyap" di TIM awal September lalu.

Film "Senyap" merupakan dokumenter yang secara gamblang menceritakan para korban tragedi 65. Sang sutradara, Joshua Oppenheimer, berharap Jokowi serius mengatasi pelbagai pelanggaran HAM berat pada masa lalu. "Presiden baru pernah berkata dalam kampanyenya, ingin menyelesaikan masalah HAM," katanya.

Komnas HAM juga mengaku tidak lupa akan mengingatkan Jokowi untuk membahas isu-isu pelanggaran HAM, seperti kasus Talangsari, Tanjung Priok, dan pembunuhan aktivis pada tahun 1998.

"Pada tanggal 10 Desember 2015 akan ada lokakarya nasional. Kami berharap Presiden hadir, dan menyampaikan agenda pemerintah soal penyelesaian pelanggaran HAM pada masa lalu," kata Nur Khaeron.

Jadi Pelajaran Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa Pemerintah tidak perlu meminta maaf kepada keluarga korban pelanggaran HAM, khususnya keluarga eks anggota PKI.

Bagi Ryamizard, rekonsiliasi memang harus ditempuh. Kendati demikian, permintaan maaf secara khusus kepada keluarga anggota PKI dinilainya sebagai langkah yang tidak masuk akal. "Pakai logika saja, yang berontak siapa? Masa mereka yang berontak dan membunuh, kita yang malah minta maaf. Itu sama saja saya dipukulin atau digebukin, terus saya minta maaf," katanya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu meminta semua pihak melupakan masa lalu dan fokus membangun bangsa Indonesia agar makin maju. "Jangan terjebak pada masa lalu, lupakan sajalah. Cukup jadikan pelajaran. Yang menjajah wilayah-wilayah Indonesia juga enggak minta maaf. Ikhlaskan, kita fokus ke depan," katanya.

Ryamizard mengibaratkan rekonsiliasi antara negara dan keluarga mantan anggota PKI bagaikan sikap seorang anak terhadap orang tua. Meski orang tua melakukan kesalahan terhadap anak, tidak ada dendam dan memaafkan. Rasa itu muncul karena kecintaan anak terhadap orang tuanya.

"Jadi, keluarga PKI ini sayang tidak sama Indonesia? Tidak perlulah simpan dendam, harus berpikir jernih. Kalau dendam, enggak pernah maju-maju, bertambah kompleks masalah kita," kata Menhan.

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab berpendapat, "Andai kata Jokowi jadi meminta maaf kepada PKI, Jokowi sama saja menyalahkan TNI dan para ulama, termasuk menyalahkan NU dan Muhammadiyah." "Jika sampai itu terjadi, Jokowi sama saja membuka luka lama di hati umat Islam. Jangan coba-coba memberikan kesempatan kepada PKI dan simpatisannya untuk berkuasa. Jika sampai PKI berkuasa, umat Islam wajib menyiapkan diri untuk memenuhi panggilan jihad melawan PKI," tegas Habib.

Habib menengarai gerakan PKI saat ini sudah makin bangkit lagi sebagaimana peristiwa yang terjadi di Univesitas Jember belum lama ini. Beberapa mahasiswa perguruan tinggi tersebut menggambari tembok kampus dengan gambar palu arit yang merupakan simbol milik PKI.

Sementara itu, ormas Islam NU menyatakan menolak wacana permintaan maaf dari pemerintah, seperti disampaikan Wakil Ketua Umum NU Slamet Effendi Yusuf. "Saya berharap Presiden tidak melakukan itu, NU jelas tidak setuju dengan rencana itu, Presiden tidak bisa melihat peristiwa 65 dengan perspektif sekarang," katanya.

Apa yang terjadi pada tahun 1965, menurut Slamet, berada dalam konteks politik yang tidak bisa dilepaskan dari perilaku PKI sejak 1960 yang sangat konfrontatif dengan kekuatan politik lain, khususnya Islam.

Permintaan maaf secara resmi dari pemerintah dinilainya akan memberikan implikasi yang mengesankan kelompok nonkomunis bersalah dan ini merupakan pemutarbalikan sejarah. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

CIA Akhirnya Ungkap Dokumen Rahasia di Balik G30S 1965

CIA Akhirnya Ungkap Dokumen Rahasia di Balik G30S 1965

News | Minggu, 20 September 2015 | 12:29 WIB

Sejawaran Desak Negara Akui Pelanggaran HAM 1965

Sejawaran Desak Negara Akui Pelanggaran HAM 1965

News | Rabu, 16 September 2015 | 06:41 WIB

Film "Senyap" Akan Diputar Gratis di Padang

Film "Senyap" Akan Diputar Gratis di Padang

Entertainment | Senin, 22 Desember 2014 | 21:38 WIB

Terkini

Karyawan BRI Siap-Siap Panen Hadiah! Total Hadiah Menarik Menanti di Program Qita 2026

Karyawan BRI Siap-Siap Panen Hadiah! Total Hadiah Menarik Menanti di Program Qita 2026

Bri | Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:03 WIB

Review Rebecca: Misteri Psikologis Klasik dengan Plot Twist Mengejutkan

Review Rebecca: Misteri Psikologis Klasik dengan Plot Twist Mengejutkan

Your Say | Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:00 WIB

Liverpool Pertimbangkan Maghnes Akliouche sebagai Alternatif Lebih Murah untuk Bradley Barcola

Liverpool Pertimbangkan Maghnes Akliouche sebagai Alternatif Lebih Murah untuk Bradley Barcola

Bola | Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:00 WIB

Bedak Warna Natural Beige Sebenarnya Cocok untuk Jenis Kulit Apa Sih?

Bedak Warna Natural Beige Sebenarnya Cocok untuk Jenis Kulit Apa Sih?

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:58 WIB

Sunscreen Somethinc Holyshield untuk Kulit Apa? Intip Kelebihan dan Review Pembeli

Sunscreen Somethinc Holyshield untuk Kulit Apa? Intip Kelebihan dan Review Pembeli

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:49 WIB

Gaya Mewah Pelat Palsu: Sopir Alphard yang Cekcok dengan Satpam Kena Tilang

Gaya Mewah Pelat Palsu: Sopir Alphard yang Cekcok dengan Satpam Kena Tilang

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:31 WIB

Foundation Viva Mana yang Paling Tahan Lama? Ini Pilihan dengan Klaim Waterproof dan Long Lasting

Foundation Viva Mana yang Paling Tahan Lama? Ini Pilihan dengan Klaim Waterproof dan Long Lasting

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:30 WIB

Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan

Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan

Your Say | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:30 WIB

Kasus Debt Collector Kredivo di Purworejo Berakhir Damai, Perusahaan Perkuat Pengawasan Penagihan

Kasus Debt Collector Kredivo di Purworejo Berakhir Damai, Perusahaan Perkuat Pengawasan Penagihan

Bisnis | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:17 WIB

Viral Diskriminasi WNI di Bali, Imigrasi Larang 2 WNA Penyelenggara Event Lari Masuk Indonesia Lagi

Viral Diskriminasi WNI di Bali, Imigrasi Larang 2 WNA Penyelenggara Event Lari Masuk Indonesia Lagi

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:02 WIB

×